Dari Einstein hingga Da Vinci, Mengapa Ada Orang Punya Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa? (Bagian 1)

Share:

Orang-orang yang memiliki pengetahuan dan bakat tak terbatas, unggul di berbagai bidang. Tapi apa yang membuat mereka sedemikian cakap? Dan dapatkah keahlian mereka menjawab persoalan yang paling rumit di masyarakat?

Jika bukan karena seorang aktris yang juga berprofesi sebagai pianis, alat pemosisi global (GPS) dan sambungan internet nirkabel tidak akan pernah ada.

Pada akhir 1930-an dan awal 40-an, Hedy Lamarr sudah sangat terkenal di Hollywood. Kala itu ia terkenal memiliki citra sebagai perempuan yang sangat aktraktif dan menggoda.

Sejumlah orang yang hidup pada masa itu tahu bahwa ia memiliki hasrat besar lain untuk mencipta. Lamarr bahkan pernah mendesain pesawat terbang ramping untuk kekasihnya, taipan industri penerbangan, Howard Hughes.

Lamarr bertemu orang yang memiliki semangat serupa dalam diri George Antheil. Ia adalah pianis, komposer dan novelis avant-garde yang juga memiliki minat pada bidang teknik.

Dan ketika pasangan itu menyadari bahwa pasukan musuh sedang mengganggu sinyal radio Sekutu, mereka mencari solusi. Hasilnya adalah metode transmisi sinyal yang disebut 'spektrum penyebar frekuensi'.

Penemuan itu belakangan dipatenkan dengan nama pernikahan Lamarr, Markey. Ciptaannya kini masih digunakan dalam teknologi nirkabel.

Barangkali ini adalah fakta mengejutkan di balik sebuah terobosan teknologi. Tapi kisah Lamarr dan Antheil sangat menggambarkan pemikiran seorang polimatik.

Selain mengurai sifat-sifat khusus yang memungkinkan seseorang sukses menguasai berbagai keahlian, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, mengejar berbagai minat ternyata meningkatkan kepuasan hidup, produktivitas kerja, dan kreativitas.

Sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mencapai kesuksesan yang diraih Lamarr atau Antheil, tapi suatu kajian akademis menyebut bahwa kita semua bisa memperoleh manfaat dari menghabiskan sedikit lebih banyak waktu di luar spesialisasi yang kita pilih.

Apa itu polimatik?

Definisi terminologi ini adalah topik perdebatan. Istilah ini berakar pada bahasa Yunani kuno dan pertama kali digunakan pada awal abad ke-17 untuk merujuk seseorang yang menguasai banyak ilmu.

Namun tak ada cara mudah untuk memutuskan seberapa maju pembelajaran dan jumlah disiplin ilmu yang mereka kuasai.

Sebagian besar peneliti berpendapat, untuk menjadi polimatik sejati, Anda perlu 'pengakuan resmi' setidaknya dalam dua bidang yang tidak saling terkait. 

Salah satu pembahasan paling rinci tentang isu ini ditulis Waqas Ahmed dalam bukunya, yang berjudul The Polymath. Sebagian inspirasi buku itu bersifat personal: Ahmed telah menjelajah beberapa bidang dalam karirnya hingga saat ini.

Dengan gelar sarjana ekonomi dan titel pasca sarjana dalam studi hubungan internasional dan ilmu saraf, Ahmed bekerja sebagai jurnalis diplomatik dan instruktur saraf pribadi.

Kini Ahmed mengejar kecintaannya pada seni visual sebagai direktur artistik di salah satu museum seni pribadi terbesar di dunia. Pada saat yang sama ia juga secara profesional menciptakan karya seni.

Terlepas dari pencapaiannya, Ahmed tidak mengidentifikasi diri sebagai seorang polimatik. "Terlalu berlebihan untuk menyebut diri saya sebagai salah satu dari mereka," ujarnya.

Saat menelisik sejarah kehidupan seorang polimatik, ia hanya merujuk ke orang-orang yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap minimal tiga bidang.

Contoh yang ia sebut antara lain Leonardo da Vinci (seniman, penemu dan ahli anatomi), Johann Wolfgang von Goethe (penulis hebat yang juga mempelajari botani, fisika dan mineralogi), dan Florence Nightingale (penggagas keperawatan modern, ahli statistik dan teolog ulung).

Dari biografi mereka dan tinjauan literatur psikologi, Ahmed kemudian mengidentifikasi berbagai faktor yang memungkinkan seorang polimatik untuk mencapai kebesaran mereka.

Seperti yang Anda duga, kecerdasan yang lebih tinggi dari rata-rata tentu saja berpengaruh besar.

"Untuk sebagian besar yang memfasilitasi atau memicu pembelajaran," kata Ahmed. Tapi pikiran terbuka dan rasa ingin tahu juga penting.

"Anda tertarik pada suatu fenomena, tapi Anda tak peduli ke mana penyelidikan atas hal itu mengarahkan Anda, bahkan jika rasa ingin tahu itu mendorong Anda ke wilayah yang tidak Anda kenal," ujar Ahmed.

Polimatik juga sering mandiri atau belajar otodidak, dan individualis. Orang-orang seperti ini didorong keinginan besar untuk pemenuhan pribadi. Kualitas-kualitas ini juga dikombinasikan dengan pandangan dunia yang lebih holistik.

"Seorang polimatik tidak hanya bergerak di antara bidang yang berbeda, tapi juga mencari koneksi mendasar di antara bidang itu, sehingga mereka memiliki wawasan unik untuk setiap bidang," kata Ahmed.

Seperti ciri-ciri kepribadian lainnya, semua faktor itu memiliki dasar genetik tertentu, meski juga dibentuk lingkungan kita.

Ahmed berkata, banyak anak terpesona berbagai bidang, tapi sekolah, universitas, dan pekerjaan cenderung mendorong kita untuk hanya memiliki satu spesialisasi tertentu. Begitu banyak orang mungkin memiliki kapasitas untuk menjadi polimatik jika mereka didorong faktor-faktor yang tepat.

Penilaian Ahmed itu sesuai dengan kajian akademis Angela Cotellessa. Dalam program doktoral di George Washington University, ia mewawancarai sejumlah polimatik modern.

Kriteria polimatik yang digunakan Cotellessa sedikit lebih ketat ketimbang Ahmed. Orang-orang yang ia teliti harus memiliki karir yang sukses setidaknya di dua bidang, misalnya seni dan ilmu pengetahuan. Orang-orang itu juga harus mengidentifikasi diri mereka sebagai politmatik.

Seperti Ahmed, Cotellessa menemukan bahwa faktor seperti rasa ingin tahu sangat penting. Tapi menurutnya, ketahanan emosional tinggi juga penting saat menghadapi harapan eksternal.

"Karena lingkungan mendorong kita untuk menekuni satu bidang, polimatik adalah orang-orang yang tidak melakukan itu. Mereka menempa jalan mereka sendiri," ujarnya.

Baca lanjutannya: Dari Einstein hingga Da Vinci, Mengapa Ada Orang Punya Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa? (Bagian 2)