Menguak Legenda Yeti, Makhluk Misterius Penghuni Himalaya


Selama berpuluh-puluh tahun, Himalaya memiliki legenda yang dikenal di seluruh dunia, menyangkut sesosok makhluk aneh dan misterius, yang disebut Yeti. Berdasarkan legenda tersebut, Yeti adalah sesosok makhluk aneh bertubuh tinggi besar, berbulu lebat atau panjang, dan memiliki penampilan mirip kera besar.

Selama berpuluh-puluh tahun pula, banyak orang—dari para awam sampai ilmuwan dan peneliti—yang berusaha mencari tahu keberadaan makhluk aneh misterius itu. Berbagai ekspedisi dan penelitian pernah dilakukan, namun hasilnya tak pernah mampu menemukan Yeti. Baru-baru ini, juga ada penelitian lain, yang justru menegaskan bahwa makhluk yang disebut Yeti sebenarnya tidak pernah ada.

Asal usul Yeti

Tahun 1832, sebuah jurnal menerbitkan laporan seorang penjelajah Inggris tentang sesosok makhluk yang penuh bulu panjang dan gelap, yang dilihatnya di Himalaya. Lalu legenda pun berkembang tentang makhluk misterius yang kemudian dijuluki Yeti.

Kini para ilmuwan memastikan bahwa mereka telah membuktikan, sekali dan untuk selamanya, bahwa Yeti, makhluk yang menyerupai kera di Himalaya itu, tidak pernah ada.

Jadi jika Anda merencanakan perjalanan ke Nepal dan berupaya untuk menemukan makhluk salju yang mengerikan itu, Anda mungkin harus mengkaji ulang rencana liburan Anda.

Banyak orang mengira Yeti adalah makhluk primata dari jaman prasejarah, yang mendiami belantara salju Himalaya di benua Asia. Namun sebuah kajian baru menyimpulkan bahwa semua bukti fisik menunjukkan Yeti berasal dari jenis hewan beruang.

Profesor Denmark, Dr Charlotte Lindqvist, adalah pakar yang bertanggung jawab dalam menyudahi mitos berabad-abad yang diwariskan dari generasi ke generasi di Nepal. "Temuan kami mengukuhkan bahwa dasar-dasar biologis legenda Yeti dapat ditemukan dalam beruang-beruang setempat," kata Charlotte, dari University of Buffalo, New York.

Charlotte dan timnya melihat sembilan sampel bukti Yeti yang bersejarah, yang dikumpulkan oleh seorang kru yang membuat film tentang makhluk itu. Beberapa kalangan meyakini masih ada makhluk primata langka yang belum ditemukan di pegunungan Himalaya.

Tapi sayangnya (untuk para pembuat film) tes DNA membuktikan bahwa yang mereka temukan adalah sisa-sisa jasad beruang tua yang mati, yang membuat penampakan Yeti selama lebih dari satu abad ini jadi meragukan.

Orang-orang Inggris waktu itu melihat makhluk yang menyerupai kera berkeliaran di hamparan salju. Para pakar mengungkapkan semua bukti yang ditemukan dalam sosok Yeti merujuk pada spesies beruang.

Catatan resmi pertama tentang sesuatu yang luar biasa mengemuka pada tahun 1832, ketika Journal of the Asiatic Society of Bengal menerbitkan sebuah laporan dari seorang penjelajah Inggris, yaitu B. H. Hodgson. Ia mengatakan melihat makhluk yang penuh bulu panjang dan gelap yang menurutnya adalah orangutan.

Jika demikian, maka orangutan berada di tempat yang jauhnya lebih dari 6.000 kilometer dari tempat asalnya di Sumatera, dan mungkin kedinginan serta kebingungan.

Pada tahun 1925, fotografer N. A. Tombazi mencatat pengalamannya melihat Yeti, yang disebutkan sebagai sesosok makhluk tinggi dan telanjang, yang menarik-narik tanaman rhododendron di ketinggian 4.500 meter.

Sesaat sebelum dimulainya Perang Dunia Kedua, kaum Nazi tertarik untuk meneliti sosok Yeti, dan mengirim sebuah ekspedisi ke Nepal untuk menyelidikinya. Dan pada waktu itu pun, lebih dari 100 tahun yang lalu, penjelajah Ernst Schäfer bahkan menyimpulkan bahwa Yeti hanyalah seekor beruang.

Surat kabar Daily Mail Inggris mengirim ekspedisi ke Nepal pada tahun 1953. Mereka mencetak sebuah artikel setahun kemudian tentang penemuan kulit kepala Yeti. Tapi ketika melihat laporan mereka, Profesor Frederic Wood Jones menyimpulkan bahwa itu bukanlah kulit kepala, bukan pula berasal dari jenis kera.

Reinhold Messner mengatakan bahwa ia menjumpai sosok Yeti, namun itu hanya jenis beruang langka (yang dia bunuh).

Pada tahun 1986, pendaki gunung asal Italia, Reinhold Messner, mengklaim bahwa makhluk misterius itu adalah spesies beruang yang terancam punah - entah itu beruang coklat Himalaya atau beruang biru Tibet - yang bisa berjalan dengan kaki belakang mereka.

Ia mengatakan telah membunuh seekor 'Yeti' saat menjumpainya di Nepal, yang berarti salah satu dari spesies ini terancam punah lebih dalam lagi setelah berurusan dengan Reinhold.

Para penjelajah dan penggemar Yeti terus bergiat sampai saat ini, namun secara tidak mengejutkan, mereka tidak menemukan apa pun sama sekali. Meski begitu, temuan baru ini pun tidak mencegah orang-orang yang fanatik, dan menganggap sosok Yeti yang sesungguhnya masih ada di luar sana.

"Saya pikir masih ada kemungkinan bahwa ada spesies primata atau yang lebih canggih dari primnata yang belum dikenal, yang masih harus diselidiki keberadaannya di Asia Tengah," kata Jonathan Downes, direktur Center for Fortean Zoology, kepada Guardian.