Mitos-mitos Seputar Tidur dan Penjelasan Ilmiahnya (Bagian 2)

Share:

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mitos-mitos Seputar Tidur dan Penjelasan Ilmiahnya - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sejumlah penelitian justru menemukan kenyataan sebaliknya. Bahwa orang yang tidur lebih dari 8 jam semalam justru lebih banyak yang meninggal dalam usia muda, daripada mereka yang tidur kurang dari 8 jam. Orang yang kebanyakan tidur biasanya disebabkan beberapa gangguan kesehatan, sleep apnea, depresi, hingga diabetes yang tak terkendali. 

Bangun tengah malam menyebabkan Anda lemas seharian

Sebagian orang memang kadang mengalami hal itu. Karena tidur yang terganggu, mereka pun terbangun di tengah malam. Akibatnya, kualitas dan durasi tidur mereka pun berkurang, dan itu menyebabkan rasa letih atau bahkan lemas di siang hari. Namun tidak pasti selalu begitu.

Ada sebagian orang yang secara alami biasa bangun tengah malam, dan mereka baik-baik saja. Biasanya, mereka bangun tengah malam karena memang menginginkannya, sehingga dapat mengelola waktu tidur dengan lebih baik. Hasilnya, meski biasa bangun di tengah malam, mereka juga dapat menjalani aktivitas seharian tanpa masalah.

Jika menderita insomnia setiap malam, Anda butuh obat

Sebenarnya, obat tidur ditujukan untuk gangguan tidur sementara atau jangka pendek, yang disebabkan stres seperti dipecat dari pekerjaan, atau melakukan penerbangan  trans atlantik yang menimbulkan jet lag. Dengan kata lain, obat tidur sebenarnya tidak dimaksudkan untuk orang yang mengalami masalah tidak bisa tidur setiap hari.

Orang yang mengalami gangguan tidur jangka panjang, hingga menderita insomnia setiap malam, biasanya ditangani melalui cognitive behavioral therapy. 

Terapi itu dilakukan dengan cara melatih kembali persepsi tentang tidur, dan belajar membiasakan tidur yang baik seperti masuk ke kamar tidur pada jam yang sama setiap malam, menghindari  tayangan televisi dan komputer sebelum tidur, tidak minum kafein setidaknya enam jam sebelum tidur, dan perubahan gaya hidup lainnya. 

Anda bisa membayar kekurangan tidur pada akhir pekan

Di hari-hari kerja, banyak orang yang kadang sampai mengurangi waktu tidur akibat banyak tugas, pekerjaan, atau hal-hal lain yang perlu dilakukan. Ada kalanya pula tidur berkurang karena harus mengerjakan tugas lembur. Biasanya, mereka berpikir akan “membayar” kekurangan tidur yang telah dialami selama seminggu itu pada akhir pekan, ketika hari libur. 

Robert Stickgold, Ph.D., seorang pakar tidur dari Harvard University, menyebut hal semacam itu dengan istilah “sleep bulimia”. 

Membayar kekurangan tidur pada akhir pekan—dalam arti lebih banyak tidur dan bermalas-malasan pada hari libur—tampak tidak bermasalah, toh Anda tidak harus bangun pagi untuk berangkat kerja. Tapi hal itu dapat mengejutkan ritme biologis Anda, dan membuat Anda lebih sulit untuk mencapai tidur yang menyegarkan.

Tidur hingga siang pada hari libur biasanya juga akan membuat Anda sulit tidur pada malam harinya. Akibatnya, alih-alih membayar kekurangan tidur pada waktu-waktu sebelumnya, Anda justru sedang menciptakan siklus tanpa tidur untuk sepekan ke depan. Donna Arand, Ph.D., juru bicara American Academy of Sleep Medicine, menyatakan, “Tubuh kita mencintai konsistensi.” 

Karenanya, yang terbaik adalah bangun tidur pada jam yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan sekalipun.