Kisah Kahlil Gibran dan Terbitnya Buku ‘Sang Nabi’ yang Menggemparkan

Share:

Kahlil Gibran lahir di sebuah desa di pegunungan di Libanon, 6 Januari 1883. Ketika anak-anak, ibunya memutuskan untuk meninggalkan suaminya yang pemabuk dan membawa keempat anaknya ke Amerika. Mereka tinggal di Boston, dimana mereka punya kerabat di sana, dan di sanalah seorang pekerja relawan mengenali Gibran yang menurutnya berbakat seni tinggi. 

Anggota dari masyarakat aristokrat Boston menganggapnya menawan, dan mulai mengundangnya dalam acara kumpul bareng, di mana ia membahas filsafat dan sastra. Sejumlah wanita aristokrat jatuh cinta padanya, dan menjadi pendukungnya, namun Gibran tidak pernah menikahi satu pun dari mereka.

Satu hari, seorang bernama Alfred A. Knopf diundang dalam acara kumpul bareng di apartemen Gibran. Knopf baru saja mendirikan perusahaan penerbitan. Ketika ia melihat betapa kagumnya orang dengan Gibran, ia memutuskan untuk melakukan kontrak penerbitan dengannya. 

Dua buku pertama Gibran tidak terlalu sukses, namun buku ketiganya, Sang Nabi, luar biasa meledak. Ketika Sang Nabi diterbitkan tahun 1924, penjualannya memang sedikit, namun terus menanjak semakin besar. 

Tahun 1931, buku itu sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Tahun 1960-an, ia menjadi bacaan populer para mahasiswa. Dan sekarang, kutipan-kutipan dari buku tersebut masih dibaca dalam pernikahan, pembaptisan, dan penguburan. Ia adalah buku best-seller terbesar sepanjang sejarah Alfred A. Knopf.

Berikut kutipan mengenai sains dari buku Sang Nabi. Kutipan ini mencerminkan pendapat Gibran mengenai sains.

Mengenai Nalar dan Nafsu

Dan para pendeta bicara kembali dan berkata: “Ceritakan pada kami tentang Nalar dan Nafsu.”

Dan dia menjawab: Jiwamu sering menjadi medan perang, dimana nalar dan rasa keadilanmu berperang melawan nafsu dan birahi.

Bisakah aku menjadi pendamai dalam jiwamu, yang mana diriku akan menyelaraskan pertentangan dalam elemen-elemen dirimu dalam satu kesatuan dan melodi.

Namun bagaimana bisa diriku, kecuali dirimu sendiri yang menjadi pendamai, pencinta seluruh elemen dirimu?

Nalar dan nafsumu adalah kemudi dan layar bagi jiwamu yang mengembara di lautan.

Bila layar ataupun kemudimu rusak, kau akhirnya tercebur dan tenggelam, atau terdiam di tengah lautan.

Hanya nalar saja yang berkuasa, maka ia memenjarakan kuasamu; dan jika hanya nafsu, tanpa teman, akan menjadi api yang membakar dirinya sendiri hingga musnah.

Karenanya, biarkan jiwamu mengagungkan nalarmu hingga setinggi nafsu sehingga ia dapat bernyanyi.

Dan biarkan nalar mengarahkan nafsumu, sehingga nafsumu hidup dalam kebangkitannya setiap hari, seperti phoenix lahir dari abunya.

Pertimbangkanlah penilaianmu dan nafsumu, bahkan jika itu berarti kau memiliki dua tamu yang terkasih di rumahmu.

Tentunya kau tidak akan memuliakan satu tamu lebih dari yang lain; karena ia yang lebih condong ke satu sisi akan kehilangan cinta dan keyakinan dari kedua sisi.

Di perbukitan, ketika kau duduk di bawah naungan dingin pohon poplar putih, berbagai kedamaian dan ketenangan padang rumput yang jauh – biarkan hatimu berkata dalam diam, “Tuhan tinggal di dalam nalar.”

Dan ketika badai datang, dan angin besar mengguncang hutan, petir dan kilat mengagung-agungkan kekuasaan langit, maka biarkan hatimu berkata dalam takjub, “Tuhan bertindak penuh nafsu.”

Dan karena kau adalah sebuah nafas dalam dunia Tuhan, dan sebuah daun dalam hutan Tuhan, kau pun harus tinggal di dalam nalar dan bergerak penuh nafsu.