Ilmuwan Temukan Bakteri yang Mampu Mengubah Racun Menjadi Emas

Share:

Kenyataan mengagumkan ini mirip dengan proses terbentuknya mutiara. Seperti kita tahu, mutiara terbentuk di dalam tubuh kerang, dan berasal dari sebutir pasir. Mula-mula, sebutir pasir masuk ke tubuh kerang, lalu berdiam di dalamnya sampai bertahun-tahun. Perlahan namun pasti, butiran pasir tadi berubah menjadi mutiara yang tersimpan di dalam tubuh kerang.

Kini, ada fenomena yang sama ajaib seperti itu, yang melibatkan bakteri. Kali ini, bakteri-bakteri tersebut mampu mengubah racun menjadi emas murni. Penemuan menakjubkan ini telah dimuat di jurnal Nature Chemical Biology.

Seperti kita tahu, banyak bakteri yang dikenal menghasilkan senyawa bermanfaat, baik untuk membantu pengolahan pangan ataupun obat. Tapi sejauh ini, baru dua jenis bakteri yang dikenal bisa mengubah racun menjadi emas. 

Jenis bakteri pertama adalah Cupriavidus metallidurans. Kemampuannya mengumpulkan emas diketahui oleh peneliti dari University of Adelaide, Frank Reith. Sekitar satu dekade lalu, ia mengetahui adanya bakteri yang hidup di gumpalan emas. Ia penasaran, bagaimana hal itu bisa terjadi.

Lewat hasil riset yang dipublikasikan di Proceeding of the National Academy of Science, Reith mengungkap bahwa bakteri itu mengubah senyawa emas klorida yang bersifat racun menjadi emas berharga.

Senyawa emas klorida biasanya terdapat di lokasi pertambangan. Limbah itu masalah. Emas memang berharga jika dijual, tetapi bersifat neurotoksik jika masuk ke tubuh manusia lewat lingkungan.

Sementara Nathan Magarvey, ahli biokimia dari McMaster University di Kanada, menemukan jenis bakteri kedua yang bisa menghasilkan emas, yaitu Delftia acidovarans.

Magarvey, lewat publikasinya di Nature Chemical Biology, mengatakan, bakteri D acidovarans akan membentuk lapisan nanopartikel emas di area limbah yang kaya emas klorida. Analisis yang dilakukan lantas mengungkap bahwa meski sama-sama menghasilkan emas, dua jenis bakteri itu mengumpulkan emas dengan cara berbeda.

Bakteri C metallidurans mengumpulkan emas di dalam selnya, sedangkan D acidovarans di luar selnya. Namun demikian, dua jenis bakteri itu diduga bersimbiosis untuk "membersihkan" emas dari lingkungan agar bisa hidup.

Dengan ujicoba rekayasa genetika, Magarvey mengungkap dua bakteri itu memang berbakat mengumpulkan emas. Buktinya, ada gen yang bertanggung jawab untuk proses itu. Gen itu pada D acidovarans menghasilkan zat delftibactin. 

Selain berguna dalam mengumpulkan emas, zat itu juga menjaga agar emas tak masuk ke dalam sel.

Reith mengatakan, kemampuan bakteri itu bisa digunakan untuk mengolah limbah pertambangan. Bakteri bisa disebar di area pengolahan limbah, dan dibiarkan membersihkan serta mengumpulkan emas.

Anda bisa saja nantinya membuat emas di kolam limbah atau di cawan laboratorium. Tapi, bukan itu yang menarik bagi Magarvey dan Reith. Keduanya lebih tertarik pada zat delftibactin, dan proses menghasilkan emasnya.