10 Perusahaan Raksasa dengan Asal Usul Tak Terduga

10 Perusahaan Raksasa dengan Asal Usul Tak Terduga

BIBLIOTIKA - Ada banyak perusahaan raksasa, yang sejak awal memproduksi sesuatu yang sama, yang mengubah uaha kecil mereka menjadi sangat besar. Sebagai contoh, Coca-Cola Company sejak awal memang memproduksi minuman ringan. Ketika kini menjadi perusahaan raksasa, mereka pun dikenal sebagai penghasil minuman ringan. Begitu pula Adidas, misalnya, sejak awal memang memproduksi sepatu, hingga akhirnya dikenal sebagai perusahaan raksasa di bidang sepatu.

Namun, ternyata, tidak semua perusahaan raksasa saat ini memulai bisnisnya dengan produk yang sama. Samsung, misalnya, berawal dari sebuah toko kelontong yang sama sekali tidak berhubungan dengan ponsel atau produk elektronik. Sementara Nokia berawal sebagai pabrik kertas. Lebih lengkap, berikut ini adalah sepuluh perusahaan raksasa dunia, yang memiliki asal usul tak terduga.

Samsung

Pada bulan Maret 1938, Lee Byung-chull dengan modal awal hanya US$27 membuka sebuah toko kelontong dan sebuah perusahaan kecil di Taegu, Korea. Perusahaan itu disebut Samsung, dan fokus pada impor-ekspor ikan kering, nabati, dan mie, kemudian ia beralih ke penyulingan gula, asuransi, keamanan, dan tekstil, hingga akhirnya memiliki pabrik tekstil terbesar di seluruh Korea.

Pada tahun 1960, Samsung mulai memproduksi peralatan elektronik seperti televisi, microwave, telepon, mesin faks, mesin cuci, dan kulkas. Pada tahun 1987, Samsung membentuk beberapa anak perusahaan, yaitu Samsung Electronics, Shinsegae Group, CJ Group, dan Hansol Group.

Samsung Electronics memfokuskan usahanya pada bidang elektronik, konstruksi, rekayasa teknik, dan teknologi, sementara anak perusahaan lain ke bidang ritel, kimia, makanan, logistik, dan hiburan

Tahun 1993, Samsung menjual beberapa anak perusahaannya, untuk fokus pada bidang elektronik, teknik, dan bahan kimia. Hingga saat ini, Samsung termasuk perusahaan raksasa di dunia.

Royal Dutch Shell

Royal Dutch Shell didirikan sejak 1833 saat seorang pemilik toko di London bernama Marcus Samuel mulai mengimpor kerang dari Cina, Jepang, dan Korea, untuk digunakan sebagai bahan mendesain interior.

Pada tahun 1886, bisnis itu dikelola oleh anak-anaknya, Sam dan Marcus Samuel Jr, yang kemudian mulai mengekspor mesin dan tekstil ke negara-negara Asia. Uang hasil penjualan itu mereka gunakan untuk membeli gandum, gula, dan tepung, di negara tujuan ekspor mereka.

Sam dan Marcus Samuel Jr mengembangkan usaha itu ke bidang perdagangan minyak, dan menjadi perusahaan pertama yang mengangkut minyak dengan kapal tanker, dan memberi nama perusahaan itu "The Tank Syndicate", yang kemudian diubah menjadi “Shell Transport and Trading Company” pada tahun 1897.

Shell Transport and Trading Company segera memperluas operasinya ke negara-negara Timur Jauh, dan mereka harus bersaing dengan perusahaan minyak Royal Dutch, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bermitra dan membentuk perusahaan minyak bernama “Asiatic Petroleum Company”.

Pada tahun 1907, Asiatic Petroleum Company berubah nama menjadi Royal Dutch Shell, dengan pembagian saham Royal Dutch 60% dan Shell Transport and Trading Company 40%. Pada tahun 1904, logo Kerang (Shell) milik Shell Transport and Trading Company diadopsi menjadi logo resmi Royal Dutch Shell.

3M (Minnesota Mining and Manufacturing)

Pada tahun 1902, lima orang pengusaha kaya asal Amerika mendirikan perusahaan yang saat ini kita kenal bernama 3M. Awalnya, mereka tidak puas dengan produksi perusahaan yang tidak mencapai target 50.000 barang per hari.

Sebenarnya, mereka mendirikan perusahaan untuk menambang korundum yang akan diproses menjadi ampelas atau kertas pasir. Itulah alasan kenapa nama perusahaan ini disesuaikan dengan tujuan awalnya, yaitu “Minnesota Mining and Manufacturing Company”, yang kemudian pada 2002 menggunakan singkatan 3M untuk menjadi nama resmi perusahaan.

Belakangan, para pengusaha itu baru mengetahui bahwa mineral yang mereka tambang ternyata bukan korundum, tapi batuan biasa yang tidak bernilai. Dengan begitu, mereka terpaksa harus mengimpor mineral lain agar perusahaan tetap bisa berproduksi, walau kualitasnya jauh dari harapan.

Pada tahun 1905, 3M di ambang kebangkrutan. Dua orang pengusaha, bernama St. Paul dan Lucius Pond Ordway, menyuntikkan dana sebesar US$25.000, dengan imbalan 60 persen kepemilikan saham.

Setelah memperoleh dana segar, perusahaan ini mulai berbenah dan memperluas bisnisnya dengan memproduksi isolasi, catatan tempel, dan floppy disk (disket), yang sukses di pasaran. Hingga saat ini, 3M aktif di beberapa industri, termasuk telekomunikasi, perlengkapan kantor, peralatan medis, peralatan keamanan, dan transportasi.

Nokia

Sejarah Nokia dimulai sejak 1865, saat insinyur Fredrik Idestam membuka pabrik kertas di Tammerkoski Rapids, Finlandia. Enam tahun kemudian, dia membuka pabrik kertas lainnya di tepi sungai Nokianvirta Finlandia, yang kemudian menginspirasinya untuk menamai perusahaan; Nokia Ab.

Seiring berjalannya waktu, Nokia Ab mulai berkecimpung di dunia pembangkit listrik, dan diakuisisi oleh Finnish Rubber Works, yang sebelumnya telah mengakusisi Finnish Cable pada 1922.

Ketiga perusahaan tersebut beroperasi dengan bidang usaha yang berbeda, sampai akhirnya tahun 1967 mereka bergabung untuk membentuk Nokia Corporation, yang berfokus pada produksi kertas toilet, ban mobil, sepatu, sepeda, dan komputer.

Nokia mulai terjun ke produksi ponsel pada 1979, ketika bermitra dengan Salora, dan membentuk Mobira Oy. Produk pertama Mobira Oy adalah telepon mobil bernama Mobira Senator, dan beratnya mencapai 10 kilogram.

Nokia Corporation kemudian mengakuisisi Solora pada 1984, dan tiga tahun kemudian meluncurkan Mobira Cityman 900, ponsel pertama di dunia.

Pada tahun 1988, Nokia Corporation dibagi menjadi enam anak perusahaan, yang berfokus pada telekomunikasi, data, elektronika, kabel, mesin, dan telepon genggam. Salah satu anak perusahaan Nokia, Moboy Oy, kemudian berganti nama menjadi Nokia Mobile Phones pada 1989. Setahun berikutnya, Nokia menjual semua anak perusahaannya, kecuali Nokia Mobile Phones.

Toyota

Awal pendirian Toyota adalah gagasan dari seorang insinyur Jepang, Sakichi Toyoda, yang membuat mesin tenun mekanik pertama di Jepang pada tahun 1897. Toyoda memperoleh hak paten atas penemuannya, dan pada tahun 1918 ia menciptakan Toyoda Spinning and Weaving, sebuah mesin penggulung benang.

Pada tahun 1926, melalui perusahaannya, Loom Works, ia menciptakan mesin tenun yang diberi nama Toyota Automatic Loom Works. Pada tahun 1927, ia memulai produksi massal mesin tenun Type G terbarunya, dan 25 di antaranya dapat dioperasikan oleh satu pekerja sekaligus.

Dua tahun kemudian, dia menjual hak paten mesin Type G ke semua negara lain, kecuali Jepang, China, dan Amerika Serikat. Hasil penjualan dari Platt Brothers of Britain seharga 100.000 yen dia berikan kepada anaknya, Kiichiro, yang kemudian mengunakan dana itu untuk melakukan penelitian mobil.

Tahun 1935, divisi mobil yang berada di bawah bendera Loom Works berhasil membuat mobil pertama, yang terdiri dari Chrysler, Ford, Chevrolet. Mereka juga meluncurkan truk pertamanya di tahun yang sama.

Pada tahun 1937, Toyota Motor Corporation resmi terbentuk, dan memisahkan diri dari Loom Works, untuk fokus pada produksi mobil. Sementara Loom Works tetap dalam bisnis mesin tenun, kompresor AC, dan forklift. Loom Works juga memproduksi mesin-mesin untuk kendaraan Toyota.

Peugeot

Pada tahun 1810, dua bersaudara, Jean Pierre dan Jean Federic Peugeot, mengubah pabrik tepung terigu menjadi pabrik baja untuk membuat gergaji, penggiling kopi, dan penggiling lada.

Produk itulah yang menginspirasi lahirnya logo khas mereka, yaitu singa dengan rahang terbuka, yang melambangkan kekuatan penggiling buatan mereka. Kemudian, mereka mulai memproduksi bingkai payung, roda, sepeda, crinolines (rangka besi untuk mengembangkan gaun wanita), juga membuat kendaraan.

Pada tahun 1882, Peugeot membuat sepeda Le Grand Bi, dan pada 1889 mereka mulai membuat mobil pertama, yaitu kendaraan beroda tiga.

Seiring berjalannya waktu, Peugeot terbagi menjadi dua divisi. Divisi yang satu masih tetap berfokus pada bidang usaha sebelumnya, sementara yang satu lagi fokus pada pembuatan mobil dan sepeda. Hingga akhirnya, kedua divisi itu bergabung menjadi satu, dan berkonsentrasi pada produksi mobil dan sepeda.

Suzuki

Suzuki mengawali debutnya pada tahun 1909, oleh Michio Suzuki. Semula, Suzuki membuat mesin tenun, dan dinamakan Suzuki Loom Works, kemudian berganti nama menjadi Suzuki Loom Manufacturing Company pada tahun 1920. Karena berhasil membuat mesin tenun, Suzuki akhirnya mulai merambah ke pembuatan mobil.

Suzuki membuat mobil prototipe pertamanya pada tahun 1937, dan memperkenalkan mobil itu ke publik, empat tahun kemudian. Selama Perang Dunia II, Suzuki melayani permintaan pemerintah Jepang untuk memproduksi peralatan-peralatan perang, dan kemudian pemerintah Jepang meminta Suzuki untuk memproduksi mesin-mesin tenun setelah perang.

Pada tahun 1951, pasar mesin tenun anjlok, dan Suzuki berada di ambang kebangkrutan. Mereka mulai menentang kebijakan pemerintah yang meminta mereka membuat mesin tenun.

Hingga pada 1952, Suzuki akhirnya meluncurkan sepeda motor pertama, yang ternyata sukses besar di pasaran. Melihat kenyataan itu, akhirnya pada 1954 pemerintah Jepang memberikan subsidi kepada Suzuki untuk memproduksi massal sepeda motor.

Hal ini kemudian menjadi tonggak awal berdirinya Suzuki Motor Corporation, yang terpisah dari Suzuki Loom Manufacturing Company.

Nintendo

Nintendo didirikan pada tahun 1889. Kemudian dikenal sebagai Nintendo Koppai, dan produk utamanya adalah permainan kartu. Kartu permainan Nintendo Koppai menjadi hit di Jepang, dan kebanyakan digunakan untuk perjudian oleh Yakuza dan sindikat Mafia Jepang lainnya.

Karena permainan kartu dianggap kurang punya prospek di masa depan, Nintendo mencoba mencari sumber penghasilan lain. Mereka membuat perusahaan taksi dan perhotelan. Nintendo juga memproduksi beras cepat saji dan penyedot debu, namun semuanya gagal.

Ketika berada di ambang kebangkrutan, Nintendo diselamatkan oleh mainan Ultra Hand yang sangat sukses di pasaran. Mainan ini seperti perpanjangan lengan, dan memungkinkan orang mengambil/memungut benda-benda yang berada di luar jangkauan lengan mereka.

Nintendo kemudian menaruh minat pada industri game, saat menjadi distributor resmi Magnavox Odyssey di Jepang, yang merupakan konsol game pertama di dunia.

Kemudian, mereka fokus untuk membuat game konsol sampai tahun 1983, ketika merilis game konsol pertama yang disebut Family Computer (Famicom), yang kemudian diganti namanya menjadi Nintendo Entertainment System (NES).

Wrigley

Nama Wrigley terkenal dengan permen karetnya. Wrigley didirikan oleh William Wrigley Jr pada tahun 1909. Sebelumnya, dia bekerja sebagai salesman untuk bisnis sabun milik ayahnya.

Wrigley Jr memberi hadiah payung gratis kepada siapa pun yang membeli sabunnya, tapi payung itu memudar jika terkena air hujan. Jadi, dia beralih memberikan baking powder gratis. Belakangan, baking powder (tepung pengembang kue) yang ia jadikan hadiah justru lebih populer daripada sabun yang ia jual. Kemudian, dia mengabaikan sabun untuk beralih menjual baking powder.

Ketika mulai menjual baking powder, dia memberikan permen karet sebagai hadiah kepada pembelinya. Dan kejadian yang sama terulang, permen karet yang ia berikan sebagai hadiah lebih populer dibanding baking powder yang ia jual.

Wrigley melihat bahwa bisnis permen karet lebih menjanjikan, sehingga pada tahun 1909 ia membeli Zeno Manufacturing, dan mulai memproduksi massal permen karet. Sejak itu, perusahaan Wrigley identik dengan permen karet.

Hasbro Inc.

Hasbro adalah perusahaan pembuat mainan terbesar kedua di dunia, setelah Mattel Inc. Didirikan oleh Hassenfled bersaudara pada tahun 1923, perusahan itu semula bernama Hassenfeld Brothers Incorporated. Mereka mendaur ulang barang-barang bekas untuk membuat kotak pensil, yang kemudian mereka jual bersama pensil.

Pada tahun 1930, pesaing mereka mulai membuat kotak pensil, dan menjualnya dengan harga lebih rendah. Karena tidak ingin terlempar keluar dari bisnis ini, Hassenfeld bersaudara mulai membuat pensil dan mainan yang mereka anggap sebagai bagian perlengkapan sekolah.

Pada tahun 1968, mereka mengubah nama perusahaan menjadi Hasbro Industries, dan memecah perusahaan menjadi dua unit usaha. Yang satu berfokus pada pembuatan mainan, sementara unit lain berfokus pada pembuatan pensil. Keduanya selalu berselisih, karena unit usaha mainan mendapat lebih banyak dana, daripada unit usaha pensil yang justru menghasilkan lebih banyak keuntungan.

Hasbro juga pernah merambah ke bidang peralatan masak, namun tidak menguntungkan, sampai akhirnya mereka menjual unit usaha pembuatan pensil, dan berkonsentrasi penuh pada bidang pembuatan mainan.

Baca juga: Rahasia Sukses Perusahaan-perusahaan Besar di Dunia