Faktanya, Tidak Semua Orang Cocok Bangun Pagi

Faktanya, Tidak Semua Orang Cocok Bangun Pagi

BIBLIOTIKA - Waktu sehari semalam berduasi 24 jam, yang dibagi 12 jam siang hari dan 12 jam malam hari. Dalam durasi tersebut, jam masuk sekolah dan masuk kantor rata-rata pagi hari. Karenanya, sejak kecil kita telah dipaksa untuk bangun pagi. Yang masih sekolah harus berangkat sekolah, sementara yang sudah bekerja harus berangkat kerja.

Dari situ pulalah, mungkin, muncul asumsi bahwa orang yang bangun siang adalah pemalas. Karena bangun pagi identik dengan aktivitas, dalam hal ini sekolah dan berangkat kerja. Karena itu pula, orang bikin pepatah, “Kalau bangunnya siang, rezekinya dipatok ayam.”

Hampir semua nasihat dan ajaran tentang kesuksesan hidup rata-rata juga menganjurkan agar kita bangun pagi. Dalam hal ini, memang ada contoh-contoh orang sukses—yang mengendalikan perusahaan-perusahaan besar—yang rajin bangun pagi. Tim Cook, CEO Apple, bangun setiap pukul 3.45 pagi. Sergio Marchionne, CEO Fiat, bangun pada pukul 3.30 pagi. Richard Branson, CEO Virgin, bangun pada pukul 5.45 pagi.

Tetapi, hanya karena orang sukses bangun pagi, apakah itu sifat yang dimiliki semua orang sukses? Dan jika ide berolahraga, merencanakan hari Anda, makan sarapan, memvisualisasikan dan mengerjakan satu pekerjaan sebelum jam delapan pagi membuat Anda ingin kembali berguling di tempat tidur, dan menunda alarm hingga Sabtu depan, apakah Anda ditakdirkan untuk hidup yang kurang sukses?

Bagi setengah dari kita, itu sebenarnya bukan permasalahan. Diperkirakan sekitar 50% dari populasi bukanlah orang yang benar-benar harus produktif di pagi atau sore hari, namun di antaranya.

Hampir satu dari empat kita, cenderung bangun dan siap bearktivitas di pagi hari sekali, dan sekitar satu dari empat yang lain adalah orang yang suka tidur larut. Bagi mereka, efeknya bisa tertidur di depan TV pada pukul 10 malam atau sangat telat ke kantor. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang suka bangun pagi atau siang menunjukkan pembagian otak kiri dan otak kanan yang klasik: lebih analitis dan kooperatif versus lebih imajinatif dan individualis.

Banyak penelitian menemukan bahwa orang yang suka bangun pagi lebih gigih, bisa mengelola diri sendiri, dan menyenangkan. Mereka membuat target yang lebih tinggi untuk diri mereka, lebih merencanakan masa depan mereka dan memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Dan dibandingkan dengan orang yang suka tidur larut, kecenderungan mereka untuk depresi, minum dan merokok lebih kecil.

Meski orang yang suka bangun pagi cenderung lebih baik secara akademis, orang yang suka tidur larut cenderung lebih baik dalam hal memori, kecepatan memproses dan kemampuan kognitif, bahkan saat mereka harus melaksanakan semua pekerjaan di pagi hari.

Orang yang produktif di malam hari juga lebih terbuka dengan pengalaman-pengalaman baru dan ingin melakukannya lebih sering. Mereka mungkin lebih kreatif (meski tak selamanya). Dan kebalikan dari semua aturan sifat baik ('sehat, kaya dan bijak'), sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang suka tidur larut sama sehat dan bijaknya dengan orang yang suka bangun pagi - dan kadang lebih kaya.

Masih berpikir orang yang suka bangun pagi terdengar seperti ciri-ciri seorang CEO? Jangan dulu mengatur alarm Anda untuk pukul lima pagi. Ternyata, merombak waktu tidur Anda mungkin tidak memiliki dampak yang besar.

"Jika orang dibiarkan tidur seperti waktu alamiah mereka, mereka akan merasa lebih baik. Mereka mengatakan, mereka lebih produktif. Kapasitas mental yang mereka miliki menjadi lebih besar," kata pakar biologi dari Universitas Oxford, Katharina Wulff, yang mempelajari kronobiologi dan tidur.

Di sisi lain, katanya, mendorong orang untuk tidur jauh di luar keinginan alamiah mereka dapat berbahaya. Saat mereka bangun cepat, misalnya, orang yang suka tidur larut masih memproduksi melatonin. "Kemudian Anda mengganggunya, dan mendorong tubuh agar dalam kondisi siang hari. Hal itu dapat menimbulkan konsekuensi fisiologis yang negatif," kata Wulff, “seperti kepekaan yang berbeda terhadap insulin dan glukosa, yang dapat menyebabkan bertambahnya berat badan.”

Di banyak hal, itu masuk akal, karena penelitian menunjukkan bahwa kronotipe kita, atau jam internal kita, sebagian besar biologis. (Para peneliti bahkan menemukan bahwa ritme sirkadian sel manusia secara in vitro berkorelasi dengan ritme orang asal sel tersebut).

Hingga 47% dari hal itu diwariskan, yang berarti jika Anda ingin tahu mengapa Anda bangun subuh setiap hari (atau justru tidak pernah), Anda mungkin harus melihat orang tua Anda. Satu faktor genetik tampaknya adalah panjang siklus sirkadian: manusia rata-rata memiliki jam biologis sepanjang 24,2 jam, yang berarti setiap orang menyesuaikan sedikit setiap hari dengan ritme 24 jam.

Namun bagi orang yang tidur larut, jam biologis biasanya berjalan lebih lama - yang berarti, tanpa petunjuk eksternal untuk berubah, mereka akan tidur dan bangun semakin lama dan lama, seiring berjalannya waktu.

Preferensi Anda akan berubah saat Anda semakin tua. Anak-anak cenderung bangun pagi hari dengan perubahan mencolok di usia sekitar 20 tahun menjadi orang malam dan kemudian berubah lagi ke orang pagi saat berusia sekitar 50 tahun. Namun dibandingkan dengan rekan-rekan Anda, Anda mungkin jatuh ke spektrum yang kurang lebih sama.

Mata yang cerah

Di dalam upaya kita untuk menemukan 'rahasia' kesuksesan, kita cenderung melupakan beberapa hal. Pertama, tidak semua orang yang sukses bangun pagi, dan tidak semua orang yang bangun pagi itu sukses. (Orang yang bangun siang yang terkenal, antara lain CEO Box, perusahaan penyedia layanan berbagi berkas dan manajemen konten daring, Aaron Levie dan CEO Buzzfeed, perusahaan media digital, Jonah Peretti, dan orang-orang kreatif seperti James Joyce, Gertrude Stein, dan Gustave Flaubert).

Namun lebih penting lagi, dalam sebuah frase yang disukai oleh akademisi di mana saja, korelasi bukanlah sebab akibat. Dengan kata lain, tidak jelas apakah bangun pagi benar-benar memberikan manfaat. Melainkan, mungkin saja sebagian besar kita diharapkan memulai pekerjaan atau sekolah pada pukul 8 atau 9 pagi.

Jika Anda seorang manusia pagi, kombinasi dari perubahan biologis, dari hormon Anda ke suhu badan, akan membangunkan Anda dan membuat Anda lebih sigap dibandingkan rekan-rekan Anda yang bangun siang. Yang berarti manusia pagi akan lebih sejalan dengan jadwal pekerjaan mereka, dan kemungkinan besar cenderung mencapai lebih banyak hal.

Untuk orang yang tidurnya larut, dipaksa bangun jam 7 pagi, tubuhnya berpikir masih istirahat dan bertindak sesuai jam bilogis, sehingga masih akan mengantuk untuk waktu yang lebih lama, dibandingkan orang yang bangun pagi di waktu yang sama.

Para peneliti juga menunjukkan, karena manusia malam sering terpaksa beraktivitas saat badan mereka belum siap, masuk akal jika mereka memiliki mood lebih buruk atau kepuasan hidup lebih rendah. Itu juga berarti bahwa mereka harus mencari jalan bagaimana untuk menjadi lebih inovatif dan mengambil jalan pintas - yang mendorong kreativitas dan kemampuan kognitif mereka.

Diperkirakan, 50% dari populasi bukanlah manusia pagi atau malam, namun di antaranya. Meski begitu, satu dari empat di antara kita adalah manusia malam.

Karena budaya menstereotipkan orang yang tidur larut dan bangun siang adalah pemalas, kebanyakan orang mungkin berusaha menjadi manusia pagi sebisa mereka. Yang tak bisa, mungkin, memiliki kepribadian pemberontak atau individualis.

Namun mengubah kronotipe seseorang tidak berarti akan mengubah sifat-sifat itu. Satu penelitian terbaru menemukan, meski orang-orang berusaha menjadi manusia pagi, hal itu tidak membuat mereka memiliki mood atau kepuasan hidup yang lebih baik, menyiratkan bahwa sifat-sifat ini adalah "komponen intrinsik pada kronotipe manusia malam."

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa preferensi tidur Anda mungkin secara biologis 'digabungkan' dengan sifat lain. Dalam sebuah penelitian terkini, misalnya, Neta Ram-Vlasov dari Universitas Haifa menemukan bahwa orang kreatif yang lebih visual memiliki lebih banyak gangguan tidur, seperti bangun beberapa kali di malam hari atau insomnia.

Lagi-lagi, korelasi bukanlah sebab akibat, katanya. Namun mungkin ada hubungannya dengan faktor genetis. "Ada gen reseptor dopamin yang sebelumnya dikaitkan dengan peningkatan kreativitas, dan juga insomnia dan gangguan tidur," katanya.

Masih berpikir akan lebih baik jika Anda berubah menjadi manusia pagi? Pencahayaan pagi hari yang terang, menghindari cahaya buatan di malam hari, dan hati-hati mengasup melatonin, dapat membantu. Tapi karena Anda mengesampingkan biologi Anda, setiap perubahan memerlukan disiplin dan harus konsisten untuk bertahan. Dan karena manusia malam cenderung memiliki siklus sirkadian yang lebih panjang, membuat mereka lebih susah berpadu dengan jadwal 24 jam, hal itu lebih sulit dicapai.

Nyatanya? "Orang normal mungkin bisa maju 1,5 jam dan mencapai kondisi biologi yang stabil," kata Wulff. Bahkan itu pun membutuhkan kondisi eksternal yang signifikan - seperti cahaya pagi super terang (minimal 2.000 lux), katanya.

Selama bangun subuh tidak menjamin status CEO kita, sepertinya kita akan menekan tombol tunda di perangkat kita, untuk perubahan besar pada jadwal kita.

Baca juga: Kiat-kiat agar Tidur Lebih Nyenyak