Temple Grandin, Pengidap Autisme yang Menjadi Ilmuwan Terkenal

Temple Grandin, Pengidap Autisme yang Menjadi Ilmuwan Terkenal

BIBLIOTIKA - Mary Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts, pada 29 Agustus 1947. Sebelum didiagnosis mengidap autis pada tahun 1950, awalnya Grandin didiagnosa mengidap kerusakan otak ketika berusia dua tahun. Oleh orang tuanya, dia dimasukkan ke sebuah kelompok bermain yang guru-gurunya ia anggap sangat baik.

Ibunya berkonsultasi kepada seorang dokter, yang menyarankan agar ia memberi terapi wicara pada putrinya. Ibunya kemudian menyewa seorang pengasuh yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain sambil belajar bersama Grandin dan kakaknya.

Saat dewasa, Grandin menceritakan, “Tidak bisa berbicara sangat membuat saya frustasi. Jika seorang dewasa berbicara langsung, saya dapat memahami apa yang mereka katakan, tetapi saya tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin saya ucapkan. Jika saya berada dalam situasi dengan tingkat stres sedikit, terkadang kata-kata tersebut akhirnya bisa keluar.

“Terapis wicara saya tahu bagaimana cara masuk ke dalam dunia saya. Ia akan memegang dagu saya, dan membuat saya menatap matanya, kemudian berkata ‘bola’. Pada usia tiga tahun, saya bisa mengucapkan kata ‘bola’ dan ‘boa’ dengan tingkat stres tinggi. Jika si terapis terlalu memaksa, saya akan mengamuk (tantrum), dan jika ia tidak mencoba masuk jauh ke dalam diri saya, maka tidak akan ada perkembangan berarti yang bisa dicapai saat itu.

“Ibu dan guru saya bertanya-tanya, kenapa saya berteriak. Berteriak adalah satu-satunya cara agar saya bisa berkomunikasi. Terkadang, saya berpikir pada diri saya sendiri jika saya akan berteriak sekarang, karena saya ingin memberitahu semua orang bahwa saya ingin melakukan sesuatu.”

Pada usia empat tahun, Grandin mulai bisa berbicara, dan mulai memperlihatkan perkembangan. Grandin merasa beruntung karena saat itu mendapat banyak dukungan dari para pengajar di sekolahnya. Namun, ia menyebut bahwa masa-masa sekolah dasar dan menengah merupakan masa terburuk dalam hidupnya.

Ia merupakan “anak aneh” yang menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak lainnya. Ketika ia berjalan-jalan, orang-orang di jalanan akan mengejeknya “tape recorder” karena ia selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang.

Grandin berkata, “Sekarang, saya dapat tertawa saat mengenangnya, tapi dahulu rasanya sangat menyedihkan.”

Untuk membantu perkembangan kondisinya, Grandin mengonsumsi obat anti depresi secara teratur, dan menggunakan “squeeze-box” (mesin peluk) yang diciptakannya pada usia 18 tahun sebagai bentuk terapi personal. Beberapa tahun kemudian, kondisinya dapat dikenali, dan pada usia dewasa ia di diagnosis menyandang sindrom Asperger, yang merupakan sejenis autis.

Setelah menyelesaikan sekolah di Hampshire Country School di Rindge, New Hampshire, pada tahun 1960-an, Grandin melanjutkan belajar ke universitas. Dia berhasil meraih gelar sarjana jurusan psikologi dari Franklin Pierce College pada tahun 1970, gelar master jurusan pengetahuan binatang dari Arizona State University pada tahun 1975, dan gelar doktor atau PhD jurusan pengetahuan binatang dari University of Illinois di Urbana Champaign pada 1989. Bagi seorang penyandang autis, prestasinya itu luar biasa.

Berdasarkan pengalamannya sebagai penyandang autis, Grandin membantu memberikan konsultasi dalam mengenali gejala autis sejak dini. Ia juga memberikan konsultasi kepada para guru, sehingga dapat memberikan penanganan langsung kepada anak autis dengan cara yang lebih tepat. Grandin dianggap sebagai pemimpin filosofis bagi gerakan kesejahteraan binatang dan konsultasi autis.

Kedua gerakan tersebut pada umumnya berhubungan dangan karya-karya tulisnya yang bertema kesejahteraan binatang, neurologi, dan filosofi. Pada tahun 2004, ia meraih penghargaan “proggy” untuk kategori “Visionary” dari People for the Ethical Treatment of Animals.

Karya-karya tulisnya mengenai autisme, yang ditulisnya dari sudut pandang penyandang autis, sangat membantu para ahli dan dunia kedokteran dalam membantu penanganan autis. Karya-karyanya antara lain, ”Journal of Autism and Developmental Disorders” dan “Emergence: Labelled Autistic.”

Prestasi yang diraih Dr. Temple Grandin tersebut tentu membuka harapan dan menjadi pencerahan bagi para penyandang autis dan gangguan perkembangan lain di seluruh dunia.

Baca juga: George Peabody, Bapak Kedermawanan Modern