Mengapa Kita Berhati-hati Saat Berjalan di Lantai Licin?

Mengapa Kita Berhati-hati Saat Berjalan di Lantai Licin?

BIBLIOTIKA - Mungkin terdengar bodoh kalau kita menanyakan, “Mengapa kita berhati-hati saat berjalan di jalanan atau lantai yang licin?” Kenyataannya kita biasa melakukan hal itu. Ketika menghadapi lantai yang licin, secara otomatis kita berhati-hati, agar tidak terpeleset atau terjatuh. Pertanyaannya, mengapa kita bisa melakukan hal itu?

Atau, dalam kesempatan lain, kita ingin membuat es teh. Kita masukkan sejumlah cairan teh ke dalam gelas, lalu memasukkan es batu ke dalamnya. Bagaimana kita bisa menentukan ukuran es batu secara tepat, hingga minuman di dalam gelas tidak luber dan tumpah? Dari mana kita belajar soal itu?

Jawabannya mungkin terdengar mencengangkan: Ada mesin fisika di otak kita.

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, para ilmuwan menemukan area otak yang menjadi aktif ketika seseorang memprediksi bagaimana objek bergerak berdasarkan hukum-hukum fisika.

Intuisi fisika memang tak akan banyak membantu kita menyelesaikan soal-soal fisika di dalam buku paket sekolah. Intuisi fisika kita melakukan hal yang jauh lebih penting: melakukan perhitungan fisika secara langsung dan cepat, sehingga memungkinkan Anda untuk berurusan dengan “dunia fisika” dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai cara: dari berjalan lebih hati-hati di lantai yang licin, hingga membuat Anda memasukkan jumlah es batu dengan tepat pada gelas berisi air agar tidak sampai tumpah.

“Sulit untuk menghargai peran penalaran fisika dalam kehidupan sehari-hari, kecuali Anda memperhatikan dengan saksama hal-hal yang Anda lakukan,” kata Ahli kognitif Jason Fischer dari Johns Hopkins University, yang merupakan penulis kedua studi.

Untuk menemukan letak intusisi fisika diproses di otak, Fischer dan timnya meminta 12 partisipan menyaksikan serial video tentang menara blok yang goyah, dan memindai otak mereka. Para partisipan diminta untuk memperhatikan informasi visual, dan memprediksi ke arah mana blok-blok itu akan jatuh.

Hasil pemindaian otak mengungkap, ketika para peserta mencoba memprediksi terungkapnya peristiwa fisika, beberapa daerah otak menjadi lebih aktif. Percobaan tambahan juga mengungkap bahwa area otak yang sama juga aktif ketika partisipan secara pasif menyaksikan video yang melibatkan banyak aksi fisika, seperti objek yang bergulir dan berbenturan.

Area yang aktif itu berada di korteks premotor dan area motorik suplementer, yang terlibat dalam merencanakan tindakan dan mengontrol gerakan.

Penemuan ini menunjukkan bahwa intiusi fisika dan perencanaan tindakan terkait erat dengan otak. “Kami yakin ini mungkin terjadi karena bayi belajar fisika saat mengasah kemampuan motorik mereka,” kata Fischer.

Studi sebelumnya, yang meneliti intuisi fisika pada bayi, mengungkap bahwa selama tahun pertama kehidupannya, bayi belajar untuk memahami berbagai jenis hubungan fisika yang ada di dunia.

Selain manusia, banyak hewan juga memiliki mesin fisika dalam otak mereka. Jika dilihat dari sisi bertahan hidup, mungkin intuisi fisika jauh lebih penting bagi hewan dibanding kita.

“Hewan harus tahu bagaimana permukaan tanah yang memungkinkan untuk melakukan lompatan. Mereka tahu mereka tidak dapat berjalan di air. Pemahaman mereka sangat baik dalam hal-hal dasar semacam ini,” pungkas Fischer. 

Baca juga: Mengapa Ada Jam Tangan yang Harganya Sangat Mahal?