Inilah Negara-negara Pendaur Ulang Sampah Terbaik di Dunia

Share:

Di tempat mana pun, di kota mana pun, di negara mana pun, selalu ada sampah yang dihasilkan. Karena sampah memang bagian dari aktivitas dan kehidupan manusia. Di mana pun ada manusia, bisa dipastikan di situ akan ada sampah. Dari sampah makanan, sampai sampah plastik, sampai sampah elektronik. 

Jika sampah-sampah itu hanya dikumpulkan, maka jumlah sampah akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Memang akan terjadi penguraian, tapi membutuhkan waktu sangat lama. 

Karena itulah, kini ada berbagai upaya untuk bisa mendaur ulang sampah, agar tumpukan sampah tidak terus menggunung. Sudah banyak negara yang menggalakkan program daur ulang sampah, agar negerinya makin bersih dan minim sampah.

Saat ini, Jerman memiliki tingkat daur ulang terbaik di dunia. Sedangkan Austria menempati posisi kedua, diikuti oleh Korea Selatan dan Wales. Keempat negara tersebut berhasil mendaur ulang antara 52 persen hingga 56 persen dari total sampah kota mereka. Swiss, di tempat kelima, mendaur ulang hampir setengah dari sampah kotanya.

Menurut Eunomia, konsultan lingkungan yang menyusun laporan, negara-negara itu semuanya memiliki kebijakan pemerintah yang mendorong daur ulang. Kebijakan ini antara lain memudahkan rumah tangga untuk mendaur ulang limbah; pendanaan yang baik untuk daur ulang, dan insentif keuangan.

Mereka juga menetapkan target kinerja yang jelas dan tujuan kebijakan untuk pemerintah daerah.

Beberapa negara, seperti Wales, memiliki target daur ulang yang ambisius. Negara ini menargetkan nol limbah pada tahun 2050. Sementara Uni Eropa mengadopsi target baru untuk 2030, setidaknya mengurangi 65 persen.

"Sangat penting untuk dicatat, bahwa penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi negara mana yang paling baik dalam daur ulang. Tujuannya, untuk berbagi praktik terbaik dengan menyoroti apa yang negara tersebut lakukan," ujar penulis dan konsultan pelaksana di Eunoomia, Rob Gillies.

Laporan itu juga mencoba membandingkan tingkat daur ulang limbah kota pada dasar yang semaksimal mungkin. Gillies juga berharap, laporan tersebut membantu kemajuan perdebatan tentang cara terbaik untuk mengukur daur ulang nyata.

Pengukuran tersebut diharapkan sejalan dengan prinsip-prinsip hierarki limbah, dengan cara yang sekonsisten mungkin di Eropa atau lebih jauh lagi.

Saat ini, kota-kota di China semakin meluas, sehingga jaringan transportasi baru dan pusat perkotaan harus didesain untuk menyeimbangkan risiko dari pertumbuhan populasi yang semakin bertambah.

Apa yang terjadi pada limbah daur ulang?

Sejumlah besar sampah yang telah didaur ulang akhirnya dikirim ke Asia. Tetapi China, importir dan pendaur ulang terbesar logam bekas, plastik, dan kertas, telah memutuskan untuk tidak lagi mengambil apa yang disebut "sampah asing". Negara ini bahkan melarang impor 24 jenis limbah.

Hal tersebut setidaknya memaksa negara-negara industri untuk mendaur ulang lebih banyak limbah mereka sendiri.

Saat ini, Eropa mendaur ulang 30 persen sampah plastiknya, lebih tinggi dibandingkan di Amerika Serikat yang hanya 9 persen. Meski demikian, sebagian besar sampah plastik masih terbuang di tempat pembuangan sampah dan di laut.