Mengenali Tanda-tanda Awal Kamu Kena Burnout, dan Cara Mengatasinya

Share:

Dalam dunia kerja, burnout diartikan sebagai keadaan stres kronis yang menyebabkan kelelahan fisik, pesimisme dan isolasi diri, serta penurunan produktivitas kerja. Orang yang mengalami burnout kerap mengabaikan fakta bahwa mereka mungkin bekerja dengan jam kerja sangat panjang, mengambil beban kerja berat, atau mendapat tekanan besar untuk selalu menjadi paling unggul di antara yang lain.

Perbedaan stres dan burnout adalah tentang derajat, sehingga makin dini kamu mengenali tandanya, maka kamu akan tahu bagaimana mengatasi gejala burnout. Untuk itu, berikut beberapa tanda kamu mungkin terkena burnout dan cara mengatasinya. 

1. Mengalami kelelahan fisik dan emosional

Dilansir Psychology Today, Dr. Sherrie Bourg Carter, Psy.D., memaparkan beberapa tanda burnout yang dapat kamu kenali. Gejala yang paling kentara berkaitan dengan masalah fisik dan emosional.

Gejala fisik dapat terlihat seperti sakit kepala atau fatigue, insomnia atau gangguan tidur lain, sulit konsentrasi, gejala fisik lain seperti nyeri dada, sesak napas, nyeri gastrointestinal, pusing, dan pingsan. Sementara pada kelelahan emosional, kamu mungkin akan menjadi lebih pemarah dari biasanya, lebih rentan mengalami depresi, dan kecemasan.

2. Menunjukkan sinisme

Tanda berikutnya adalah saat kamu mengalami sinisme, yang terlihat dari beberapa kasus seperti kehilangan minat, isolasi diri, hingga perasaan terputus hubungan dengan orang lain atau dari lingkungan. 

Dalam pemaparannya, Carter menyebutkan bahwa kehilangan minat bisa berarti hilangnya kesenangan seperti tidak ingin pergi bekerja. Contoh lain diperlihatkan ketika seseorang selalu menghindari proyek atau mencari cara keluar dari pekerjaan. 

Selain itu, pesimisme atau kebiasaan berbicara negatif tentang diri bahkan bisa meluas ke masalah kepercayaan dengan rekan kerja dan anggota keluarga. Bila kamu mengalami ini, kamu mungkin ada dalam fase pemikiran bahwa tidak ada lagi orang lain yang dapat kamu andalkan. 

3. Kurangnya pencapaian

Rasa apatis dan putus asa yang mirip dengan depresi ini hadir sebagai perwujudan dari cara pandang bahwa tidak ada hal yang berjalan dengan benar. Setelah itu, kamu barangkali akan berada dalam fase mempertanyakan, 'apa gunanya aku melakukan ini?' atau 'apakah hal ini penting untuk aku lakukan?'.

Lebih lanjut lagi, Carter memberikan tanda lain seperti peningkatan iritabilitas, yang mana berasal dari perasaan tidak efektif, dan tidak berguna. Ketika kamu telah sampai pada batas kesabaran, kamu mungkin akan menghancurkan hubungan dan karier karena kurangnya produktivitas dan kinerja yang buruk.

4. Cara mengatasi gejala burnout

Hal pertama dapat kamu lakukan setelah menyadari bahwa kamu barangkali sedang terkena gejala burnout adalah mencari dukungan dari orang yang kamu percaya seperti keluarga, pasangan, teman, atau orang-orang yang mungkin bisa diajak bertukar pikiran dan solusi. 

Membuka diri terhadap orang tentang kesusahan yang kamu hadapi memang butuh keberanian. Akan tetapi, kamu justru akan lebih kesulitan ketika harus berjuang sendiri.

Dikutip dari Healthline, ada beberapa cara untuk mengatasi burnout. Yang di antaranya adalah sebagai berikut:

Mengambil kembali kendali. Kamu bisa dapatkan kekuatan itu dengan mengisi ulang energi melalui kiat-kiat menentukan prioritas, meninggalkan pekerjaan di tempat kerja, dan bersikap tegas tentang kebutuhan kamu. 

Tetapkan batas. Menetapkan batas waktu akan membantu kamu dalam mengelola stres dan memulihkan diri dari kelelahan. Selain itu, kamu dapat menanyakan terhadap diri terlebih dahulu apakah kamu benar-benar punya waktu dan energi untuk melakukan satu pekerjaan tertentu.

Perhatikan kebutuhan kamu. Dalam dunia yang ideal, mencapai titik kelelahan yang terlihat dengan sakit fisik menunjukkan bahwa kamu membutuhkan cuti untuk istirahat dan relaksasi. Namun, kebanyakan orang tidak bisa melakukan itu karena banyaknya tagihan keuangan atau mungkin prospek lain. 

Untuk itu, kamu bisa mulai dengan hal-hal kecil seperti menyediakan waktu tidur nyenyak, meluangkan waktu bersama orang terkasih, melakukan aktivitas fisik seperti olahraga, makan dan minum bergizi, dan melakukan praktik meditasi atau yoga. 

Ingat kembali apa saja yang membuat kamu senang. Kamu dapat membuat daftar hal yang membuatmu bahagia, seperti jalan-jalan di akhir pekan atau melakukan hobi kamu.

Berbicara dengan ahli atau profesional. Terapis profesional akan membantu kamu mengidentifikasi penyebab, eksplorasi metode penanganan stres, dan navigasi untuk menghadapi tantangan hidup.

5. Memahami ketika kamu merasa cukup dalam melakukan sesuatu

Dilansir Forbes, salah satu langkah dalam menangani burnout adalah memahami batas ketika kamu merasa cukup dalam melakukan pekerjaan tertentu. Kamu bisa mulai inisiasi bersama manajer SDM tentang manfaat layanan kesehatan mental, pelatihan manajemen stres, atau setidaknya meningkatkan komunikasi dan menciptakan lingkungan kerja yang baik dan positif. 

David Ballard, PsyD yang tergabung dalam American Psychological Association  (APA) menuturkan, "Saya pikir ada saat ketika tidak peduli apa yang kamu coba lakukan, organisasi tidak mampu atau tidak mau membuat perubahan itu. Dan, dalam kasus itu, inilah saatnya kamu berpindah," terangnya. 

Well being dalam dunia kerja berarti juga menyeimbangkan dengan aspek lain dalam hal personal dan hubungan sosial. Kamu selalu punya kesempatan untuk mendiskusikan ini pada profesional, yang tentunya akan membantu dan memberi arah kamu dalam mengambil keputusan.