Kisah Orang-orang yang Pernah Tersambar Petir dan Selamat (Bagian 2)

Share:

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Orang-orang yang Pernah Tersambar Petir dan Selamat - Bagian 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Luka bakar diagonal

Terlepas dari kursi lipat yang terbakar, Justin tak mungkin melupakan sambaran petir karena petir meninggalkan bekas luka bakar diagonal di tubuhnya. Luka berawal dari bahu kanan, melintang ke dada dan berlanjut hingga ke kaki.

Dia kemudian mengambil sepatu bot-nya, memperlihatkan beberapa bekas kebakaran di dalamnya.

Korban yang selamat kadang bisa mengungkap bekas luka yang mereka katakan sebagai titik masuk dan titik keluar petir. Tapi pada kenyataannya, lintasan petir sulit dilacak secara akurat, kata Mary Ann Cooper, mantan dokter di badan layanan darurat di Chicago yang juga peneliti petir.

Ia mengatakan, bekas luka dan pakaian yang terbakar hanya menunjukkan lintasan kasar.

Korban tewas akibat sambaran petir diperkirakan mencapai 4.000 orang per tahun. Angka ini didapat dari kajian di 26 negara, tak termasuk korban di kawasan rawan petir seperti di Afrika Tengah, yang datanya tengah dipelajari para pakar.

Dari 10 orang yang tersambar petir, sembilan di antaranya selamat dengan aneka dampak, baik jangka pendek maupun panjang.

Dampaknya bisa berupa gagal jantung, kebingungan, kejang-kejang, sakit kepala, nyeri otot, tuli, sakit kepala, kehilangan memori, perubahan kepribadian hingga sakit yang kronis.

Para korban berbagi cerita di acara tahunan Lightning Strike & Electric Shock Survivors International. Mereka berkumpul setiap tahun di Amerika Serikat tenggara di musim semi, sejak awal 1990-an.

Grup ini didirikan oleh Steve Marshburn, yang tersambar petir di dekat jendela bank pada 1969. Bersama istrinya, Steve menjalankan organisasi ini dalam 30 tahun terakhir.

Steve merasa organisasi ini banyak membantu korban yang selamat dari sambaran petir. Sambaran petir tak hanya mengubah penampakan fisik tapi juga kepribadian, dan ini yang kadang mengganggu hubungan keluarga atau suami istri.

Bagaimana petir bisa mengubah kepribadian seseorang?

Pakar petir dan mantan dokter, Mary Ann Cooper, mengatakan sambaran petir bisa dianalogikan dengan kejutan listrik yang merusak komputer. "Dari luar terlibat baik-baik saja, tapi peranti lunak yang menjalankan komputer tak berfungsi," kata Cooper.

Dalam konteks inilah organisasi yang mewadahi korban menjadi sangat berarti.

Akibat lain dari sambaran petir bagi seseorang adalah, ia bisa memprediksi datangnya badai, jauh sebelum badai tampak di cakrawala. Cooper mengatakan kemampuan ini dimungkinkan karena trauma membuat korban menjadi sangat sensitif terhadap tanda-tanda badai.

Ada juga korban yang mengklaim bahwa komputer langsung berhenti berfungsi atau baterai pintu garasi cepat habis, ketika mereka berlama-lama di dekat dua benda tersebut.

Meski mekanisme sambaran dan dampak dari petir sudah banyak dikaji, para ahli mengakui masih banyak pertanyaan yang tak terjawab. Misalnya, mengapa korban mengalami kejang-kejang, atau apakah korban lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.

Kemungkinan tersambar petir

Persepsi umum yang berkembang adalah satu dibandingkan satu juta. Tapi bagi ahli cuaca dari Amerika, Ron Holle, angka kemungkinan tersambar petir tersebut menyesatkan.

Ia mengatakan, jika seseorang bertahan hingga usia 80 tahun, tingkat kerapuhan orang itu naik dari 1 menjadi 13.000. Jika dimasukkan faktor-faktor lain, kata Holle, peluang bagi seseorang tersambar petir adalah 1 dalam 1.300.

Para ahli juga sepakat bahwa laki-laki memiliki peluang lebih besar terkena sambaran petir, karena laki-laki biasanya 'lebih berani mengambil risiko' dan lebih sering berada di alam terbuka karena tuntutan pekerjaan, misalnya.

Korban biasanya berusia 20 tahunan atau 30 tahunan dan mengerjakan sesuatu di luar, seperti yang dilakukan Jaime Santana, yang menjalani perawatan di rumah sakit selama lima bulan sebelum diizinkan pulang. Nyawanya bisa diselamatkan meski ia sekarang lumpuh.

Lucia, ibu Jaime, mengatakan tak bisa menjawab pertanyaan mengapa petir menyambar anaknya. Ia lebih mengambil pendekatan bahwa ia perlu bersyukur karena petir tak sampai membuat anaknya meninggal.

Makanya, ia sekarang memusatkan perawatan lanjutan bagi Jaime dengan harapan ia pulih suatu saat nanti.