5 Fakta Terkenal Martin Luther King Jr. yang Sebenarnya Cuma Mitos

Share:

Banyak orang di dunia yang mengenal sosok aktivitas HAM terkemuka yang satu ini. Martin Luther King, Jr. dikenal dengan baik sebagai pemimpin gerakan hak-hak sipil dan gerakannya dalam memperjuangkan kesetaraan melalui protes damai.

Faktanya, dia adalah satu-satunya orang yang memiliki hari libur nasional yang dinamai menurut namanya. Namun terlepas dari ketenarannya, banyak pengetahuan umum seputar kehidupan pemimpin hak-hak sipil ini sebenarnya salah. 

Berikut ini lima mitos paling populer yang mungkin pernah kamu dengar tentang Martin Luther King, Jr. yang sebenarnya adalah mitos.

1. Dia sendiri yang mengawali gerakan hak-hak sipil

Banyak orang mengira bahwa King memulai semua gerakan ini sendiri. Walaupun dia yang paling fenomenal atau paling menonjol, tapi dia tidak mengubah sejarah sendirian. Aktivis hak-hak sipil seperti E.D Nixon dan Pendeta Vernon Johns adalah beberapa tokoh di antara beberapa tokoh kunci yang sekarang dianggap sebagai 'bapak' gerakan hak-hak sipil.

Beberapa dekade sebelum King bergabung dengan gerakan ini, baik Nixon dan Johns dengan berani berbicara menentang diskriminasi di Selatan. Kemudian, gagasan itu digaungkan kembali oleh Martin King.

2. Bakat publik speaking-nya alami

Jika kamu berpikir berbicara di depan umum mudah bagi King, kamu tidak salah. Dia hanya tidak pernah menghindar dari kesempatan untuk berbicara di depan orang banyak. Dia hanya terus belajar hingga suara serta gaya pidatonya punya kharisma yang kuat.

Namun, bukti menunjukkan bahwa King bukanlah orator yang lahir alami. Percaya atau tidak, dia menerima nilai C ketika berbicara di depan umum saat menghadiri sekolah seminari Crozer Theological.

3. Fokusnya adalah rasisme di Amerika Serikat

Kebanyakan film menggambarkan kehidupan King menggunakan demonstrasi hak-hak sipil terkenal yang dia pimpin, termasuk boikot bus, aksi duduk dan pawai di seluruh wilayah Selatan Amerika. Tentu saja, itu adalah saat-saat penting baginya dan bagi Amerika, tetapi ambisi King untuk perubahan melampaui persamaan ras di Amerika Serikat.

Dia banyak menulis tentang perjuangan dekolonisasi di Afrika dan Asia, membandingkannya dengan kampanye Amerika untuk hak-hak sipil. Bahkan di saat menjelang akhir hidupnya, dia juga berbicara menentang Perang Vietnam dan posisi agresif Amerika melawan komunisme di luar negeri.

4. Dia dari Partai Republik

Karena Partai Republik masih dianggap sebagai partai Abraham Lincoln selama masa hidup King, banyak orang Afrika Amerika memilih para politisi Republik. Bukan hanya itu, banyak yang mengira bahwa Abraham Lincoln juga menginginkan kesetaraan maka King juga lebih berporos ke Republik.

Para penggerak hak-hak sipil tidak percaya bahwa King sendiri terkait dengan Partai Republik. Bahkan, ia dikenal kritis terhadap kedua parpol tersebut dan pernah mengatakan bahwa, keduanya memiliki kelemahan dan ia tidak terikat erat dengan salah satu pihak.

5. Martin King dan Malcolm X adalah musuh

Pada pandangan pertama, King dan Malcolm X mungkin tampak berlawanan. King meminta para aktivis untuk menggelar protes tanpa kekerasan, sementara Malcolm X mendorong para pengikutnya untuk mengadopsi metode yang lebih radikal.

Namun, kedua pemimpin hak sipil ini sebenarnya lebih banyak sepaham lebih dari yang kita semua kira. Keduanya menentang perang di Vietnam dan percaya bahwa revolusi diperlukan untuk mencapai kesetaraan di Amerika Serikat. Malcolm X bahkan memberikan dukungan untuk kampanye King di Selma, Alabama, pada tahun 1965, menurut The Washington Post.