Penjelasan Ilmuwan Tentang Tanda-tanda Datangnya Kiamat

Penjelasan Ilmuwan Tentang Tanda-tanda Datangnya Kiamat

BIBLIOTIKA - Kita telah diberitahu bahwa kiamat akan terjadi, ketika bumi hancur dan musnah. Lautan akan membeludak dan menciptakan banjir di daratan, gunung-gunung akan meletus, dan langit akan runtuh. Tanah tempat berpijak akan membuka, menelan orang-orang di atasnya, dan kehancuran dunia pun tak bisa lagi dielakkan.

Itu penjelasan atau gambaran kiamat sebagaimana yang selama ini diajarkan oleh agama. Bagaimana sains atau ilmu pengetahuan menggambarkan kiamat?

Ilmu pengetahuan juga meyakini akan datangnya hari kiamat, namun berdasarkan sebab akibat. Bumi, tak terelakkan lagi, memang akan hancur. Namun tidak secara tiba-tiba, melainkan karena adanya berbagai fenomena yang terus merusak kehidupan di dalamnya. Polusi yang tinggi, air laut yang tercemar, es di kutub yang meleleh, adalah sebagian tanda yang akan membawa bumi kepada kehancuran.

Temuan terbaru menyatakan, persentase unsur karbon akan meningkat secara masif di lautan pada akhir abad ini dan habitat akan mengalami perubahan. Peningkatan karbon dan perubahan habitat itu diprediksi akan memicu kepunahan massal keenam.

Dalam kurun waktu 540 juta tahun terakhir, lima peristiwa kepunahan sudah terjadi, termasuk punahnya dinosaurus. Sekitar 252 juta tahun lalu, peristiwa Great Dying, meluluhlantakkan isi bumi, dan lebih dari 95 persen makhluk hidup di lautan punah. Laut menjadi lebih asam pada saat itu.

Daniel Rothman, fisikawan dari Institut Teknologi Massachusetts, menggambarkan adanya keterkaitan antar peristiwa kepunahan tersebut. Dirinya memprediksi, karbon dalam jumlah besar akan ditambahkan ke lautan sehingga kiamat tak terelakkan.

Pada pertemuan internasional tentang perbuahan iklim, ilmuwan menghasilkan skenario terbaik bahwa jumlah zat karbon di lautan disebut dalam ambang batas, apabila penambahan mencapai 310 gigaton karbon. Ambang batas kiamat menurutnya apabila melebihi angka 500 gigaton.

Dilansir di situs news.mit.edu, dua ambang batas tersebut didapat setelah Daniel Rothman mempelajari siklus karbon dalam kurun waktu 540 juta tahun. Dalam jangka panjang, kepunahan akan terjadi apabila perubahan siklus tersebut terjadi lebih cepat daripada adaptasi ekosistem global.

Sementara itu, siklus karbon yang terjadi pada rentang waktu yang lebih singkat, perubahan siklus karbon tidak akan menjadi masalah, namun ditentukan oleh besar kecilnya perubahan siklus yang akan menentukan kemungkinan terjadinya kepunahan massal.

Daniel Rothman juga menghitung peningkatan jumlah emisi karbon dioksida akhir-akhir ini yang terjadi dalam waktu singkat. Ini akibat ulah manusia. Ia mencoba menghitung emisi karbon dari aktivitas manusia yang mempengaruhi ekosistem laut. Daniel memperoleh angka 310 gigaton karbon akan tercapai pada tahun 2100.

Apakah ini berarti kepunahan massal akan segera terjadi pada pergantian abad ini? Daniel menjelaskan kiamat akan membutuhkan waktu, bisa 100-10.000 tahun lagi. Namun, menurutnya, tahun 2100, dunia mungkin menjadi "wilayah tak dikenal".

Baca juga: Kiamat Hampir Tiba, Manusia Harus Pindah ke Antariksa