Teori-teori Ilmuwan Mengenai Keberadaan Alam Semesta Lain (Bagian 1)

Share:

Untuk memahami alam semesta dan segala mekanismenya, manusia mengembangkan teori-teori fisika. Teori fisika memberikan penjelasan berdasarkan rasio empiris yang dimiliki manusia. Pada dasarnya, teori fisika terdiri dari dua unsur, yaitu bagian formal dan bagian interpretif. 

Bagian formal mencakup struktur yang murni logika matematika. Struktur ini disebut pula model matematika. Manusia mengabstraksi alam menjadi seperangkat persamaan-persamaan, dan aturan logika untuk memanipulasi persamaan tersebut. Sebuah konsep yang ditarik dari alam dibentuk menjadi simbol dan direkayasa sesuai aturan berpikir jernih, sehingga diperoleh konsekuensi-konsekuensi. 

Bagian interpretif mencakup seperangkat asosiasi antara model matematika dengan pengalaman duniawi. Artinya, konsekuensi yang didapatkan dari aturan bernalar kemudian dikembalikan ke alam untuk diuji kebenarannya. Aturan ini berbentuk semantik yang mengkaitkan bahasa teori formal dengan bahasa hidup sehari-hari. 

Tulisan ini akan menunjukkan terdapat beberapa teori dalam fisika yang pada dasarnya dibangun bukan oleh pembuktian tersebut, namun berdasarkan keimanan. Lebih lanjut, juga ditunjukkan kalau setidaknya dalam kasus tafsir multisemesta, teori yang dipercaya secara dogmatis tersebut berhasil ditunjukkan, secara tidak langsung, berdasarkan perkembangan teknologi kemudian.

Lenyapnya Mitos dalam Sains

Mitos merupakan penjelasan sementara yang dianggap sebagai penjelasan pasti atas sesuatu. Sementara diartikan sebagai sebuah penjelasan yang tidak memiliki bukti. Apabila ada bukti, maka penjelasan sementara akan digantikan dengan penjelasan yang objektif dan bersifat permanen. 

Penjelasan tersebut mengangkat mitos menjadi faktual, jika mitos tersebut terbukti benar. Sebaliknya, ketika mitos tersebut terbukti salah, mitos baru muncul sampai ada mitos yang terbukti benar.

Mengatakan pelangi merupakan turunnya bidadari dari langit adalah mitos, karena setelah diperiksa, ternyata tidak ada bidadari di ujung pelangi. 

Mitos bidadari dan pelangi berangkat dari pengalaman penutur mitos, mungkin ia membayangkan para bidadari memiliki selendang aneka warna dan berada di langit, sehingga ketika pelangi terlihat menyentuh langit, diasosiasikan kalau bidadari turun dari langit dan selendangnya membekas menjadi aneka warna. 

Orang kemudian memunculkan mitos baru berdasarkan pengalamannya, katakanlah bahwa pelangi adalah hasil pembiasan cahaya. Mitos ini diuji dalam realitas kembali dan ternyata benar, pembiasan cahaya menghasilkan pelangi. Mitos tersebut menjadi sebuah fakta.

Sains dapat dipahami sebagai ilmu dan sebagai proses. Sebagai ilmu, teori yang belum terbukti benar atau salah merupakan bagian dari sains. Ia menjadi bagian penjelasan umum yang sementara atas sebuah fenomena alam. 

Sebagai proses, teori yang belum terbukti benar atau salah bukan merupakan bagian dari sains. Ia dapat dipahami sebagai mitos pula, hingga sains membuktikannya benar atau tidak. 

Karena sains pada intinya bukan lagi dipandang sebagai koleksi pengetahuan umum, namun dipandang sebagai semangat untuk menggunakan nalar (baik deduktif rasional maupun induktif empiris), maka teori di masa sekarang dapat disebut sebagai mitos, dalam artian teori yang belum terbukti kebenarannya.

Antara Realitas dan Teori sebagai Mitos

Sebuah teori memiliki seperangkat proposisi atau pernyataan yang membangun teori tersebut. Sebagai contoh, teori gerak Newton terdiri dari empat proposisi: tiga proposisi yang terkenal sebagai hukum gerak Newton, dan satu proposisi tentang hukum gravitasi. Keempat proposisi ini semua terbukti benar, dan menjadi pendukung kuat kebenaran teori gerak Newton sebagai teori yang ilmiah.

Dalam pandangan hubungan antara teori sebagai mitos dan realitas senyatanya, filsafat sains memiliki dua aliran besar, yaitu positivisme ekstrem dan positivisme moderat. Keduanya merupakan positivis karena menekankan pada nalar dan logika dalam mencari fakta dan untuk menerima teori.

Positivisme ekstrem atau positivisme garis keras memandang proposisi-proposisi yang menyusun sebuah teori, seluruhnya harus dianggap mitos dan dibuktikan kebenarannya. Dengan kata lain, sebuah teori yang ilmiah haruslah teori yang isomorfisme, yaitu memiliki korespondensi satu-satu dengan realitas. 

Positivisme moderat sebaliknya, cukup beberapa proposisi saja dalam sebuah teori yang perlu dibuktikan dan proposisi lainnya cukup diimani saja sebagai bagian yang tak dapat lepas dari perangkat teori yang telah terbukti sebagian kebenarannya tersebut. 

Teori ilmiah dalam perspektif positivisme moderat cukup bersifat homomorfisme, yaitu sebagian saja yang berkorespondensi dengan realitas. Dalam wacana positivisme moderat, sains akan penuh dengan teori-teori tidak sempurna dalam pandangan positivisme garis keras. 

Sementara itu, bagi positivisme moderat, desakan agar seluruh proposisi sebuah teori sains dibuktikan akan memiskinkan sains, karena beberapa teori yang telah dipandang ampuh walaupun masih terjelaskan parsial, akan diusir keluar dari sains.

Wacana Teori Segalanya

Bagi penganut positivisme garis keras, teori segalanya adalah sebuah utopia. Teori segalanya adalah teori yang dimaksudkan untuk menjelaskan segalanya. Hal ini adalah konsekuensi logis dari penyempurnaan teori terus menerus. 

Sebagai contoh, katakanlah suatu teori mengandung 3 proposisi, dan ketiga proposisi ini telah menjadi kepastian, maka teori ini menjadi kokoh. Ketika ada fenomena baru yang tak dapat dijelaskan teori ini, maka dibangun teori baru yang menyempurnakan dengan menambahkan, katakanlah satu proposisi, sehingga menjadi teori dengan 4 proposisi. 

Hal ini terus berlanjut sehingga sebuah teori baru muncul dari teori-teori lama dengan menambahkan proposisi-proposisinya. Anggap alam semesta dapat dijelaskan oleh sebuah teori dengan 40 proposisi, maka suatu saat akumulasi dari proposisi-proposisi teori pada akhirnya akan mencapai kesempurnaan dengan 40 proposisi ini, dan tercapailah akhir dari sains. 

Dikatakan sebagai akhir dari sains karena telah tidak ada lagi proses penemuan induktif empiris. Yang tersisa adalah penemuan deduktif yang tidak lagi mampu diartikan sebagai penemuan, karena pada dasarnya hanya menarik dari satu teori utama, yaitu teori segalanya.

Masalahnya sekarang adalah kita tidak tahu berapa banyak proposisi yang dapat dimiliki oleh sebuah teori segalanya. Ilmuwan di abad ke-19 misalnya, percaya kalau teori Newton adalah teori segalanya dengan keempat proposisinya. Karena ia dianggap sebagai teori segalanya, maka ialah realitas yang sesungguhnya, dalam artian aturan matematis yang tersemantikkan dalam dunia pengalaman manusia. 

Tetapi setelah Einstein menemukan teori relativitas, teori Newton menjadi tidak selengkap relativitas Einstein. Kekuasaan teori relativitas pun tak lama ketika teori mekanika kuantum dirumuskan. Akibatnya, teori segalanya harus mencakup proposisi-proposisi yang mewadahi teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum sekaligus.

Kemudian, bagaimana jika teori segalanya memiliki 6 juta proposisi di dalamnya, apakah ini berarti teori tersebut tidak akan pernah dicapai manusia kapan pun? Dan jika tercapai, akankah teori tersebut terpahami oleh manusia? Bagaimana bentuk semantiknya?

Aliran positivisme moderat memandang teori segalanya mungkin tak akan pernah tercapai secara mutlak, karena beberapa bagian dari teori tersebut akan berada di luar pengalaman manusia. 

Tak mungkin dapat lagi beberapa proposisinya diuji secara empiris, karena untuk itu dibutuhkan pengetahuan menyeluruh mengenai alam semesta. Tidak ada cara untuk memverifikasi kalau suatu teori segalanya sepenuhnya benar, semata karena totalitas seluruh pengalaman tidak akan pernah terakses oleh kita.

Baca lanjutannya: Teori-teori Ilmuwan Mengenai Keberadaan Alam Semesta Lain (Bagian 2)