Mitos-mitos Seputar Tidur dan Penjelasan Ilmiahnya (Bagian 1)

Share:

Tidak jauh beda dengan hal lain, urusan tidur pun memiliki mitos. Karena mitos, maka kebenarannya pun perlu diragukan. 

Yang menjadi masalah, banyak orang yang mempercayai mitos—dalam hal ini mitos tidur—sebagai kebenaran, dan melakukan tepat seperti yang dinyatakan oleh mitos. Kemungkinan besar mereka tidak menyadari bahwa itu mitos, sehingga menelan informasi itu mentah-mentah.

Berikut ini beberapa mitos sepuar tidur yang banyak dipercaya bahkan dilakukan sebagian orang. Melalui pemaparan berikut ini, Anda bisa melihat bahwa mitos tidak selalu benar, dan Anda bisa lebih berhati-hati saat ingin melakukannya.

Tidur yang kurang dari 1 jam per hari tidak mempengaruhi aktivitas 

Kedengarannya tidak masalah—Anda bisa kurang tidur 1 jam setiap malam, dan Anda tidak perlu terlalu merisaukan, toh hanya kurang 1 jam. Kenyatannya, meski tiap malam tidur Anda berkurang 1 jam, Anda juga tampak baik-baik saja, dapat bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Tapi apakah benar seperti itu?

Kurangnya waktu tidur, bagaimana pun, akan mempengaruhi kemampuan Anda untuk berpikir jernih dan merespons dengan cepat. Dalam hal aktivitas, Anda mungkin tidak terlalu melihat atau merasakan perbedaannya, meski Anda kini kurang tidur 1 jam. 

Tetapi, lama-lama, Anda akan menyadari ada yang berubah pada diri Anda. Selain itu, yang perlu diingat, kurang tidur bisa mengganggu kesehatan jantung, keseimbangan energi, dan kemampuan untuk melawan infeksi penyakit.

Tubuh bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tidur

Tidur yang baik adalah tidur yang teratur dalam jumlah cukup. Namun, ada kalanya kita harus menghadapi suatu situasi yang menyebabkan kita tidak bisa tidur dalam waktu cukup, dan hanya tidur 1-2 jam saja. Kadang pula, situasi semacam itu harus kita alami beberapa hari. Yang menjadi masalah, ada sebagian orang yang percaya bahwa tubuh akan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tersebut. Padahal kenyataannya tidak.

Jika kita hanya sedikit tidur, tubuh pun akan mengalami penurunan dalam kemampuan fisik maupun psikis. Karena itulah, setelah keadaan memungkinkan, kita seperti dipaksa untuk tidur dalam waktu lebih lama, dan biasanya memang itu yang kemudian kita lakukan. 

Yang perlu diperhatikan di sini, hal semacam itu tidak bisa dibiasakan, karena tubuh kita sebenarnya tidak akan beradaptasi dengan perubahan semacam itu. Lebih dari itu, tidur yang baik tetap tidur yang teratur, yaitu tidur pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat.

Tidur malam lebih lama bisa menghilangkan kelelahan di siang hari

Karena aktivitas atau pekerjaan yang cukup berat pada siang hari, tidak jarang kita berpikir untuk tidur lebih lama pada malam hari, dengan harapan bisa menghilangkan lelah yang kita rasakan. Padahal, kita tidak hanya membutuhkan waktu tidur yang cukup, tapi juga kualitas yang baik. Dengan kata lain, tidur yang mampu mengembalikan kesegaran tubuh tidak bisa dihitung dari lamanya semata, melainkan juga harus diperhatikan kualitasnya.

Beberapa orang bisa tidur lebih dari 8 jam setiap malam, namun mereka tidak merasa cukup beristirahat ketika bangun. Tubuh masih terasa lelah, seolah kelelahan kemarin belum juga hilang meski tubuh telah beristirahat. Hal itu disebabkan karena kualitas tidur yang rendah.

Jika bisa mendapatkannya, tidur lebih banyak akan lebih sehat

Orang-orang yang masih bersekolah, kuliah, atau harus berangkat kerja, kemungkinan besar akan selalu bangun pagi, karena harus sekolah, kuliah, atau bekerja. Namun, ada orang-orang yang tidak punya kewajiban semacam itu, sehingga berpikir bisa tidur lebih lama. Biasanya, mereka percaya bahwa tidur lebih banyak juga akan lebih baik bagi kesehatan. Padahal, faktanya tidak begitu.

Baca lanjutannya: Mitos-mitos Seputar Tidur dan Penjelasan Ilmiahnya (Bagian 2)