10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar (Bagian 2)

10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar – Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan daftar lebih lengkap, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

5. Disaster Movie (2008)

Ketika IMDb menyusun daftar film terburuk pada 2009, Disaster Movie langsung menduduki peringkat satu.

Jason Friedberg dan Aaron Seltzer sepertinya belum juga kapok. Meskipun film-film parodi mereka selalu mendapat reviu jelek dari media dan kritikus film, duo sutradara itu tetap lanjut memproduksi film parodi lain. Bahkan setelah masuk nominasi Razzie Award (penghargaan setingkat Oscar untuk film-film terburuk) pun, Jason dan Aaron tetap cuek.

Ya, dua pria itu adalah sosok di balik film-film parodi Hollywood seperti Scary Movie 1-4, Date Movie, Epic Movie, dan Meet The Spartans.

Setelah Epic Movie, Disaster Movie yang kena batunya. Film yang dirilis di Amerika pada 29 Agustus 2008 itu langsung menduduki posisi 1 di IMDB Bottom 100, yaitu daftar film dengan rating terburuk berdasarkan reviu dan pilihan pembaca situs film terbesar di dunia tersebut.

Sempat jadi nominasi Razzie Awards untuk Worst Screenplay, Disaster Movie berhasil menggeser The Hottie and The Nottie, film yang dibintangi oleh Paris Hilton, yang sempat menduduki posisi 1 di daftar ini sejak awal 2008. Setelah itu, The Hottie and The Nottie menempati urutan ke-14. Secara keseluruhan, cuma ada 2 film baru keluaran 2008 yang masuk daftar ini, selain Disaster Movie dan The Hottie and The Nottie.

6. Speed Racer (2008)

Wachowski Bersaudara mengeluarkan dana sangat besar untuk film live action adaptasi kartun Jepang ini, dan ternyata mereka tak mendapatkan keuntungan yang sebanding. Justru Kritikus menyorot hampir semua aspek dalam film, mulai dari penggunaan CGI yang berlebihan, soundtrack yang buruk, hingga adegan mengemudi yang tak penting.

Jadi, dalam aspek visualisasi, sungguh tidak jelas arah filmnya—entah dimaksudkan sebagai animasi, nyata, atau kartun. Film ini pun mengalami kerugian 75,8 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,10 triliun.

7. The Last Airbender (2010)

Tak ada kata lain untuk film ini, selain kegagalan total. Sebuah pencapaian yang sangat menyedihkan untuk sineas sekelas Night Shyamalan, yang pernah memproduksi film-film berkualitas semacam The Sixth Sense dan Signs. Semua aspek dalam film ini sangat menyedihkan. Shyamalan, yang juga menulis naskahnya, tidak mampu mentranformasikan seri animasinya ke layar lebar.

Seri animasinya, yang memiliki kisah sederhana dan jelas, justru dibuat membingungkan dan serba tergesa-gesa. Alur plotnya yang sangat lemah “disempurnakan” oleh dialog-dialog buruk, seperti ditulis penulis amatir.

Kegagalan The Last Airbender membuktikan memang tidak mudah mentranformasi film animasi ke film live action. Sebelumnya, Dragon Evolution juga bernasib sama. Apa artinya setting yang megah serta efek visual yang mahal, jika tidak didukung cerita yang layak? Semuanya jadi tampak serba artifisial.

Dalam konteks pencapaian bahasa film untuk sineas sekelas Shyamalan, serta bujet produksi yang besar, film ini bisa dibilang film terburuk yang pernah diproduksi Hollywood sejauh ini.

8. Sucker Punch (2011)

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda yang disia-siakan ayah tirinya. Kegagalan film ini terletak pada gaya penceritaan. Sang sutradara, Zack Snyders, sangat terobsesi dengan pengambilan gambar slow-motion. Pada cuplikan film, teknik slow-motion terlihat mengesankan. Tetapi, pada film, cara ini membuat penonton langsung bosan.

Alhasil, ketika Sucker Punch dirilis di Amerika, banyak yang kurang suka. Film ini pun mendapat respons negatif, khususnya dari para kritikus. Perolehan di tangga box office pun jeblok. Padahal, mengingat materi yang dibeberkan melalui trailer-nya, apa yang menjadi sajian dalam Sucker Punch sangat menjanjikan.

Premisnya cukup simpel; lima jagoan wanita yang siap menghajar musuh-musuhnya dengan gaya penuturan ala 300 dan Watchmen. Tapi kenyataan filmnya sungguh menyesakkan dada penonton.

Selain itu, eksekusi cerita juga rentan cercaan. Banyak yang mengkritik perkembangan karakter di film terasa dangkal. Belum lagi Snyder mengakhiri film ini dengan ending antiklimaks yang terkesan membohongi penonton, dan menambah poin untuk semakin tidak menyukai film ini. Tidak adanya batasan antara realita dan fantasi juga membuat hampir keseluruhan cerita menjadi absurd.

Film ini menghabiskan biaya 82 juta dolar, namun hanya memperoleh pendapatan kotor 89 juta dolar.

9. John Carter (2012) 

Disney hampir selalu sukses dalam membuat film. Tetapi, musibah mengejutkan menimpa raksasa perfilman Hollywood tersebut saat film John Carter garapan Andrew Stanton rugi besar saat dirilis.

Film aksi fiksi-ilmiah John Carter gagal total di mata kritikus dan penonton. Film tersebut hanya berhasil meraup 210 juta dolar dari peredaran di seluruh dunia. Jumlah tersebut jauh di bawah biaya pembuatan yang mencapai 250 juta dolar.

Tampaknya sudah ditakdirkan gagal dari awal, dengan anggaran membengkak selama syuting, John Carter adalah bencana yang sempurna. Awalnya, film ini berjudul “John Carter Of Mars”, namun Disney khawatir penonton mungkin tertukar dengan film mereka sebelumnya yang juga mengalami kegagalan, “Mars Needs Moms”. Maka judul pun diubah menjadi lebih pendek, hanya “John Carter”.

Perubahan nama itu ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Film John Carter tetap sangat buruk, dan Disney merilis pernyataan, "Kami memperkirakan film ini menghasilkan kerugian operasional sekitar 200 juta dolar (sekitar Rp1,9 triliun)."

John Carter adalah film petualangan yang diproduksi Disney bersama Illuminationa Entertainment. Film ini dibuat dengan bujet besar yang mencapai 250 juta dolar, lalu dipublikasikan dengan sangat baik melalui jaringan Walt Disney yang sangat besar. Sayang, John Carter dianggap sebagai salah satu produk gagal Disney.

Meski memiliki fans fanatik, tetap saja John Carter tak mampu naik ke puncak box office, meskipun ditayangkan di bulan-bulan ketika tak banyak pesaing. Bahkan untuk menyaingi film animasi The Lorax saja, John Carter tak sanggup.

10. Dredd (2012)

Film yang dibintangi Karl Urban sebagai penegak keadilan, Dredd, gagal di Amerika Serikat. Meskipun dibuat 10 kali lebih baik dari pendahulunya, film ini terhitung gagal secara pendapatan maupun kualitas.

Dengan bujet (uniknya) setengah dari versi 1995, Karl Urban mengemban tugas menjadi sosok Judge Dredd. Urban menjanjikan sosok Dredd yang lebih setia dengan versi komiknya.

Namun, film ini mengalami kerugian 45 juta dolar (sekitar Rp430 miliar), karena hanya mendapatkan 85 juta dolar (sekitar Rp820 miliar), lebih sedikit dari versi 1995 yang dibintangi Sylvester Stallone. Dredd seharusnya berhasil karena adaptasi dari komiknya yang bagus, dan karena akting Karl Urban. Sayang, kegagalan Dredd mengakhiri cerita karakter itu di layar lebar, mengecewakan penggemar setia yang ingin melihatnya.

Baca juga: The Viking, Film Paling Mematikan Dalam Sejarah