6 Pelatih Sepakbola Hebat Tanpa Karier Bermain Profesional


Fenomena pelatih berprestasi yang tidak memiliki latar belakang karier profesional ternyata sudah berlangsung cukup lama. 

Pada awalnya, banyak yang percaya bahwa seorang pelatih harus punya latar belakang sebagai pemain hebat. Pengalaman sebagai pemain dipercaya sebagai satu syarat mutlak untuk menangani sebuah tim profesional.

Namun, fenomena pelatih hebat yang tak pernah bermain secara profesional, nyatanya memang ada. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Bill Struth 

Bill Struth adalah pelatih kedua Rangers sepanjang sejarah. Ia memimpin Glasgow Rangers selama 34 tahun, mulai 1920 hingga 1954.

Selama menangani Rangers, Struth memenangkan 18 gelar Liga Skotlandia, 10 Piala Skotlandia, dan 2 piala liga. Pencapaian paling hebat didapatkannya sebelum Perang Dunia II dengan rekor 14 gelar liga dalam 19 tahun.

Untuk mengenang kehebatan Struth, Rangers membuat patung perunggu di depan Ibrox Stadium. Selain itu, lukisan Struth juga menghiasi ruang trofi Rangers.

2. Carlos Alberto Parreira

Carlos Alberto Parreira dikenal sebagai pelatih yang sangat sukses ketika menangani timnas. Ia adalah satu dari dua pelatih yang mengantarkan lima negara berbeda di Piala Dunia; Kuwait 1982, Uni Emirat Arab 1990, Brasil 1994 dan 2006, Arab Saudi 1998 dan Afrika Selatan 2010.

Pencapaian puncak Parreira adalah ketika berhasil mengantarkan Brasil menjadi juara dunia pada 1994. Tak banyak yang tahu bahwa ia juga berhasil menyelamatkan Fluminense dari kebangkrutan dengan memenangkan trofi Divisi Tiga Brasil pada 2009.

Parreira tak pernah menjalani karier sebagai pemain profesional. Ia meretas jalan menjadi manajer dengan menjadi pelatih fitnes di klub kecil Sao Crostovao pada 1967.

3. Arrigo Sacchi

Untuk negara dengan pandangan sepakbola konservatif semacam Italia, reputasi adalah hal yang penting. Hal itu pula yang dihadapi Arrigo Sacchi ketika pertama kali ditunjuk sebagai pelatih AC Milan.

Sacchi mengawali karier sepakbolanya sebagai pelatih klub amatir Baccara Lugo. Ia menjadi pelatih karena tak memiliki kemampuan bermain yang cukup untuk masuk skuad. Sembari melatih, Sacchi juga bekerja sebagai penjual sepatu.

Pers kota Milan menyerangnya habis-habisan ketika Silvio Berlusconi menunjuknya jadi pelatih. Media tak percaya bahwa Sachhi akan bisa memimpin Rossoneri karena tak punya pengalaman bermain. Sacchi menjawab singkat dengan mengatakan: "Seorang joki tidak harus lahir sebagai kuda."

Sacchi membuktikan ucapannya. Pencapaian terbaiknya adalah membawa Milan meraih dua gelar Liga Champions secara beruntun. Selain itu, Sacchi juga menghapus man-marking dari taktik Milan. Ia menjadi pionir zonal marking dalam sepakbola Italia.

4. Gerard Houllier

Gerard Houlier awalnya menjalani hidup layaknya kebanyakan orang lainnya. Ia masuk universitas, mengambil jurusan Bahasa Inggris namun harus keluar di tahun pertamanya karena sang ayah sakit. Houlier harus bekerja sebagai guru.

Ia lalu bekerja sambil meneruskan kuliahnya dan pada 1969 ia mendapat kesempatan menjalani praktek lapangan di Liverpool. Di Liverpool ia bergabung bersama klub amatir setempat, Alsop Liverpool.

Houlier lalu diangkat menjadi kepala sekolah dan ia mulai menangani tim amatir di daerahnya Le Touquet. Kariernya terus melambung hingga bisa melatih Lens, PSG, Timnas Prancis, Liverpool, Lyon dan Aston Villa.

Prestasi terbaiknya adalah ketika mengantarkan Liverpool meraih treble winners (Piala FA, Piala Liga dan Liga UEFA) pada 2001. Kini ia menjadi direktur sepakbola global Red Bull. 

5. Andre Villas-Boas 

Andre Villas-Boas merupakan anak didik Sir Bobby Robson dan Jose Mourinho dalam hal kepelatihan. Meski tak pernah menjadi pemain profesional, AVB sudah dipercaya menjadi pelatih timnas British Virgin Islands pada usia 21 tahun.

Ia kemudian menjadi salah satu orang kepercayaan Mourinho di Porto, Chelsea dan Inter. AVB berpisah dengan Mou pada awal musim 2009/10 untuk melatih Academica de Coimbra. Ia meraih sukses instan bersama klub kecil Portugal itu.

Bakat AVB segera tercium oleh Porto yang mengontraknya pada Juni 2010. Baru dua bulan memegang kendali Porto, AVB mempersembahkan trofi pertamanya; Piala Super Portugal. Pencapaian puncaknya adalah ketika mengantarkan Porto meraih treble winners (Liga Portugal, Piala Portugal dan Liga Europa pada 2011.

AVB lalu menjadi pelatih Chelsea sebelum akhirnya dipecat dan digantikan oleh Roberto di Matteo. Kini ia melatih Tottenham dan baru saja menggeser Chelsea dari posisi tiga klasemen sementara.

6. Pelatih dengan Pengalaman Bermain Minimal

Jose Mourinho bermain bagi Rio Ave, Balenenses dan beberapa klub lainnya. Namun ia tak pernah benar-benar sukses sebagai pemain. Tetapi kemampuannya sebagai pelatih tak perlu diragukan lagi.

Avram Grant memulai kariernya sebagai pelatih di Israel pada usia 18 tahun. Ralf Rangnick tak berhasil mengembangkan kariernya sebagai pemain di klub amatir Stuttgart.

Arsene Wenger hanya bermain 11 kali bagi AC Strassbourg namun punya kemampuan hebat dalam mengelola Arsenal.

Di Portugal, pelatih yang tak berpengalaman sebagai pemain mendapatkan apresiasi besar. Vitor Pereira (Porto), leonardo Jardim (Braga), dan Pedro Caixinha (Nacional) tak punya pengalaman bermain tetapi tetap dianggap sebagai pelatih-pelatih terbaik Liga Portugal saat ini.