Dari Einstein hingga Da Vinci, Mengapa Ada Orang Punya Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa? (Bagian 2)

Share:

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Dari Einstein hingga Da Vinci, Mengapa Ada Orang Punya Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Kekuatan penyerbukan silang

Tentu saja ada beberapa alasan masuk akal mengapa kita ragu menguasai beragam bidang. Salah satunya adalah ketakutan bahwa diri kita akan terbelah jika mengabdikan diri pada lebih dari satu pekerjaan.

Dengan perhatian yang terbagi, kita akan gagal mencapai kesuksesan dalam bidang apapun.

Pada kenyataannya, terdapat sejumlah bukti bahwa mengembangkan berbagai disiplin ilmu dapat memicu kreativitas dan produktivitas. Jadi, walau fokus mengejar minat kedua atau ketiga terlihat seperti distraksi, sebenarnya itu justru dapat meningkatkan pencapaian pada bidang utama Anda.

Seperti yang ditulis David Epstein dalam bukunya, Range, ilmuwan berpengaruh jauh lebih mungkin memiliki ragam minat di luar bidang penelitian utama ketimbang ilmuwan rata-rata.

Berbagai kajian menemukan fakta bahwa para ilmuwan pemenang Hadiah Nobel sekitar 25 kali lebih mungkin untuk bernyanyi, menari atau berakting daripada ilmuwan pada umumnya.

Mereka juga 17 kali lebih mungkin menciptakan seni visual, 12 kali lebih mungkin menulis puisi dan empat kali lebih mungkin menjadi musisi.

Ahmed dan akademis lain menilai fenomena ini bekerja ibarat penyerbukan silang: ide di satu bidang berfungsi untuk menginspirasi inovasi di bidang lainnya.

Misalnya Antheil yang pernah membuat musik latar dengan melibatkan sejumlah piano yang ia mainkan dan sinkronkan sendiri. Bersama Lamarr, ia lalu memanfaatkan mekanisme instrumen-instrumen itu untuk menghasilkan perangkat antisumbat.

Fenomena itu juga diamati Ahmed dalam biografi seorang polimatik terbesar dalam sejarah.

"Polimati adalah jalur optimal untuk kreativitas karena, pada dasarnya, itu mengharuskan Anda memiliki pengalaman dan pengetahuan beragam," kata Ahmed.

Menurutnya, ini terbukti dalam sosok seperti Leonardo da Vinci. Penguasaan ilmu anatomi, matematika, dan geometri meningkatkan ketepatan lukisan da Vinci. Di sisi lain, imajinasi visual juga memicu kreativitas pelukis kenamaan itu dalam bidang teknik mesin. "Hal-hal ini saling berkaitan," ujar Ahmed.

Berpindah subyek

Jika Anda tergoda untuk menjalani kehidupan yang lebih polimatik, Ahmed menyarankan Anda menggunakan waktu lebih efisien. Tujuannya untuk memberi ruang bagi banyak minat.

Saat ini terdapat pemahaman, saat berkonsentrasi pada hal rumit, otak sering mencapai titik jenuh. Akibatnya, konsentrasi Anda pudar dan upaya ekstra apa pun tak akan membuahkan hasil.

Namun, jika Anda beralih ke aktivitas lain yang tidak berkaitan, Anda mungkin bisa lebih fokus. Bergeser di antara berbagai jenis tugas dapat meningkatkan produktivitas Anda secara keseluruhan.

Sejumlah bukti itu muncul dalam penelitian di bidang pendidikan. Penelitian terhadap siswa dari berbagai disiplin ilmu, dari olahraga hingga musik, menunjukkan, setelah melewati sesi latihan atau pelajaran, manusia tak dapat lagi menyerap ilmu secara efisien.

Oleh karenanya, kita dapat memanfaatkan waktu dengan lebih baik jika kita secara teratur beralih antar keterampilan atau mata pelajaran.

Hal yang sama berlaku dalam kajian terkait penyelesaian masalah. Anda akan menemukan lebih banyak solusi jika Anda kembali ke sana setelah melihat sesuatu yang sama sekali berbeda, daripada hanya menghabiskan waktu untuk pertanyaan yang sama.

Orang yang ingin menjadi polimatik dapat meraup keuntungan dari pendekatan ini dengan cara berganti-ganti fokus. Syaratnya, mereka menggunakan otak pada efisiensi maksimum di setiap bidang, sembari menghindari usaha yang sia-sia setelah mereka mencapai titik saturasi kognitif.

"Anda dapat fokus dan menjadi sangat produktif pada titik tertentu, lalu Anda perlu mengubah aktivitas untuk kembali ke zona optimal," kata Ahmed.

"Jadi saya paham, misalnya, bahwa jika saya secara eksklusif seorang seniman atau pelukis, maka saya tidak akan begitu produktif karena fokus saya akan berkurang. Saya perlu rangsangan eksternal agar saya dapat mengatasi rintangan."

Albert Einstein, yang merupakan pemain biola dan pianis ulung serta fisikawan, tampaknya menggunakan pendekatan ini.

Menurut putra dan putrinya, Einstein memainkan musik setiap kali dia menghadapi masalah yang sulit diatasi, dan sering menyelesaikan pertunjukan dengan mengatakan, "Sekarang, aku sudah mendapatkannya".

Itu adalah penggunaan waktu yang jauh lebih baik daripada terus menderita tanpa hasil atas matematika atau fisika.

Asahlah polimatik batin Anda

Semuanya menunjukkan bahwa kemampuan polimatik mungkin berada dalam jangkauan lebih banyak orang daripada yang pernah kita duga.

Dan bahkan jika kita tidak mencapai ketinggian seseorang seperti Leonardo da Vinci, kita masih akan menemukan beberapa manfaat dari memperluas minat kita, daripada tanpa henti mengejar spesialisasi sempit.

Kita memiliki banyak keunggulan dibandingkan para polimatik di masa lalu. Internet, bagaimanapun, sekarang penuh dengan kursus online gratis terkait berbagai disiplin ilmu dan berkomunikasi dengan ahli kini jauh lebih mudah, salah satunya melalui aplikasi seperti Skype, bahkan jika saling berjarak ratusan mil.

"Kita berpeluang menghasilkan polimatik, terutama di tempat-tempat di mana metode ini tidak akan pernah mungkin diterapkan," kata Michael Araki, yang meneliti polimatik di Pontifical Catholic University of Rio de Janeiro.

Ahmed menilai sudah waktunya bagi sebagian besar dari kita untuk merangkul kemungkinan-kemungkinan itu.

Dia menekankan, banyak tantangan dalam masyarakat yang paling mendesak, seperti perubahan iklim, yang membutuhkan pemecahan yang sangat kreatif dari berbagai bidang. Polimatik akan mungkin menjadi orang terbaik yang akan menemukan solusi persoalan itu.

Banyak orang, kata Ahmed, mengaitkan polimatik dengan para lelaki era Renaisans. "Tapi ini menjadi lebih relevan hari ini daripada sebelumnya," tuturnya.