Ini Alasan Kenapa Jangan Memeriksa Kondisi Kesehatan ke Google

Share:

Tidak usah tunjuk tangan jika pernah mendiagnosis gejala penyakit yang dialami diri sendiri lewat Google, sebab banyak orang di berbagai belahan dunia melakukan hal yang sama.

Internet memang menawarkan berbagai jawaban atas pertanyaan umat manusia, tapi jawaban yang diberikan belum tentu valid, termasuk untuk masalah diagnosis penyakit.

Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Hong Kong University of Science and Technology membantu menjelaskan mengapa mencari diagnosis penyakit lewat dari Google adalah hal yang buruk.

Besar kemungkinan hasil browsing dari internet justru membuat pasien melebih-lebihkan atau meremehkan gejala penyakit yang dideritanya.

Peneliti melakukan serangkaian percobaan untuk menunjukkan bahwa pemikiran otak manusia sangat dipengaruhi oleh bias dalam menilai risiko penyakitnya sendiri.

Dalam laporan yang dimuat Journal of Consumer Research, hasilnya menemukan bahwa hasil diagnosis penyakit lewat internet seringkali memunculkan bias.

Dalam penelitian, para peserta diberi berbagai skenario penyakit seperti flu, hepatitis C, kanker payudara, osteoporosis.

Sejumlah informasi disediakan berdasarkan tingkat kejadian dalam populasi dan suatu gejala pada individu. Terkadang informasi yang diberikan menggunakan subjek diri sendiri atau orang lain.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tidak akrab dengan informasi dalam skenario, maka peserta semakin banyak mengandalkan informasi berdasarkan kondisi dalam populasi.

Namun semakin mirip gejala yang diceritakan dalam skenario dengan diri sendiri, maka informasi yang diandalkan adalah kasus individu.

"Kami menemukan bahwa efek ini cukup kuat. Hal ini dibuktikan oleh fakta bahwa kami menemukan kesimpulan yang sama dari hasil temuan menggunakan manipulasi yang berbeda dan dengan 5 jenis risiko kesehatan yang berbeda," kata peneliti, Dengfeng Yan.

Sebagai contoh, misalnya subjek diberi data tentang tingkat HIV di Hong Kong kemudian diberi skenario tentang dirinya sendiri atau orang asing.

Ketika diberitahu tingkat kejadian di populasi cukup tinggi tetapi kemungkinan menyerang pada individu cukup rendah, subjek merasa dirinya kurang berisiko terserang penyakit daripada orang lain yang terlibat dalam perilaku berisiko yang sama. Ini adalah bias positif terhadap diri sendiri.

Tapi ketika diberitahu tingkat kejadian HIV di populasi rendah tetapi kemungkinan menular pada individu tinggi, para peserta menganggap dirinya lebih rentan terserang HIV dibanding orang lain. Ini adalah bias negatif terhadap diri sendiri.

Tes berikutnya menggunakan dua jenis flu, yang satu flu ringan dan satunya lagi flu babi yang lebih berbahaya. Lagi-lagi, peserta cenderung meremehkan risiko pada diri sendiri ketika diberitahu bahwa tingkat kejadian di populasi tinggi tetapi hanya memiliki 1 gejala.

Peserta akan melebih-lebihkan risikonya terserang flu babi ketika diberitahu tingkat kejadian pada populasi rendah tapi gejalanya bermacam-macam.

Meskipun pengujian dilakukan pada para sarjana, peneliti yakin bahwa hasilnya akan serupa pada orang-orang dari segala usia.

Penelitian ini menunjukkan bahwa manfaat berkonsultasi dengan dokter bukan hanya karena keahliannya, melainkan juga karena penilaiannya tidak dipengaruhi oleh bias.