10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar (Bagian 1)

10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar

BIBLIOTIKA - Pembuatan film membutuhkan biaya besar, sekaligus waktu yang tidak sebentar. Sebagai proyek besar, ada banyak orang yang terlibat di dalamnya, dari aktor dan aktris yang terlihat di layar, sampai para pekerja dan orang-orang di balik layar. Karena melibatkan sumber daya dan biaya yang besar, film pun diharapkan bisa menghasilkan keuntungan yang sama besar.

Sayang, meski ada banyak film yang memang mampu mendatangkan pemasukan atau keuntungan sangat besar, nyatanya ada pula film-film yang hanya “impas” atau tidak memberi keuntungan apa pun. Lebih buruk, ada film-film yang justru rugi besar—pendapatan yang diperoleh lebih sedikit dari biaya yang telah dikeluarkan untuk memproduksinya.

Kerugian sebuah film bisa disebabkan banyak hal, namun faktanya film-film yang mengalami kerugian adalah film-film yang dicap buruk, baik oleh penonton film atau pun oleh para kritikus. Berikut ini adalah 10 film Hollywood yang dianggap buruk, gagal di pasaran, dan mendatangkan kerugian terbesar.

1. Batman & Robin (1997)

Batman and Robin dibintangi George Clooney, dan status Clooney sebagai aktor kelas Oscar ternyata tak membuat Batman and Robin jadi berkelas. Film yang terinspirasi komik petualangan manusia kelelawar, Batman, ini dirilis pada 1997. Film ini juga dibintangi Arnold Schwarzenegger, Chris O'Donnell, dan Uma Thurman.

Uang 140 juta dolar dihabiskan untuk membuat film ini, namun hasilnya bukan pujian, melainkan cercaan. Film ini disalahkan karena nyaris mematikan daya tarik waralaba film Batman yang melegenda.

Para peserta jajak pendapat di Empire US juga mencela kostum Batman yang dikenakan Clooney, dan kostum pemeran lain yang begitu ketat. Kostum itu dianggap terlalu menonjolkan anatomi tubuh.

Tak kalah memprihatinkan adalah skripnya yang dianggap berlebihan. Penambahan superhero baru, si Batgirl, yang terkesan dipaksakan keberadaannya, semakin menambah buruknya film. Sebegitu buruk, Warner Bros sampai tidak mau lagi meneruskan film ini. Karena hasilnya terlihat seperti dunia mainan berwarna-warni yang terlihat mahal sekaligus murahan.

2. Battlefield Earth (2000) 

Jika berbicara tentang film yang memiliki kualitas buruk, Battlefield Earth seakan-akan sudah menjadi 'ikon'. Saat perilisan perdana pada 12 Mei 2000, film ini bahkan langsung dicap buruk oleh para kritikus film.

Bahkan Roger Ebert, dari Chicago Sun-Times, mengibaratkan menonton Battlefield Earth seperti menaiki bus yang penuh orang yang tidak pernah mandi. Film ini juga mengalami Box Office Bomb, hanya mendapatkan 29 juta dolar dari anggaran produksinya yang sebanyak 73 juta dolar.

Saat ajang Golden Raspberry Award (penghargaan untuk film yang dianggap buruk), Battlefield Earth mampu mengalahkan rekor yang dipegang oleh Showgirls, dengan mendapat total delapan nominasi, dan menang tujuh, di antaranya Film Terburuk, Sutradara Terburuk, Naskah Terburuk, dan Aktor Terburuk.

Battlefield Earth memang pantas dimahkotai sebagai film terburuk sepanjang sejarah. Baik dari segi produksi, penyutradaraan, hingga hasil Box Office-nya betul-betul gagal total.

Salah satu yang paling banyak dikritik dari Battlefield Earth adalah segi sinematografinya. Giles Nuttgens, yang membuat film ini, mengaku menggunakan sisi kamera yang berlebihan dan miring dalam Battlefield Earth untuk membuat film terlihat 'mahal', karena Battlefield Earth adalah film termurah yang pernah dia kerjakan. Film Nuttgens rata-rata berbiaya di atas 50 juta dolar.

Juga tidak dilupakan akting para pemain yang sama mengerikan dengan sinematografinya. Jika pembuatan dan akting sudah sedemikian buruk, datanglah naskah dan dialog-dialog yang terkesan bodoh dan tak berguna.

Jika melihat tampilan efek visualnya, para penonton mungkin berpikir mereka sedang menonton film TV yang diputar di bioskop. Sebegitu buruk efek visual dalam film ini, hingga Roger Christian (sutradara) memilih malam hari untuk adegan pertempuran manusia dengan Psychlos, guna menyembunyikan efek visual yang buruk dalam kegelapan.

Yang lebih parah, film ini mendapat skor 2.4/10 di situs IMDb, dan masuk ke dalam list ''100 Film Terburuk IMDb''. Sungguh disayangkan, popularitas aktor sekelas John Travolta ternyata tak mampu mendongkrak film ini.

3. Final Fantasy: The Spirits Within (2001)

Para gamers sejati mungkin tidak tahu apa yang ada di kepala Square, ketika merilis film ini. Berani membawa nama Final Fantasy, berarti berani menghadirkan apa yang tergambar di semua kepala gamer.

Apa yang gamer pikirkan ketika mendengar nama Final Fantasy? Pasti sudah terbayang Bahamut berukuran besar, theme song, limit break, dan elemen RPG yang kental. Namun, apa yang gamer dapatkan ketika film ini dirilis? Sebuah tanda tanya terbesar di dunia. Tidak ada kaitan sama sekali dengan seri game Final Fantasy—tidak ada sedikit pun.

Sebagai film yang diadaptasi dari seri video game terkenal, Final Fantasy: The Spirits Within justru gagal membuat para penggemar game-nya terpesona.

Meski sudah memberikan spesial efek yang bagus, tetap saja alur cerita yang payah membuat film ini terpaksa dikerek turun dari bioskop dalam waktu kurang dari sebulan di Amerika Serikat. Selain itu, durasi film yang terlalu panjang membuat para penonton memilih untuk memainkan game aslinya daripada menonton filmnya yang berbelit-belit. Kerugian yang 'diraih' film ini mencapai Rp1,14 triliun.

4. Catwoman (2004)

Ketika Michelle Pfeiffer mencuri perhatian di film Batman Returns, banyak yang membayangkan jika Catwoman berlaga di filmnya sendiri. Dan hasilnya diwujudkan dalam Catwoman.

Namun, kali ini, dibintangi oleh Halle Berry yang beradu akting dengan Sharon Stone sebagai tokoh antagonis. Perpaduan yang dinilai sebagai duo terburuk yang pernah ada di layar lebar.

Bagi sutradaranya, inilah debut Amerika pertama setelah berjaya di negerinya sendiri, Prancis. Usai menggarap film ini, sang sutradara bahkan tak pernah lagi terdengar membuat film bioskop.

Untuk kasus Catwoman yang diperankan oleh Halle Berry, kehancuran film terletak pada tokoh protagonisnya yang cantik, gemulai, dan gemar berdandan superketat, sehingga tampak seksi, dan kelihatan sangat mahir menghajar lawan-lawannya, tapi—menurut penilaian para kritikus—payahnya cara mengalahkan para bandit lawannya justru menimbulkan tawa penonton.

Akhirnya, film ini pun menerima The Razzie Award atau penghargaan film-film terburuk untuk kategori gambar terburuk, sutradara terburuk, hingga skenario terburuk.

Halle Berry mendapat penghargaan aktris terburuk Razzie Awars pada 2005, usai membintangi Catwoman. Peraih Academy Award di tahun 2002 itu tak lagi terdengar namanya di layar lebar setelah menjadi Catwoman di film yang dirilis pada 2004. Dan film dengan bujet 100 juta dolar itu cuma menghasilkan pemasukan 40 juta dolar. Film ini adalah contoh bahwa perempuan dalam balutan baju seksi dan jago berkelahi tak selamanya mendatangkan keuntungan.

Halle Berry dan Sharon Stone telah membuktikannya. Cerita, juga penampilan Halle Berry sebagai Catwoman, dan Sharon Stone sebagai rivalnya, Poison Ivy, sama menyedihkan, hingga membuat film ini seperti mematikan bakat besar yang dimiliki keduanya.

Baca lanjutannya: 10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar (Bagian 2)