Mengenal Aneurisma Aorta, Penyakit yang Tidak Populer tapi Berbahaya


Aneurisma aorta adalah penggelembungan pada dinding pembuluh arteri utama. Aneurisma juga bisa terjadi pada pembuluh darah di bagian otak. Ryu Hasan, seorang dokter bedah syaraf, mengatakan pengidap aneurisma harus ekstra waspada karena sewaktu-waktu bisa pecah. Kalau sampai pecah, yang bersangkutan bisa tidak sadar, dan meninggal dunia karena pendarahannya tidak terkontrol.

Menurut Rachel Bell selaku dokter bedah vaskuler di Rumah Sakit St Thomas, London, diameter pembuluh aorta orang dewasa mencapai 1,5 cm hingga 2 cm.

"Aneurisma biasanya berkembang perlahan, sekitar 1 mm hingga 2 mm per tahun. Begitu pembuluh aorta mencapai ukuran tertentu, risiko pecah terlalu tinggi dan operasi diperlukan untuk memperbaikinya. Aneurisma biasanya dikategorikan besar ketika diameter pembuluh mencapai 5,5 cm," terang Bell, sebagaimana dikutip Yayasan Jantung Inggris.

Sebanyak tiga-perempat dari seluruh kasus aneurisma terjadi di bagian perut. Data menunjukkan aneurisma aorta menyebabkan 5.000 kematian di Inggris setiap tahun.

Penyebab aneurisma aorta

Dokter Ryu Hasan mengatakan penyebab aneurisma aorta adalah faktor keturunan. "Sejak lahir ada kelemahan pada beberapa bagian dinding pembuluh darah. Karena lemah jadi menggelembung," ujarnya.

Namun, menurut Rachel Bell, ada pula faktor yang meningkatkan risiko terjadinya aneurisma, seperti merokok. "Anda bisa mengurangi risiko, walau risiko karena genetika tidak bisa diubah," ujarnya.

Gejala aneurisma aorta

Dalam sebagian besar kasus, tiada gejala aneurisma sehingga harus dilakukan tes ultrasound untuk menelisiknya. Namun, jika aneurisma semakin besar, perasaan tidak nyaman kian bertambah di perut.

Sebelum aneurisma membesar, diperlukan pemantauan secara rutin sehingga dapat dideteksi sejak dini.