Kisah Orang Kecanduan Selfie, Tiap Hari Berfoto Selfie sampai 200 Kali

Share:

Selfie sebenarnya aktivitas biasa yang dilakukan banyak orang. Kita mengambil kamera, berpose sendiri, kemudian memotret diri sendiri. Setelah itu, biasanya, kita unggah foto selfie ke media sosial, dan mendapatkan tanggapan dari orang-orang lain. Aktivitas itu umum dilakukan banyak orang di mana saja, dan sebenarnya tidak masalah.

Masalah mulai terjadi, ketika orang mulai kecanduan selfie. Seperti kecanduan pada hal lain, kecanduan selfie juga masalah yang patut diperhatikan. Seperti yang terjadi pada Junaid Ahmed, yang mengakui kecanduan selfie, hingga ia sampai membuat 200 foto selfie setiap hari.

Junaid Ahmed mengaku melakukan swafoto sekitar 200 kali setiap hari. Ia mengatakan sangat seksama dalam mengunggah swafoto di media sosial, agar bisa disukai banyak orang. Jika ada foto yang disukai oleh kurang dari 600 orang, ia akan menghapusnya.

"Ketika saya mengunggah foto, pada satu atau dua menit pertama saya mungkin akan mendapatkan 100 likes dan saya senang. Ponsel saya sibuk sekali, sungguh menakjubkan."

Baru-baru ini sebuah penelitian menunjukkan obsesi terhadap selfie memag merupakan gejala kesehatan jiwa, yang lalu disebut Selfitis. Menurut para periset di University of Nottingham dan Thiagarajar School of Management di India, dorongan untuk berswafoto dan mengunggahnya di media sosial lebih dari enam kali sehari disebut selfitis kronis.

Junaid mengaku, dorongan untuk berswafoto dalam dirinya bisa menyebabkan semacam perselisihan dengan orang-orang dekatnya.

Ia menjelaskan, "Mereka kadang bilang, 'tak bisakah kamu makan saja dan tidak usah berfoto?' Dan saya akan menjawab, 'tidak, saya kan menyiapkan diri selama tiga jam, jadi mengapa saya tidak berfoto?"

Junaid mengatakan, komentar-komentar negatif di bawah fotonya tidak lagi mempengaruhinya—tidak seperti di masa-masa awal. Namun, dia mengaku harus memoles wajahnya, karena merasa adanya tekanan agar tampil dalam tampilan tertentu.

"Bertahun-tahun yang lalu saya tidak pernah tampil seperti ini. Saya dulu tampil alami. Tapi saya pikir dengan obsesi pada media sosial... Saya ingin meningkatkan diri sekarang ini."

"Gigi saya di-veneer agar terlihat lebih putih, saya menyuntikkan filler di dagu, pipi, rahang, bibir. Lalu botox di bawah mata dan di kepala. Selain tato alis dan sedot lemak."

Junaid, yang tinggal di Essex, Inggris, mengatakan bahwa ia menyadari media sosial bisa begitu negatif, namun ia tidak terlalu menganggapnya serius.

"Apa yang tampak di media sosial bukanlah hal yang sebenarnya," katanya. "Media sosial sangat menyenangkan bila menggunakannya dengan cara yang benar. Tapi jangan hidup kita terpengaruh semata-mata karena kita bercita-cita menjadi orang lain di Instagram... itu tidak layak."

Ingin menyesuaikan diri

Ada pula Danny Bowman, yang terobsesi mengunggah foto-foto selfie-nya di media sosial saat masih remaja.

"Saya ingin tampil, dan saya pikir cara terbaik untuk melakukannya adalah berpenampilan rupawan," katanya.

Ia akan berswafoto dan menganalisa foto-foto itu untuk menemukan kekurangan-kekurangan, yang ia katakan selalu ia temukan. Dan semuanya kemudian menjadi "lingkaran setan".

Danny melakukan foto selfie ratusan kali saat ia berusia 15 tahun. "Saya menghabiskan waktu selama sepuluh jam di depan cermin dalam sehari, bolak-balik mengambil foto-foto ini, hari demi hari."

Saat usianya 16 tahun, Danny berusaha bunuh diri.

Ia dibawa ke tempat rehabilitasi, dan didiagnosis menderita gangguan dismorfik tubuh, jenis masalah mental kronis yang gejalanya adalah tidak bisa berhenti memikirkan tentang cacat pada penampilan sendiri, dan ia percaya media sosial memainkan peran besar.

Danny kini kuliah di universitas, dan di sela-sela waktunya kini bekerja membantu anak-anak muda yang memiliki masalah kesehatan mental.

Ia menceritakan, "Saya ingat terbaring di tempat tidur, dan berpikir 'bagaimana saya bisa keluar dari semua ini?' Saya merasa tidak ada jalan keluar.”

“Foto-foto yang saya unggah di Instagram sekarang ini bukan lagi foto selfie,” lanjutnya. “Sekarang semuanya adalah foto-foto ketika saya bersama orang-orang atau ketika sedang tampil berbicara. Foto-foto itu jauh lebih memuaskan bagi saya ketimbang memasang foto selfie dan mengemis serta berharap foto-foto saya bisa disukai banyak orang."

Lembaga Royal Society for Public Health meminta platform pemerintah dan media sosial untuk memasang peringatan yang akan muncul di telepon setelah orang menghabiskan waktu dua jam di depan internet, menyusul hasil penelitian tentang bagaimana media sosial mempengaruhi kaum muda.

"Tujuh dari sepuluh remaja mengatakan bahwa mereka mendapat dukungan melalui media sosial pada masa-masa sulit," kata direktur RSPH, Shirley Cramer. “Tapi kita juga tahu bahwa depresi dan kecemasan diperparah oleh media sosial."