Mengenal Point Nemo, Kuburan untuk Sampah dari Ruang Angkasa

Share:

Dalam upaya mempelajari dan memahami hal-hal di luar angkasa, para ilmuwan pun kerap mengirimkan satelit ke luar orbit bumi. Beberapa waktu kemudian, ketika satelit-satelit itu mulai kedaluwarsa dan tidak bisa lagi digunakan, sebagian akan melayang-layang di ruang antariksa. Namun, sebagian lagi akan kembali ke bumi, dan dikenal sebagai sampah antariksa.

Ketika sampah dari luar angkasa itu kembali ke bumi, para ilmuwan pun membutuhkan tempat khususnya untuk membuang atau mengubur sampah-sampah tersebut. Yang menjadi masalah, tidak setiap tempat di bumi bisa digunakan untuk mengubur sampah-sampah dari antariksa. Salah satu kendalanya adalah ukuran sampah itu yang sangat besar.

Dalam hal itu, badan antariksa Amerika, NASA, memiliki "pemakaman antariksa" di Bumi. Tempat mereka mengubur satelit yang sudah selesai digunakan, yang berlokasi di daerah terpencil Samudra Pasifik.

Lokasi tersebut dinamakan "Point Nemo", atau bahasa Latin untuk makna "tidak ada orang". Lokasi ini dikenal sebagai "Kutub Kelautan yang Tidak Terakses", dengan jarak ke pulau terdekat lebih dari 2.250 km.

Kuburan tersebut kini telah mengumpulkan setidaknya 260 bangkai—kebanyakan milik Rusia—sejak pertama kali digunakan pada tahun 1971, menurut Popular Science. Jumlah tersebut, menurut Gizmodo, telah meningkat secara signifikan dari total 161 buah pada 2015.

Lokasi kuburan itu berada di area Pasifik Selatan antara Australia, Selandia Baru, dan Amerika Selatan. Tepatnya, pada koordinat 48 derajat 52,6 menit lintang selatan dan 123 derajat 23,6 menit bujur barat.

Karena arus samudra, kawasan ini tidak dijamah untuk kegiatan seperti mencari ikan. Langkanya sumber makanan membuat hampir tak ada kehidupan laut di kawasan tersebut.

Badan antariksa akan mengatur waktu wahana mereka agar dapat dikendalikan saat masuk ke Bumi dan terhempas di lokasi Point Nemo.

Contoh wahana ruang angkasa yang telah dikubur di sana mencakup roket SpaceX, beberapa kapal kargo luar angkasa Eropa, lebih dari 140 kapal selam Rusia, dan stasiun antariksa MIR era Soviet. Semuanya terkubur dalam rupa yang tidak utuh lagi.

"Benda tidak akan mendarat pada satu titik karena terdegradasi di atmosfer, mereka tidak akan pernah masih utuh saat jatuh di satu tempat, bahkan wilayah penyebarannya bisa berjarak hingga seribu mil," kata Dr Holger Krag, kepala Space Debris Office ESA, kepada MailOnline.

"Kami tidak tahu persis di mana mereka jatuh karena proses tersebut merupakan jalan yang panjang, dan mungkin hanya ada sepuluh fragmen bertahan saat proses masuk kembali (re-entry) ke Bumi, lalu tersebar ratusan mil."

Dalam opini yang ditulisnya, penulis dan astronom yang berbasis di Hampshire, Amerika Serikat, Dr David Whitehouse, menyatakan bahwa keterpencilan lokasi ini membantu badan antariksa untuk menghindari kecelakaan yang membahayakan manusia.

"Satelit yang lebih kecil akan terbakar, tapi bagian-bagian yang lebih besar akan bertahan untuk mencapai permukaan bumi," tulis Whitehouse, seperti dilansir dari BBC. "Untuk menghindari kecelakaan di daerah berpenduduk, mereka diturunkan dekat titik yang tidak terakses."

Pada bulan Mei 2017, para periset memperingatkan bahwa jumlah puing-puing ruang angkasa yang bergerak cepat dapat menyebabkan tabrakan dengan satelit yang masih berfungsi. Hal itu akan merugikan dari segi ekonomi.

Ada sekitar 170 juta keping sampah ruang angkasa yang tertinggal di orbit setelah misi-misi yang pernah dilaksanakan. Dari angka tersebut, hanya 22.000 kepingan yang terlacak.

Fragmen yang mampu melaju dengan kecepatan di atas 27.000 km, bahkan potongan kecil pun dapat mengancam untuk merusak atau menghancurkan satelit yang ada.

Para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa sampah ruang angkasa ini bisa menghalangi peluncuran roket masa depan. 

"Masalah sampah ruang angkasa semakin memburuk setiap tahun," kata Ben Greene, Head of Australia Space Environment Research Center kepada AFP saat konferensi di Canberra, Australia. "Kami kehilangan tiga atau empat satelit satu tahun ini, akibat tabrakan puing-puing di ruang angkasa... perkiraan NASA, dalam waktu lima sampai 10 tahun kami akan kehilangan segalanya."

Para ilmuwan telah memperingatkan peluncuran ribuan satelit komunikasi dapat menyebabkan peningkatan tabrakan dan penumpukan sampah ruang angkasa di orbit Bumi.

Semakin murahnya satelit mendorong pengorbitan ratusan atau ribuan wahana tersebut mulai tahun depan, menambah jumlah satelit aktif dan masih digunakan, yang saat ini sudah mencapai 1.300 buah.

Dr Hugh Lewis, dosen senior di bidang teknik kedirgantaraan di University of Southampton, Inggris, memperingatkan, simulasi komputer yang memperkirakan jumlah dan posisi satelit hingga 200 tahun mendatang telah menunjukkan bertambahnya jumlah satelit akan memperbesar potensi terjadinya tabrakan hingga 50 persen.

Dia mengatakan, ini akan meningkatkan jumlah sampah di orbit yang mengarah pada kemungkinan tabrakan lebih lanjut, dan selanjutnya berdampak pada layanan yang diberikan oleh satelit.