Hasil Studi: Lajang alias Jomblo Lebih Bahagia daripada Menikah

Share:

Setiap perubahan zaman tampaknya ikut mempengaruhi perubahan terkait cara orang mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Kenyataannya, perubahan zaman memang mengubah banyak hal. Karenanya, menentukan suatu standar tertentu dengan menggunakan standar dari masa lampau bisa tidak relevan, termasuk standar dalam mengukur tingkat kebahagiaan hidup seseorang.

Seperti kebahagiaan terkait menikah atau tidak. Di masa lalu, orang mungkin bisa mengatakan bahwa menikah akan menjadikan pelakunya bahagia, dan tidak menikah akan membuat pelakunya tidak/kurang bahagia. Tapi itu standar di masa lalu. Di masa sekarang, standar itu sudah berubah.

Pada 1858, studi yang menyimpulkan bahwa hidup dalam pernikahan jauh lebih baik dari menjomblo muncul pertama kalinya. Semakin ke sini, kepastian tersebut mulai luruh seiring perkembangan sains yang mengungkap bahwa jomblo juga ada baiknya.

Jumlah jomblo di Indonesia, termasuk yang sudah cerai, semakin bertambah beberapa tahun terakhir ini. Riset serupa yang dilakukan pendiri jasa pencarian pasangan Heart.inc, Zola Yoana mengungkap, jomblo di atas usia 27 tahun meningkat dua persen setiap tahun, dengan jomblo lelaki mendominasi.

Terlepas dari banyaknya alasan mengapa orang memilih hidup sendiri, studi berhasil membuktikan bahwa mereka yang menjomblo jauh lebih berbahagia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks kebahagiaan penduduk yang belum menikah cenderung paling tinggi (71,53) dibandingkan dengan penduduk dengan status menikah (71,09), cerai mati (68,37), dan cerai hidup (67,83).

Meski kepuasan hidup jomblo terbilang rendah, mereka ditemukan memaknai hidup lebih baik. "Kalau single paling happy. Setelah dia menikah, indeks kebahagiaannya turun sedikit. Lalu ketika cerai, maka indeks kebahagiannya turun drastis," ujar Kepala BPS.

Ya, tampaknya tak salah jika kemudian kaum milenial dilabeli "generasi malas nikah".

Secara global, fenomena hidup melajang juga pernah dianalisis psikolog Henri C. Santos dan tim. Berbekal data setengah abad (1960-2011) dari 78 negara di seluruh dunia, periset menemukan bahwa popularitas menjomblo meningkat secara signifikan pada 83 persen negara.

Kabar baiknya, kecenderungan menjomblo memberi kesempatan untuk mendefinisikan kembali makna tradisional sekaligus batasan antara diri, keluarga, dan masyarakat.

Di AS misalnya, jika dulu pernikahan dianggap sebagai patokan kedewasaan, survei biro sensus AS menemukan 55 persen responden menilai menikah bukan lagi kriteria pengukur kedewasaan. Begitu pula dengan memiliki anak. Bagi mereka, yang terpenting adalah menyelesaikan sekolah formal dan memiliki pekerjaan tetap.

Mengutip beberapa studi yang ditulis ilmuwan sosial Bella DePaulo dalam The Conversation, ketimbang orang yang menikah, para lajang cenderung lebih terbuka dan peduli dengan tetangga dan temannya. Mereka juga lebih sering berkunjung, memberi dukungan dan saran, serta lebih intens berhubungan dengan saudara dan orang tuanya.

Bahkan, jomblo juga lebih banyak berpartisipasi dalam kelompok masyarakat dan acara publik, serta lebih peduli pada layanan sosial.

Pernyataan DePaulo didukung studi bulan Juli di New York University yang menyebutkan, mereka yang jomblo lebih bahagia karena lebih leluasa menjaring dukungan sosial tak berbatas dari keluarga, saudara, teman, kolega, dan lainnya.

Di luar itu, stigma dan stereotip lama memang muncul pada mereka yang jomblo, seperti dikatakan lebih egois, kurang harga diri, tidak aman, mati lebih cepat, kesepian, dan bergelimang kesedihan. Namun, faktanya studi-studi tentang masyarakat jomblo menunjukkan hasil yang baik.

Melansir Thecut.com, studi mengenai hubungan romantis dan harga diri di Jerman yang diterbitkan dalam Jurnal Personality and Social Psychology menemukan para jomblo memiliki harga diri yang jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang hubungannya gagal.

Menurut studi tersebut, suatu hubungan hanya akan meningkatkan harga diri jika jalinannya romantis, stabil, dan fungsinya baik. Dengan kata lain, orang menikah boleh jadi punya harga diri lebih rendah dibanding mereka yang menjalani hubungan romantis tanpa ikatan, ataupun mereka yang menjomblo.

Begitu pula, studi lama yang menyebut pasangan menikah lebih sehat dibanding ketika masih lajang, sebetulnya adalah hasil temuan bersyarat yang menuntut adanya dukungan dan kasih sayang dalam hubungan. Tiga penelitian metodologis tahun ini mencoba membuka mata.

Studi pertama menemukan, perempuan menikah bertambah berat badan dan lebih banyak minum alkohol dibanding yang menjomblo. Perempuan jomblo usai cerai bahkan makan lebih sehat, lebih banyak olahraga, dan lebih singset.

Pada studi kedua di Swiss yang diadakan selama16 tahun, terungkap bahwa orang-orang yang menikah memiliki kesehatan menyeluruh yang sedikit lebih buruk dibanding ketika mereka masih lajang.

Sementara studi ketiga, yang mensurvei 12 ribu orang di AS dengan berbagai skenario pernikahan, termasuk lamanya pernikahan dan kapan menikah, menemukan kaum milenial yang menikah pada dasarnya tidak pernah merasa lebih sehat.

Sebagai pengecualian, mereka yang lahir antara tahun 1955-1964, dan telah menjalani biduk rumah tangga setidaknya 10 tahun, barulah menganggap diri mereka sedikit lebih sehat.

Pada akhirnya, pernikahan mungkin bukan satu-satunya langkah ideal menjalani hidup. Serentet bukti ilmiah semakin mendukung bahwa Anda yang melajang jauh lebih bahagia.