Misteri Penemuan Manuskrip Terlarang dari Zaman Kuno: Isinya Mencengangkan


Ada banyak hal yang kita tahu dan kita percaya pada zaman ini merupakan warisan pengetahuan dari masa lalu. Pengetahuan-pengetahuan dari masa lalu itu umumnya diwariskan dari generasi ke generasi. Atau, bisa pula, suatu pengetahuan tentang zaman kuno ditemukan di sebuah manuskrip yang ditemukan arkeolog.

Yang menarik, ada banyak manuskrip dari zaman kuno yang kemudian memberi banyak wawasan baru kepada manusia zaman ini, tentang beberapa hal yang terjadi di masa lalu. Sebagian mungkin biasa saja, namun sebagian lain cukup mengejutkan. Seperti sebuah mansukrip kuno yang ditemukan baru-baru ini. 

Manuskrip kuno yang ditemukan tersebut berbahasa Yunani, dan dianggap sesat, karena menceritakan ajaran rahasia Yesus kepada saudaranya, Yakobus. Kenyataan itu terungkap setelah melewati penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan.

Penelitian mendalam dilakukan oleh dua ilmuwan Universitas Texas, Geoffrey Smith dan Brent Landau. Mereka menjelaskan bahwa penemuan tersebut seharusnya bisa menambah koleksi beberapa tulisan kuno berbahasa Yunani yang ada di Perpustakaan Nag Hammadi.

"Terlalu meremehkan untuk bilang bahwa kami merasa sangat senang ketika menyadari apa yang kami temukan. Kami tidak pernah menyangka akan menemukan potongan Yunani dari Wahyu Pertama Yakobus," kata Smith, asisten profesor studi agama, seperti dikutip dari Sciencedaily.

Surat kuno yang berasal dari abad kelima atau keenam tersebut menggambarkan ajaran rahasia Yesus kepada Yakobus, termasuk informasi tentang alam surgawi dan kejadian di masa depan, seperti kematian Yakobus yang tak terelakkan.

"Teks tersebut melengkapi catatan alkitabiah tentang kehidupan dan pelayanan Yesus, dan mengizinkan kita mengetahui percakapan yang diduga terjadi antara Yesus dan Yakobus. Percakapan tentang ajaran rahasia yang menjadikan Yakobus menjadi guru yang baik setelah kematian Yesus," ujar Smith.

Dengan isi semacam itu, Smith dan Landau menyadari bahwa tulisan yang mereka temukan bertentangan dengan batas kanonik yang ditetapkan oleh Athanasius, Uskup Aleksandria. Dalam Surat Paskah tahun 367, uskup tersebut mendefinisikan 27 kitab Perjanjian Baru yang tidak dapat ditambah atau dikurangi.

Mereka juga menduga bahwa kopian tersebut dibuat dalam konteks belajar dan mengajar, misalnya untuk membantu murid belajar membaca dan menulis.

Pasalnya, tulisan dibuat dengan huruf yang rapi dan seragam, serta dapat dipisahkan menjadi suku kata. Ciri ini tidak umum ditemukan dalam manuskrip kuno, kecuali yang digunakan dalam konteks edukasi.

Guru yang menghasilkan tulisan seperti itu pasti memiliki tujuan tertentu untuk teks tersebut, kata Landau. Surat itu tidak hanya sepenggal, tetapi salinan lengkap dari tulisan kuno yang terlarang.

Kedua ilmuwan tersebut sudah membawa temuan tersebut ke Society of Biblical Literature Annual Meeting di Boston pada bulan November 2017, dan sedang bekerja untuk mempublikasikan temuan awal mereka dalam rangkaian Memoir berbahasa Yunani Romawi dari Papirus Oxyrhynchus.