Penjelasan Ilmuwan tentang Hoax, dan Bagaimana Kebohongan Dipercaya Banyak Orang



Hoax dan kebohongan, sebagaimana berita-berita lain umumnya, tidak muncul begitu saja. Kabar atau cerita bohong sengaja disusun dengan berbagai tujuan, dan diupayakan seperti berita yang dapat dipercaya, namun sebenarnya bohong belaka. Karenanya, upaya mewaspadai hoax adalah dengan mengkritisinya, untuk menemukan jejak-jejak kebohongan yang mungkin ada di dalamnya.

Sejarah Barat menjelaskan asal usul hoaks sejak abad ke-17. Namun, seorang begawan sejarah Islam asal Tunisia rupanya telah membahas hal yang sama ratusan tahun sebelumnya. Yaitu Ibnu Khaldun.

Lahir pada tahun 1332, Ibnu Khaldun menjelaskan hoaks sebagai salah satu bagian sejarah dengan sebutan “falsehood” atau kebohongan, lewat buku tebal yang disebut Prolegonema—yang kita kenal dengan sebutan “Muqaddimah”.

Muqaddimah ia selesaikan dalam waktu lebih dari tiga tahun, sebagian besar saat ia berada di negeri yang kini menjadi Aljazair. Tujuannya membuat Muqaddimah waktu itu adalah untuk menjadi bab pembuka dalam seri buku sejarah dunia, yang ia beri judul Kitab al-?Ibar wa-Diwan al-Mubtada' wa-l-Khabar fi Ta'rikh al-Arab wa-l-Barbar wa-Man ?A?arahum min Dhawi ash-Sha'n al-Akbar. 

Meski begitu, berbagai ilmuwan menganggap Prolegonema telah pantas dianggap sebagai karya individual sendiri yang punya konten mumpuni.

Pada Muqaddimah, Ibnu Khaldun membahas berbagai hal, dari filosofi sejarah, sosiologi, ekonomi, hingga politik, dan sejarah kemiliteran. Namun satu hal yang tak bisa diabaikan begitu saja, dari segala yang bisa ia katakan sebagai pengantar buku tersebut, Ibnu Khaldun membahas soal “kebohongan”, “ketidakbenaran”, yang kini juga mewajah di kehidupan modern sebagai apa yang disebut hoaks. 

Dalam pembukaan di buku Muqaddimah tersebut, Ibnu Khaldun menjelaskan “kebohongan” dan pentingnya manusia menemukan jalan untuk menghadapinya, agar tak terlalu jauh memengaruhi kebenaran historical information atau fakta sejarah. 

Ibnu Khaldun menganggap “untruth”, “falsehood”, atau kebohongan adalah hal yang tak bisa dihindari dalam perkembangan zaman. Ia secara alami memengaruhi derajat kebenaran sebuah informasi sejarah. Baginya, ini disebabkan karena tujuh hal. 

Yang pertama adalah keberpihakan seseorang terhadap sebuah opini dan juga mazhab. 

“Apabila jiwa seseorang tak memihak ketika menerima sebuah informasi, ia akan menerima informasi tersebut dan menyambutnya dengan investigasi kritis yang pantas dikenakan padanya. Maka dari itu, benar tidaknya suatu hal menjadi jelas baginya,” tulis Ibnu Khaldun. 

Ia mempermasalahkan jiwa-jiwa yang sudah ‘terinfeksi’ keberpihakan terhadap kubu-kubu pendapat dan mazhab-mazhab. Ini, menurutnya, akan mendorong orang-orang menerima informasi tanpa keraguan bahwa informasi tersebut adalah benar. 

Prasangka dan keberpihakan mengaburkan penglihatan kritis atas suatu hal. Baginya, hasilnya menjadi berbahaya, di mana “kebohongan” akan mudah diterima dan diteruskan pada yang lain.

Yang kedua adalah derajat keandalan penyampai atau pemberi informasi. Menurut Ibnu Khaldun, kritik personal kemudian menjadi penting untuk menentukan apakah sumber informasi yang kita dengar terpercaya atau tidak.

Yang ketiga adalah ketidaktahuan kita soal latar belakang sebuah kejadian. Penyampai informasi kadang tak mengerti bagaimana latar belakang sebuah kejadian; Ibnu Khaldun melihat bahwa pemberi informasi hanya mendeskripsikan apa yang terjadi tanpa tahu makna signifikan dari hasil observasinya tersebut. Baginya, ini hanya akan membawa informasi tersebut ke arah ketidaktepatan informasi.

Yang keempat adalah asumsi bahwa informasi yang didapat pastilah benar. Ini hampir mirip dengan poin kedua, yaitu ketergantungan kita pada sebuah pemasok informasi.  

Yang kelima adalah ketidakpedulian kita terhadap kesesuaian suatu kejadian dengan distorsi realitas. Bagi Ibnu Khaldun, kondisi suatu hal selalu terpengaruh oleh ambiguitas dan distorsi kenyataan. Informan hanya melaporkan kondisi seperti apa yang ia lihat, sementara sejauh mana penglihatannya benar atau salah tak pernah ia sadari derajatnya. 

Yang keenam adalah fakta bahwa orang-orang memandang orang-orang berstatus dengan kacamata yang tak murni lagi. Terlebih bahwa ia sendiri terus mencari ketenaran dan puji-pujian. Ini membuat apa yang mereka sampaikan tak netral lagi karena kemungkinan melebih-lebihkan agar mendapatkan pujian.

Yang terakhir, dan yang menurut Ibnu Khaldun paling penting, adalah ketidakjelian kita bahwa hal-hal terjadi dalam latar belakang dan kondisi peradaban yang berbeda, yang membuat suatu hal unik dibanding yang terjadi sebelumnya, semirip apapun itu.

Ibnu Khaldun kemudian mencontohkannya dengan cerita Al Masudi, dalam buku Muruj adh-dhahab yang juga soal sejarah Arab, yang salah satu bagiannya menceritakan sepenggal cerita Raja Aleksander Agung. Dalam cerita tersebut, Aleksander yang hendak membangun Alexandria (Iskandariyah) dihalang-halangi oleh monster laut di pesisir selatan Mesir. 

Dalam cerita itu, Aleksander kemudian membuat sebuah kotak kaca besar, dan melarung kotak kaca tersebut dengan ia berada di dalamnya. Di dasar lautan, ia kemudian menggambar monster-monster laut tadi. Setelah kembali ke permukaan, ia membangun patung-patung besi yang menyerupai makhluk laut yang sebelumnya ia gambar, dan diletakkannya patung-patung besar tadi di tempat bangunan Alexandria tengah dibangun. 

Saat monster-monster laut tadi muncul, mereka ketakutan melihat patung-patung raksasa berbentuk monster dan akhirnya kabur. Maka dari itu, Aleksander berhasil merampungkan Alexandria. 

Ibnu Khaldun memprotes keras cerita Al Masudi ini. Terlebih pada orang-orang yang membaca dan mempercayai cerita itu. Baginya, orang tak harus percaya begitu saja pada cerita itu, apabila mau sedikit mengkritisi cerita meskipun berasal dari sebuah buku sejarah yang, waktu itu, diakui. 

Ibnu Khaldun menjelaskan, seseorang seharusnya paham bahwa seorang raja macam Aleksander Agung tak mungkin menyelam sendiri. Apabila betul pun, ia akan menyuruh seseorang. Menurut Ibnu Khaldun, ketiadaan raja di tempatnya malah akan membuat revolusi pecah. Alih-alih menunggu sang raja balik dari misi berbahaya, sudah akan ada perebutan kekuasaan saat ia tak ada di tempat. Termasuk bagaimana monster laut takut pada patung-patung semata, dan sebagainya. 

Menurutnya, detail cerita-cerita tersebut, apabila dipikirkan lebih lanjut, akan memunculkan kecurigaan-kecurigaan di benak pembaca. Keraguan-keraguan kecil terhadap apapun yang didengar oleh seseorang, menurut Ibnu Khaldun, menjadi hal yang mutlak diperlukan agar seseorang tak menjadi korban kabar-kabar hoaks, apalagi sampai turut menyebarkannya.