Kisah Novel ‘Ayat-ayat Setan’ Karya Salman Rushdie yang Pernah Menggegerkan Dunia

Share:

Beberapa tahun yang lalu, dunia digemparkan oleh sosok seoang novelis bernama Salman Rushdie, yang menulis novel berjudul Satanic Versus (Ayat-ayat Setan). 

Novel itu memicu kehebohan, karena dianggap menghina Nabi Muhammad yang merupakan panutan umat Islam sedunia. Ayatullah Khomeini, pemimpin Iran, memfatwakan untuk membunuh Salman Rushdie, dan sejak itu berbagai aksi kekerasan terjadi di mana-mana, sementara Salman Rushdie harus bersembunyi. 

Ahmed Salman Rushdie adalah seorang penulis Novel yang lahir di India. Ayahnya, Anis Rushdie, adalah seorang pengacara dan pengusaha, dengan ibu yang berprofesi sebagai guru. Rushdie mulai mempelajari sejarah saat dia berkuliah di Universitas Cambridge yang kemudian bekerja sebagai copywriter. 

Dia juga pernah terlibat dalam beberapa proyek penulisan lirik untuk lagu-lagu berbahasa inggris, sebelum akhirnya dia menjadi penulis dan menerbitkan novel pertamanya di tahun 1975, yang berjudul "Grimus." 

Kebanyakan novelnya beraliran fiksi dan satir. Ketika dia mengeluarkan novelnya yang kedua, berjudul "Midnight Children", dia mendapatkan penghargaan Booker Prize, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan setiap tahun untuk para penulis novel fiksi berbahasa inggris, dan hanya untuk novel yang diterbitkan di UK. Pemenang penghargaan ini biasanya akan mendongkrak kesuksesan penulis, baik di UK maupun internasional. 

Sebagai penulis novel, Salman rushdie telah mengeluarkan puluhan judul novel, tapi yang paling diingat dunia ketika dia menerbitkan novel keempatnya di tahun 1988.

Nama Salman Rushdie menjadi topik dunia ketika dia mengeluarkan novel keempatnya, berjudul "The Satanic Verses", pada tahun 1988. Sebuah novel yang dianggap merujuk pada kehidupan Nabi Muhammad. 

Banyak penganut Islam berpendapat isi novel Ayat-ayat Setan menghujat Nabi Muhammad. Akibatnya, buku ini dilarang di banyak negara dengan komunitas Muslim yang besar seperti di India, dan juga banyak dibakar oleh demonstran di Britania Raya. 

Novel ini juga menyulutkan kerusuhan di Pakistan pada tahun 1989. Di Indonesia, novel ini memicu amarah umat muslim. Salah satu band rock Indonesia, God Bless, bahkan menulis lagu tentang novel ini, yang berisi hujatan terhadap Salman Rushdie. 

Di Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menyatakan bahwa Ayat-ayat Setan merupakan novel terlarang, dan sang penulis harus dieksekusi. Hadiah ditawarkan untuk kepala Rushdie. Khomeini juga menyatakan siapa pun yang mati saat berusaha membunuh Rushdie akan dianggap sebagai martir. 

Akibat fatwa tersebut, Salman Rushdie harus selalu bersembunyi selama bertahun-tahun, serta mesti sering berpindah tempat. Penyelenggara Nobel, The Swedish Academy, mengecam ancaman pembunuhan dan hadiah uang atas fatwa kematian terhadap penulis Salman Rushdie. Dua anggota The Swedish Academy keluar dari Akademi Swedia di tahun 1989 setelah mengutuk fatwa Ayatollah Khomeini terhadap Rushdie. 

Pihak Nobel menganggap fatwa tersebut berhubungan dengan urusan politik. Akademi mengeluarkan pernyataan membela ekspresi berkreasi dan tulis menulis. "Faktanya di masa sekarang ini hukuman mati terhadap penulis karya sastra juga menyiratkan pelanggaran yang serius terhadap kebebasan berbicara," tulis Akademi. 

"Sastra harus bebas dari kontrol politik," kata akademi lagi. 

Sebagai akibat dari fatwa tersebut, Salman Rushdie harus mendapatkan penjagaan hampir selama 10 tahun, dan terus-menerus dipindahkan ke lokasi rahasia. Di tahun 1998, presiden pro-reformasi, Mohammad Khatami, menyatakan fatwa tersebut tidak berlaku karena Rushdie tidak bersalah. 

Pada 1990, Rushdie menulis esai, mencoba membuktikan diri masih beriman pada Islam. Namun, penjaga revolusioner Iran kembali memerintahkan pembunuhan Salman Rushdie pada tahun 2003.

Walaupun Salman Rushdie berhasil selamat dari fatwa yang diberikan terhadap dirinya, namun beberapa kekerasan diterima oleh orang-orang yang berkaitan dengan novel karyanya tersebut. Di Jepang, seorang penerjemah, Hitoshi Igarashi, ditemukan tewas ditikam pada tahun 1991. 

Nasib yang sama juga dialami seorang penerjemah di Italia, Ettore Capriolo, yang terkena tikaman pisau dan menderita luka serius di tahun yang sama. Pada tahun 1993, Penerbit Norwegia, William Nygaard, terkena tembakan sebanyak 3 kali, sebagai reaksi atas penerbitan novel tersebut di negaranya, namun berhasil selamat. 

Teror paling parah terjadi di Turki pada tahun 1993, ketika terjadi usaha pembunuhan terhadap seorang penerjemah bernama Aziz Nesin, berujung pada pembantaian di Sivas, Turki, dan merenggut nyawa sebanyak 37 orang. 

Sejak penerbitan Ayat-ayat Setan, kekerasan dan kematian seakan mengikuti di belakangnya. Orang-orang yang dikaitkan dengan penerbitan dan penerjemahan buku mengalami serangan serius, bahkan beberapa di antaranya dibunuh. 

Meskipun menjadi sasaran fatwa mati, Salman Rushdie tidak pernah berhenti berbicara tentang fanatik agama yang rela membunuh sebagai penyikapan atas sesuatu yang berbeda. 

Rushdie mengatakan meskipun dunia muslim dihuni oleh fanatik, tetapi juga memiliki individu berani dan berpikiran maju. Namun, dia khawatir bahwa jika para fanatik dibiarkan, fatwa tidak lagi hanya berlaku untuk kepalanya, tapi juga untuk dunia.