Nasib Manusia di Bawah Ancaman Perubahan Iklim Global

Nasib Manusia di Bawah Ancaman Perubahan Iklim Global

BIBLIOTIKA - Meski tinggal dan hidup di bumi, banyak manusia yang tampaknya tidak sadar untuk merawat dan menjaga kelestarian tempat tinggalnya sendiri. Padahal, bumi serupa rumah yang kita tinggali bersama keluarga. Jika rumah tak dirawat dengan baik, kerusakan selalu bisa terjadi. Dari lantai yang retak sampai genteng yang bocor. Bumi adalah rumah yang lebih luas, dan masing-masing orang yang tinggal di dalamnya ikut memiliki tanggung jawab untuk mengaja kelestariannya.

Sayang, lebih banyak orang yang tidak menyadari kenyataan penting itu. Selama 50 tahun terakhir, aktivitas manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil, telah melepaskan begitu banyak karbon dioksida ke atmosfer, dan mempengaruhi iklim global. Dalam 130 tahun terakhir, dunia telah menghangat sekitar 0,85 derajat Celsius sejak tahun 1887, yang menyebabkan tinggi permukaan air laut meningkat, gletser mencair, dan pola curah hujan berubah.

Secara keseluruhan, perubahan iklim berdampak buruk bagi kesehatan serta mempengaruhi aktivitas sosial, kesehatan lingkungan, kebersihan udara, kebersihan air dan makanan. Suhu udara yang ekstrem berkontribusi langsung terhadap kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan, terutama di kalangan orang berusia lanjut.

Pada musim gelombang panas di Eropa tahun 2003, hal ini mengakibatkan lebih dari 70.000 orang meninggal dunia. Suhu udara ekstrem juga meningkatkan penyebaran aeroallergen, yang memicu penyakit asma bagi 300 juta orang di seluruh dunia.

Secara global, jumlah bencana alam terkait perubahan cuaca telah meningkat tiga kali lipat sejak era 1960an. Bencana-bencana tersebut telah menghancurkan pemukiman penduduk, fasilitas medis, dan layanan penting lainnya. Setiap tahun, bencana yang terjadi mengakibatkan lebih dari 60.000 kematian, terutama di negara-negara berkembang.

Suhu udara tinggi dan pola curah hujan yang semakin bervariasi juga meningkatkan risiko penyebaran berbagai macam penyakit. Selain itu, fenomena perubahan iklim akan menurunkan produksi makanan pokok di berbagai negara, yang menyebabkan kematian 3,1 juta orang per tahun akibat kekurangan gizi. Para ilmuwan memperkirakan, fenomena perubahan iklim akan terus berlanjut sepanjang abad ini.

Dampak perubahan iklim global

Perubahan iklim sangat mempengaruhi penularan berbagai macam penyakit, karena perubahan iklim akan memperpanjang masa transisi dan memperluas jangkauan penyebaran penyakit, seperti schistosomiasis yang ditularkan melalui siput, penyakit malaria dan demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles.

WHO memperkirakan, dampak dari perubahan iklim akan menyebabkan 250.000 kematian pada tahun 2030 sampai 2050. Sebanyak 47.000 kematian akibat paparan suhu udara panas, 48.000 karena diare, 60.000 karena malaria, dan 95.000 karena kelaparan.

Siapa yang berisiko terkena dampak?

Semua populasi manusia akan terkena dampak dari perubahan iklim, namun beberapa di antaranya lebih rentan, seperti mereka yang tinggal di negara-negara berkembang, pulau kecil dan daerah pesisir pantai, kota-kota besar, daerah pegunungan, atau daerah sekitar kutub yang tidak memiliki infrastruktur kesehatan yang memadai.

Cara mengatasi perubahan iklim

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak perubahan iklim, antara lain mengurangi emisi gas rumah kaca, menggunakan sistem energi bersih dan ramah lingkungan, menggunakan transportasi umum, bersepeda atau berjalan kaki sebagai alternatif untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi, serta mengurangi penggunaan energi listrik di rumah dan perkantoran.

Baca juga: Kiamat Hampir Tiba, Manusia Harus Pindah ke Antariksa