Marah Tak Terkendali Bisa Jadi Tanda Gangguan Kepribadian

Share:

Manusia memiliki sisi emosi, baik negatif maupun positif. Marah adalah salah satu emosi negatif manusia. Ketika bisa dikendalikan, kemarahan pun terkendali. Sebaliknya, jika tidak bisa dikendalikan, kemarahan yang timbul pun tak terkendali.

Di mana-mana, kadang ada orang saling ribut dan berantem hanya karena persoalan yang sebenarnya sepele. Di berbagai berita, kita kadang menemukan ada orang yang sampai menodongkan senjata hanya karena jengkel atas sesuatu. Contoh-contoh itu ilustrasi mengenai kemarahan yang tidak terkendali, sehingga menjadikan orang bersangkutan juga tidak bisa memikirkan tindakannya secara rasional.

Menurut situs Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, marah sebenarnya merupakan respons normal terhadap perasaan terancam atau frustrasi. Tidak mungkin menihilkan sama sekali amarah dalam kehidupan kita. Marah juga merupakan reaksi spontan dan tidak direncanakan.

Para ahli psikologi, seperti John B. Watson dengan aliran psikologi behaviorisme, tim ilmuwan dari University of Glasgow di Skotlandia dalam laporan yang dimuat di jurnal Current Biology, serta Daniel Goleman dengan teori kecerdasan emosi, berpendapat bahwa marah termasuk emosi dasar manusia.

Namun, jika tidak dikelola dengan baik, marah yang ternyata berkaitan erat dengan agresi dan kekerasan, akan bersifat destruktif. Tentu saja akan merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.

Terkait kemarahan, terdapat dua jenis marah, yaitu marah implisit (anger in) dan marah eksplisit (anger out).

Anger in merupakan bentuk marah pada diri sendiri yang bisa mengakibatkan depresi dan rasa benci pada diri sendiri. Sementara anger out adalah rasa marah yang ditujukan pada orang lain atau benda sekitarnya.

Namun, ada juga orang begitu mudah marah. Kemarahannya terjadi begitu saja, tanpa peduli lingkungan dan orang-orang sekitar. Orang seperti ini tidak boleh merasa tersinggung sedikit pun. Dia tidak bisa mengendalikan amarahnya, dan selalu menuduh orang lain sebagai penyebab masalahnya.

Bisa jadi orang seperti itu mengalami gangguan kepribadian antisosial, yaitu kepribadian yang cenderung menyalahkan orang atas semua masalah yang terjadi pada dirinya, dan mengintimidasi orang lain tanpa menyesali perbuatannya ini.

Rita Atkinson, dalam bukunya "Introduction to Psychology", menyebutkan bahwa gangguan kepribadian biasanya muncul saat remaja, dan dapat berlangsung seumur hidup.

Kendati demikian, gangguan kepribadian berbeda dengan gangguan jiwa. Karena orang dengan gangguan kepribadian masih dapat bekerja, sementara mereka dengan gangguan jiwa tidak dapat bekerja.

Kemarahan yang melibatkan perilaku kekerasan yang impulsif, agresif, dan ledakan verbal atau caci maki yang terjadi berulang kali, secara berlebihan dan tidak sesuai dengan situasi, menurut situs Mayo Clinic, disebut dengan intermittent explosive disorder. 
Termasuk di dalamnya ngamuk di jalan raya karena tidak terima disalip oleh pengemudi lain, kekerasan dalam rumah tangga, menghancurkan benda, maupun mengancam serta marah-marah karena hal sepele.

Ketika orang tersebut memiliki senjata, maka ledakan amarah mereka menjadi jauh lebih berbahaya. Menurut situs Psychology Today, kasus-kasus penembakan massal yang sering terjadi di Amerika Serikat dapat merupakan contoh kasus intermittent explosive disorder atau ledakan amarah yang berulang.