Sosok Nabi Muhamad SAW di Mata Para Tokoh Dunia (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sosok Nabi Muhamad SAW di Mata Para Tokoh Dunia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Thomas Carlyle
(Dalam Heroes and Heroworship)

[Betapa menakjubkan] seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban, hanya dalam waktu kurang dari dua decade. 

Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia.

Edward Gibbon dan Simon Ackley
(Dalam Speaking on the Profession of Islam)

“Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya” adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama.

Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu, dan hanya satu Tuhan, serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai hamba dan pesuruh Tuhan, dan demikianlah juga setiap tindakannya.

Sarojini Naidu
(Dalam Ideals of Islam, Speeches & Writings, Madras, 1918, p. 169)

Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika azan dikumandangkan dan jemaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui: Allah Maha Besar… 

Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.

Profesor Snouck Hurgronje

Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas fondasi yang universal, yang menerangi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa. 

Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup, dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai.

Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan. 

Dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh (Rasul) yang dipilih Tuhan.

Diwan Chand Sharma
(Dalam The Prophets of The East, Calcutta, 1935, pp. 12)

Muhammad adalah sosok penuh kebaikan, pengaruhnya dirasakan dan tak pernah dilupakan orang-orang terdekatnya.  

James A. Michener,
(Dalam Islam: The Misunderstood Religion, in Reader’s Digest [American edition], May 1955, pp. 68-70)

Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 Masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil, dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. 

Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua, Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.

Seperti halnya para Nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi-sembunyi dan ragu-ragu, karena menyadari kelemahannya. Tapi “Baca” (Iqra’) adalah perintah yang diperolehnya, dan meskipun sampai saat ini diyakini bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: “Tiada tuhan selain Allah.” 

Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan umatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata:

“Gerhana adalah kejadian alam biasa. Adalah suatu kebodohan mengaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia."

Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar) menepis keinginan itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa: 

“Jika ada di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Tuhan yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya. (Ayat terkait: Q.S. Al Imran, 144)

W. Montgomery Watt,
(Dalam Mohammad At Mecca, Oxford, 1953, p. 52)

Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa, semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad.

Annie Besant
(Dalam The Life and Teaching of Muhammad, Madras , 1932, p. 4)

Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasakan selain hormat terhadapnya, salah satu utusan-Nya. 

Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya merasakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut.

Bosworth Smith
(Dalam Mohammad and Mohammadanism,London , 1874, p. 92)

Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dialah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammadlah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrumen atau penyokongnya.

John William Draper, M.D., L.L.D.
(Dalam A History of the Intellectual Development of Europe, London 1875, Vol.1, pp.329-330)

Empat tahun setelah kematian Justinian, pada 569 AD, telah lahir di Mekkah Arabia seorang manusia yang sangat besar pengaruhnya terhadap ummat manusia.

John Austin
(Dalam Muhammad the Prophet of Allah, Cassel 's Weekly for 24th September 1927)

Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.