Mengapa Gempa di Suatu Tempat Bisa Terasa di Tempat Lain? Ini Penjelasannya


Ketika gempa bumi terjadi di suatu daerah, dampak getarannya bisa dirasakan di daerah lain yang jaraknya sangat jauh. Pada titik gempa (daerah utama yang mengalami gempa), mungkin gempa yang terjadi tergolong besar. 

Sementara efek getaran dari gempa itu tergolong kecil saat dirasakan orang-orang di tempat lain. Namun, ada kalanya pula gempa yang terjadi sebenarnya kecil, tapi daerah lain yang jaraknya jauh bisa ikut merasakan getarannya.

Pada 15 Desember 2017 silam, misalnya, sebagian daerah di Pulau Jawa mengalami kenyataan semacam itu. Gempa terjadi di Tasikmalaya, tepatnya 74 kilometer barat daya Kawalu, dan guncangan gempa itu sebesar 6.9 magnitudo. Di daerah tempat gempa terjadi, getarannya tergolong kecil. Namun, guncangan yang diakibatkannya bisa terasa di berbagai daerah, meliputi Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta, dan lain-lain. 

Hal itu pun menyebabkan banyak orang bertanya-tanya, mengapa guncangan gempa yang terjadi di daerah Tasikmalaya bisa dirasakan di sebagian besar wilayah Pulau Jawa? 

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Daryono, memberikan penjelasan mengapa gempa yang terjadi di Tasikmalaya itu bisa dirasakan hingga ke Jakarta.

"Jadi kalau gempa itu lebih dalam, kekuatannya besar, maka spektrumnya semakin luas," kata Daryono.

Gempa dalam yang ia maksudkan adalah gempa yang hiposentrumnya (sumber gempa di kedalaman bumi) berada di antara 60 kilometer sampai 300 kilometer di bawah permukaan bumi.

Daryono kemudian mengumpamakan gempa bumi dengan sebuah segitiga, yang satu sudutnya berada di bawah tanah dan dua sudut sisanya berada di permukaan. Semakin tinggi atau dalam sudut di bawah tanahnya, maka dua kakinya di permukaan juga akan semakin melebar. Begitu juga dengan gempa bumi.

Ia juga menambahkan bahwa merusak atau tidaknya suatu gempa berdasarkan kekuatan gempa tersebut. Tetapi, menurut Daryono, gempa dangkal memang lebih merusak dan memiliki potensi besar untuk menjadi tsunami.

"Energinya lebih besar kalau gempa dangkal. Semakin dangkal, semakin besar, semakin merusak," ujarnya.

Gelombang Perusak Hasil Gempa Bumi 

Penyebab utama terjadinya banyak kerusakan saat gempa bumi adalah gelombang seismik, yang menghantarkan energi dari pusat gempa, dan menyebabkan guncangan di permukaan bumi.

Sebenarnya gelombang seismik terbagi menjadi tiga jenis, yaitu gelombang primer, gelombang sekunder, dan gelombang permukaan.

Salah satu yang paling merusak di antara tiga gelombang seismik itu adalah gelombang permukaan. Ada dua jenis gelombang permukaan, yaitu Gelombang Rayleigh dan Gelombang Love.

Gelombang Rayleigh bergerak bagaikan gelombang di permukaan laut. Banyak orang mengklaim melihat gelombang ini saat terjadi gempa di tempat terbuka, seperti lapangan parkir. Mereka mengaku melihat mobil-mobil bergerak naik dan turun seperti kapal yang melewati ombak.

Sementara Gelombang Love bergerak lebih cepat dibandingkan Gelombang Rayleigh, dan memiliki daya rusak yang lebih kuat. Daya rusak yang lebih kuat itu disebabkan karena, saat bergerak, Gelombang Love menyebabkan permukaan seperti tertarik ke kiri dan ke kanan, membuat tanah bergeser secara horizontal.

Kendati demikian, salah satu faktor penyebab kerusakan di Tasikmalaya dan Pangandaran tidak hanya disebabkan oleh kekuatan atau magnitudo gempa. Kondisi tanah setempat dan kualitas bangunan sangat menentukan tingkat kerusakan.

"Karakteristik tanah lunak semacam ini dapat menimbulkan resonansi gelombang seismik, hingga memicu amplifikasi guncangan gempa bumi. Belum lagi kondisi bangunan yang ada banyak yang tidak memiliki standar aman gempa bumi, maka dengan mudah terjadi kerusakan saat diguncang gempa bumi," kata Daryono.