Kisah dan Asal Usul Hippocrates Menjadi Dokter Pertama di Dunia

Share:

Pernahkah membayangkan bagaimana penduduk pada abad pertengahan menjalani hidup? Pada abad itu, usia manusia rata-rata 30-35 tahun. Ini karena 30% anak yang lahir meninggal pada usia balita. 

Bagaimana kalau seseorang sakit? Penduduk pada saat itu beranggapan bahwa penyakit adalah kutukan atau hukuman atas dosa yang diperbuat oleh orang bersangkutan. Untuk penyembuhan, maka yang bersangkutan harus bermeditasi atau berdoa memohon pengampunan. 

Kemudian, anggapan bahwa tubuh kita berhubungan dengan 4 unsur alam: air, udara, api dan bumi. Keempat unsur ini disebut humor. Kalau seseorang sakit, maka dianggap kurang keseimbangan pada empat unsur tersebut. Langkah yang paling sering diambil adalah mengeluarkan darah yang dianggap "kotor" dari tubuh si sakit. Akibatnya bisa kita prediksi, banyak yang meninggal justru karena kehabisan darah.

Logika berpikir Hippocrates dibuktikan saat terjadinya perang Peloponnesian pada tahun 430 SM. Kota Athena yang habis dihancurkan oleh bangsa Sparta, dilanda wabah penyakit. Hippocrates dan pengikutnya berangkat ke Athena untuk membantu.  

Hippocrates mengamati, dari sekian banyak orang yang dilanda penyakit di kota itu, para tukang besi (iron smith) rata-rata sehat. Hippocrates kemudian membuat kesimpulan bahwa untuk menanggulangi wabah tersebut, orang harus tinggal dalam lingkungan yang kering dan panas. 

Solusi yang dia anjurkan adalah warga Athena harus menyalakan api di setiap rumah, lingkungan rumah harus kering, mayat-mayat harus dibakar, dan memasak air terlebih dahulu sebelum diminum. Apa yang dianjurkannya telah menyelamatkan kota Athena.

Cerita kedua sering dikutip untuk menunjukkan kemampuan diagnosis Hippocrates yang luar biasa. Tidak berapa lama setelah sirnanya wabah penyakit di kota Athena, Raja Perdiccas dari Macedonia meminta pertolongan Hippocrates yang telah terkenal. Raja meminta Hippocrates mendiagnosis penyakitnya yang tak kunjung sembuh. 

Hippocrates setuju, dan berangkatlah ia ke Macedonia. Dalam pemeriksaan, Hippocrates mengamati bahwa muka Perdiccas selalu merah apabila Phila, selir ayahnya, berada tidak jauh dari tempatnya. Setelah ditanya lebih lanjut, rupanya Perdiccas jatuh hati pada Phila dan berharap dapat menikahi gadis tersebut. Mimpinya tidak kesampaian ketika ayahnya malah mengambil Phila menjadi selirnya. 

Tetapi dengan kematian ayahnya, keinginan untuk menikahi Phila muncul kembali, sehingga menyebabkan Perdiccas jatuh sakit. Setelah melalui konseling yang panjang, Perdiccas sembuh.

Cerita ketiga merupakan ujian kesetiaan Hippocrates. Kejadiannya ketika Yunani dalam kondisi perang dengan Persia. Reputasi Hippocrates begitu terkenal, sehingga Artaxerxes, Raja Persia, meminta Hippocrates untuk pergi ke Persia untuk menyelamatkan warganya dari wabah penyakit. 

Meskipun sang raja menawarkan hadiah dan kekayaan yang setara dengan kekayaan sang raja, Hippocrates dengan sopan menolak. Meskipun prihatin dengan kondisi yang dialami Persia, tidak memungkinkan baginya membantu musuh negerinya. Raja marah dan bersumpah akan menghancurkan pulau Kos – sumpah yang akhirnya terkubur begitu sang raja menderita stroke dan meninggal.