Kisah Panggilan Telepon Misterius yang Pernah Melanda Indonesia

Share:

Bisa jadi, seseorang menelepon ponsel kita, dan kebetulan waktu itu kita sedang di kamar mandi atau sedang sibuk mengerjakan sesuatu, hingga tidak sempat menerima panggilan tersebut. Biasanya, di layar ponsel pun akan muncul pemberitahuan bahwa suatu nomor barusan menelepon ponsel kita namun tak terjawab. Hal itu biasanya disebut missed call.

Missed call sebenarnya tidak aneh, dan bisa dialami siapa pun, di mana pun. Biasanya pula, kita tahu atau kenal siapa yang menelepon tadi, dan kita pun balik menelepon ke nomornya. Namun, ada jenis missed call yang sebaiknya diwaspadai, jika Anda tidak mengenali nomor yang masuk ke ponsel.

Beberapa tahun lalu, sebagian orang di Indonesia mengeluh mendapat panggilan (missed call) dari nomor telepon dengan kode panggilan +242. Jangan diangkat, karena ini penipuan.

Jika mendapat telepon dari luar negeri, pastikan terlebih dahulu apakah ada kerabat atau teman yang hubungannya cukup dekat, maupun rekan bisnis di luar negeri. Terutama di negara yang memiliki kode yang tertera di layar telepon genggam.

Irjen Setyo Wasisto, Kepala Divisi Humas Mabes Polri waktu itu, mengatakan bahwa ada sejumlah kode nomor telepon internasional yang biasa digunakan untuk melakukan penipuan dengan modus one missed call, atau yang dikenal dengan scam wangiri.

Salah satunya panggilan dari nomor telepon dengan kode +242. Kode tersebut diketahui berasal dari Republik Kongo.

Setyo mengingatkan agar masyarakat tidak menanggapi panggilan telepon misterius. Ia menyarankan agar masyarakat segera melapor jika mendapat panggilan tersebut. Pihaknya juga sudah memberi pengarahan pada anggota Polri untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

Menurut Setyo, begini modusnya. Penelepon sengaja melakukan panggilan telepon tidak terjawab agar korban menelepon balik. Hal ini merupakan modus untuk penipuan pulsa.

"Tidak hanya di Indonesia," katanya. "Menyasarnya secara acak. Jadi mereka mengambil pulsa secara acak ke seluruh warga dunia dengan teknologi. Bukan hanya warga negara Indonesia yang disasar, tetapi juga warga negara lain. Tujuannya nyedot pulsa."

Kepala Divisi Humas Mabes Polri juga menambahkan sebagian besar penelepon menggunakan kode +261 (Madagaskar), +242 (Kongo), +269 (Komoro), +231 (Liberia), +216 (Tunisia), dan Kepulauan Cook (+682).

Komisioner Bidang Kebijakan Publik Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Taufik Hasan, meminta agar masyarakat tidak melakukan panggilan balik atau mengirimkan SMS ke nomor pemanggil, karena akan memotong biaya pulsa yang jumlahnya cukup besar.

Tidak hanya di Indonesia, masyarakat Selandia Baru diberitakan mendapat panggilan misterius dari nomor berkode negara lain. Dilansir dari newshub.co.nz, diduga nomor tersebut berasal dari negara Chad.

Sementara, kantor berita Australia, ABC, memberitakan, sejumlah masyarakat pengguna telepon seluler di Australia melaporkan adanya panggilan misterius pada bulan Februari 2018. Bahkan panggilan telepon tidak terjawab dari nomor-nomor luar negeri, juga melanda masyarakat Inggris.

Tidak terbatas pada nomor-nomor yang berasal dari negara-negara Afrika, nomor-nomor yang berasal dari negara-negara Eropa juga sering digunakan untuk melakukan penipuan tersebut. Seperti +41 dari Swiss.

Penipuan seperti ini sudah mulai marak sejak awal tahun 2000-an. Modus panggilan telepon tidak terjawab ini dikenal dengan istilah wangiri, yang dalam bahasa Jepang berarti 'panggilan tak terjawab'

Modus ini memang diduga berawal dari Jepang. The Economist melaporkan, masyarakat Jepang dihebohkan dengan panggilan tidak terjawab secara besar-besaran.

Hal ini membuat operator telepon seluler di Jepang saat itu kewalahan menghadapinya. Saat itulah istilah wangiri yang terdiri dari kata 'wan', yang berasal dari kata 'one' yang berarti 'satu', dan 'giri', yang berarti 'hang up' atau 'tutup telepon', mulai dimunculkan dan digunakan sampai sekarang.

Menukil National Geographic, pelaku wangiri membuat panggilan acak pada nomor telepon di berbagai negara dengan sekali dering. Pelaku berharap korban akan melakukan panggilan balik. Saat itulah pelaku menguras pulsa korban.

Jika korban melakukan panggilan balik ke nomor tersebut, maka tarif premium akan dikenakan padanya, sehingga pulsanya akan tersedot atau tagihannya akan membengkak. Pulsa dan tagihan itu akan masuk ke kantong pelaku.

Sebenarnya, modus layanan premium call internasional ini merupakan modus lama dan ketinggalan zaman. Pelaku hanya mengharapkan para korban melakukan panggilan balik agar biaya pulsa atau tagihan korban ketika melakukan panggilan balik tersebut dapat masuk ke kantong mereka.

Supaya masyarakat tidak tertipu dan tergoda untuk melakukan panggilan balik, berikut beberapa kiat untuk menghindarinya;

Jangan menjawab panggilan dari nomor-nomor luar negeri, kecuali Anda mengenalinya.

Jangan melakukan panggilan balik, jika mendapat panggilan tidak terjawab dari nomor luar negeri.

Segera hubungi operator telepon dan pihak kepolisian jika mendapatkan panggilan mencurigakan. Hal ini dapat membantu mereka membangun suatu basis data untuk menghentikan panggilan dari nomor-nomor misterius.

Gunakan aplikasi untuk menyaring panggilan masuk, baik telepon atau layanan pesan pendek.