Temuan Prasasti Kuno dan Misteri Keberadaan Manusia Laut

Share:

Ada banyak hal di masa lalu yang telah terkubur puing-puing sejarah begitu dalam, sehingga sulit ditemukan. Akibatnya, orang-orang pada masa kini pun kehilangan pengetahuan mengenai hal itu. 

Untung, di antara banyak hal di masa lalu yang telah terkubur sedemikian dalam di lautan sejarah, setidaknya ada berbagai penemuan dari masa kuno yang kemudian memberi pengetahuan pada orang-orang masa kini, tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu.

Keberadaan Atlantis, misalnya, diperoleh karena adanya “rekaman” dari masa lalu yang sampai ke orang-orang di masa kini. Meski keberadaan Atlantis sampai sekarang masih simpang siur, namun setidaknya orang-orang masa kini bisa membayangkan bahwa di masa lalu, bisa jadi ada kota yang benar-benar mengagumkan bernama Atlantis. 

Selain Atlantis, ada banyak pengetahuan lain tentang zaman kuno, yang kini juga diketahui orang modern, karena adanya rekaman, baik dalam bentuk dokumen kuno, prasasti, patung, ukiran, dan lain-lain. Salah satu yang baru ditemukan adalah prasasti kuno, yang mengungkap keberadaan Manusia Laut.

Sebuah prasasti kuno berumur sekitar 3.200 tahun yang menceritakan tentang Manusia Laut berhasil diterjemahkan oleh para arkeolog. Prasasti Manusia Laut, yang sering dikaitkan dengan sepak terjang para prajurit Troya, ditulis di sebuah batu setinggi kurang lebih 29 meter. 

Prasasti tersebut ditulis dengan bahasa kuno, Luwian, yang kini mungkin hanya bisa dibaca oleh 20 ahli bahasa, termasuk Freud Woudhuizen yang turut menerjemahkan prasasti Mira.

Woudhuizen dan rekannya, Eberhard Zangger, berencana mempublikasikan penemuan prasasti tersebut pada bulan Desember, di saat peluncuran jurnal berjudul Proceeding of The Dutch Archeological and Historical Society.

Apabila prasasti tersebut otentik, maka hal tersebut akan mengakhiri perdebatan antara arkeolog tentang misteri Manusia Laut yang meluluhlantakan kota-kota di kawasan Timur Tengah. Tampaknya, para ahli meyakini bahwa Kerajaan Mira merupakan salah satu dari pasukan Manusia Laut tersebut.

Perang Troya

Tertulis di prasasti tersebut, Raja Kupantakuruntas menjadi penguasa di Kerajaan Mira. Lokasi Kerajaan Mira pada masa sekarang adalah di sekitar wilayah Turki bagian barat.

Menurut prasasti tersebut, Kerajaan Mira menguasai Troya dan para prajuritnya. Lalu, muncul penjelasan tentang salah satu pangeran dari Troya bernama Muksus. Muksus adalah seorang pangeran yang berhasil menaklukan Ashkelon, yang pada saat ini terletak di Israel, dan membangun benteng.

Di prasasti tersebut juga dijelaskan secara detail bagaimana perjalanan Raja Kupantakuruntas hingga bisa menduduki tahta kerajaan Mira. Ayahnya, Raja Mashuittas, mengambil alih Kerajaan Troya dari tangan Raja Troya bernama Walmus. Namun, Raja Mashuittas ternyata memilih untuk 'mengembalikan' mahkota Walmus untuk ditukar dengan 'kesetiaan' terhadap Kerajaan Mira.

Kupantakurantas naik tahta setelah ayahnya, Raja Mashuittas, meninggal dunia. Namun, Raja baru kerajaan Mira pun memilih untuk menguasai Troya. Hal tersebut dijelaskan dalam prasasti bahwa Kupantakurantas menggambarkan dirinya sebagai: "penjaga Troya yang meminta raja masa depan negeri Troya untuk melindungi Wilusa (sebutan kuno untuk Troya)”.

Tiruan dari sebuah duplikat

Prasasti asli sebenarnya sudah dihancurkan pada abad 19, tetapi rekaman prasasti termasuk kopiannya bisa ditemukan di kediaman James Mellaart, seorang arkeolog terkenal yang sudah menemukan sejumlah situs kuno semasa hidupnya.

Dari catatan Melaart, diketahui bahwa prasasti tersebut telah ditiru pada tahun 1878 oleh seorang arkeolog bernama Goerges Perrot di Turki. Setelah itu, masyarakat desa menggunakan batu prasasti tersebut untuk membangun sebuah masjid.

Beberapa waktu kemudian, pihak pemerintah Turki melakukan pencarian lokasi desa tersebut dan menemukan tiga prasasti dari lempeng tembaga yang kini telah hilang. Ketiganya belum pernah diberitakan ke publik.

Sementara itu, seorang arkeolog bernama Bahadir Alkim menemukan kembali gambaran dari Perrot dan membuat kopiannya, dan kopiannya tersebut diduplikasi kembali oleh Mellart menjadi dokumen yang kini telah dipecahkan oleh tim Woudhuizen.

Apakah Prasasti tersebut benar ada?

Live Science berbicara dengan sejumlah arkeolog lainnya yang tidak berkaitan dengan penelitian tersebut. Mereka mengungkapkan kekhawatiran bila prasasti tersebut adalah kepalsuan baru. Pasalnya, sejauh ini belum ada catatan lain, selain milik Mellart, yang bisa menjadi bukti keberadaan prasasti tersebut.

Zangger dan Woudhuizen menimpali pernyataan tersebut dengan menjelaskan bahwa sangat sulit, atau bahkan tidak mungkin bagi Mellaart atau orang lain, untuk menciptakan prasasti palsu. Sebab, prasasti ini sangat panjang, dan Mellaart tidak dapat membaca bahasa Luwian atau menulisnya.

Mereka juga menggarisbawahi bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menerjemahkan Luwian hingga tahun 1950-an. Ini berarti Perrot juga tidak memalsukannya.

Meskipun demikian, Zangger berkata bahwa sampai rekaman dari prasasti yang asli ditemukan di kediaman Mellaart, dia pun tidak dapat memastikan apakah itu palsu atau asli.