Mengapa Orang Peru Kuno Memiliki Kepala yang Aneh?

Mengapa Orang Peru Kuno Memiliki Kepala yang Aneh?

BIBLIOTIKA - Ada tengkorak-tengkorak yang ditemukan di Peru, dari zaman dulu. Pada tengkorak-tengkorak orang Peru tersebut ditemukan bahwa kepala orang-orang Peru di zaman dulu memiliki bentuk yang aneh, yang berbeda dengan bentuk kepala orang-orang zaman sekarang. Jika umumnya kepala manusia berbentuk bulat, kepala orang Peru zaman kuno tampak sangat panjang atau memanjang.

Mengapa orang-orang Peru kuno memiliki bentuk kepala yang aneh?

Ratusan tahun yang lalu, anggota komunitas Collagua yang hidup di Colca Valley, Peru tenggara, dengan sengaja mengikatkan potongan kayu ke kepala bayi mereka, agar bentuknya memanjang.

Tradisi aneh ini menghasilkan tengkorak-tengkorak berbentuk panjang mengerucut, yang kini sering dikira sebagai bukti keberadaan alien. Namun, rupanya, kebiasaan memanjangkan kepala ada alasannya.

Sebuah studi terbaru oleh pakar bioarkeologi, Matthew Valesco, dari Departemen Antropologi Cornell University, mengungkap bahwa bentuk kepala yang memanjang adalah simbol status dalam komunitas Collagua yang dibutuhkan untuk membangun identitas kolektif.

Menurut dia, modifikasi kepala ini mengikat anggota elit dari komunitas Collagua satu sama lain, dan memisahkan mereka dari anggota yang berstatus lebih rendah.

Hasil yang telah dipublikasikan dalam jurnal Current Anthropology ini didapatkan setelah Velasco dan tim mempelajari bentuk tengkorak dari 200 individu yang hidup selama 300 tahun, sebelum kedatangan suku Inka pada tahun 1450.

Mereka menemukan bahwa dalam periode waktu tersebut, bentuk tengkorak yang tipis memanjang semakin diasosiasikan dengan status sosial yang lebih tinggi.

Para wanita Collagua dengan kepala memanjang, misalnya. Hasil analisis kimia pada tulang menunjukkan bahwa mereka memiliki pola makan yang lebih bervariasi dan lebih sedikit luka akibat serangan fisik, dibandingkan wanita-wanita yang tengkoraknya tidak dimodifikasi.

Bentuk kepala ini juga diduga memperhalus asimilasi Collagua ke dalam kerajaan Inka.

“Standarisasi praktek modifikasi kepala yang lebih baik mirip dengan pola formasi identitas yang lebih luas di dataran tinggi Amerika selatan dan tengah,” kata Velasco kepada Independent.

Dia melanjutkan, (modifikasi kepala) mungkin juga menjadi basis simbol kooperasi anggota elit selama masa konflik terhadap kerajaan Inka.

Perlu diketahui, Inka yang berasal dari dataran tinggi Peru berhasil menguasai seluruh Peru, sebagian Ekuador, Bolivia, Argentina, dan Cili, serta sebagian kecil dari Kolombia, melalui perang dan asimilasi.

Kejayaan Inka berakhir ketika para penjajah Spanyol datang pada abad ke-16, merebut benteng-benteng mereka, dan melarang tradisi memanjangkan kepala yang berlangsung ratusan tahun tersebut.

Baca juga: Manuskrip Voynich, Buku Paling Misterius di Dunia