Kesepian dan Kenangan Buruk ternyata Bisa Merusak Kualitas Tidur

Share:

Kesepian dan kesendirian adalah dua kondisi yang berbeda. Kesepian adalah kondisi seseorang merasa sendirian, meski mungkin bersama orang lain. Sebaliknya, kesendirian adalah kondisi ketika seseorang memang memilih untuk sendirian. Dalam urusan tidur, kesendirian bisa dibilang tidak menimbulkan masalah. Namun kesepian diketahui bisa membuat tidur tidak nyenyak.

Penelitian menyangkut hal ini menemukan bahwa kesepian menimbulkan dampak pada berkurangnya kualitas tidur. Dalam penelitian, orang-orang yang memiliki skor kesepian paling tinggi diketahui lebih sering terbangun di malam hari. Periode bangun yang sering itu disebut fragmented sleep atau tidur yang terfragmentasi.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Sleep itu menyebutkan, tidur yang terfragmentasi mungkin menjadi penyebab mengapa rasa kesepian bisa berbahaya bagi kesehatan. 

Lianne Kurina, seorang peneliti, menyatakan, “Tidur merupakan kunci untuk tetap sehat. Dari riset ini diketahui bahwa orang yang kesepian terbangun lebih sering di malam hari, sehingga kualitas tidur mereka menurun.”

Penelitian itu dilakukan terhadap 95 orang dewasa di daerah pinggiran Dakota selatan, Amerika Serikat. Seluruh partisipan studi bukan orang yang secara sosial terisolasi. Namun, mereka yang masuk kategori kesepian diketahui memiliki kualitas tidur yang buruk, karena merasa tidurnya sering terganggu akibat terbangun.

Selain kesepian, kenangan buruk juga diketahui menjadi penyebab berkurangnya kualitas tidur, bahkan bisa memicu insomnia. Karena itu pula, meninggalkan atau melupakan kenangan buruk bisa menjadi salah satu upaya untuk mengatasi masalah tidur atau insomnia. Kesimpulan itu didapatkan tim peneliti dari Trinity University, Swedia. 

Dalam studi yang dilakukan, para peneliti meminta sejumlah partisipan untuk menuliskan berbagai kenangan yang muncul di pikirannya. Dari situ, diketahui bahwa partisipan yang banyak menuliskan ingatan atau memori negatif atau pengalaman yang mengganggu pikirannya, memiliki kecenderungan untuk mengalami insomnia hingga 32 persen, atau lebih besar dibandingkan partisipan yang hanya mengingat kejadian-kejadian positif.

Para peneliti bahkan menemukan, meski pengalaman traumatis atau kenangan buruk tersebut telah terjadi 10 tahun sebelumnya, mengingatnya saja dapat meningkatkan kadar stres partisipan secara signifikan. Padahal stres merupakan faktor yang sering menjadi pemicu masalah kualitas tidur dan insomnia.

Sebagai upaya untuk mengusir stres akibat kenangan buruk, peneliti menemukan bahwa menggenggam tangan pasangan dapat digunakan untuk meredakan stres. Namun, jika pengalaman atau kenangan buruk itu masih terus mengganggu tidur, para peneliti menawarkan metode unik yang dipercaya dapat membantu melupakan kenangan tidak menyenangkan tersebut.

Caranya, sebutkan satu kata yang dapat dikaitkan langsung dengan kenangan buruk itu, lalu tuliskan di atas sebuah kertas kosong menggunakan pena bertinta merah. Lalu, setiap minggu, habiskan waktu selama lima menit untuk melihat kata kunci itu sambil berupaya untuk tidak mengingat memori buruk yang berhubungan dengan kata kunci tersebut. Tunggu beberapa lama, maka Anda akan menemukan manfaatnya.

Meski metode ini mungkin terdengar aneh, tapi riset yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa metode itu dapat membantu otak seseorang yang memiliki kenangan buruk untuk berangsur-angsur memblokir keseluruhan detail tentang kenangan yang membuat sulit tertidur tersebut.