Kontroversi Bayi dengan Tiga Orangtua Kandung

Kontroversi Bayi dengan Tiga Orangtua Kandung

BIBLIOTIKA - Janin bayi terbentuk dari pertemuan sel sperma dengan sel telur di rahim wanita. Setelah sembilan bulan, janin itu pun kemudian menjadi bayi hingga akhirnya dilahirkan ke dunia. Dari awal, proses terbentuknya bayi berasal dari sepasang pria dan wanita. Artinya, setiap bayi yang lahir ke dunia memiliki dua orangtua kandung, yaitu ayah dan ibu.

Namun, kini, dunia sains melakukan terobosan kontroversial, hingga memungkinkan seorang bayi memiliki tiga orangtua kandung.

Dengan menggabungkan materi genetik dalam wujud DNA (asam deoksiribo nukleat) dari seorang ayah, ibu, dan ibu donor, Dr. John Zhang di New Hope Fertility Center, New York, melakukan sebuah teknik kontroversial demi menyelamatkan bayi laki-laki tersebut dari penyakit bawaan Leigh Syndrome.

Namun, teknik tersebut memicu kritik dari ilmuwan-ilmuwan yang menganggapnya tidak beretika. Beberapa juga mempertanyakan cara dan kebenaran klaim Zhang.

Menjawab keingintahuan dunia ilmiah, kini Zhang memberikan detail yang lebih lengkap mengenai pembuatan bayi tersebut, dalam sebuah laporan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Reproductive Biomedicine Online, pada tanggal 3 April 2017.

Dengan menukar mitokondria atau bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi dari ibu dengan pendonor, teknik Zhang dapat menghentikan penurunan penyakit metabolik akibat mitokondria ibu yang rusak.

Zhang mengungkap, untuk memindahkan mitokondria tersebut dalam keadaan utuh, ia dan timnya memasukkan nukleus dari telur ibu dengan penyakit Leigh Syndrome ke telur pendonor yang sehat.

Nukleus dan telur tersebut kemudian digabungkan dengan getaran listrik, dan difertilisasi menggunakan sperma ayah, sebelum ditanamkan kembali ke dalam rahim ibu. Proses penggabungan cukup rumit, mencakup pembekuan dan pemanasan embrio.

Berkat keberhasilan Zhang, Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA) memberikan izin kepada Newcastle University untuk melakukan transfer mitokondria.

“Inilah dia. Akhirnya, kita telah berhasil melakukannya. Teknologi ini adalah sesuatu yang luar biasa untuk umat manusia,” kata Zhang.

Permasalahan genetika

Walaupun demikian, banyak yang masih bertanya-tanya bila sisa mitokondria ibu dapat membuat mitokondria anak tidak berfungsi dengan baik.

Berdasarkan laporan Zhang, hanya dua persen dari DNA mitokondria pada urin anak yang berasal dari ibu. Akan tetapi, angka tersebut meningkat hingga sembilan persen ketika sampel diambil dari kulit penis yang dikhitan.

Para peneliti juga masih belum tahu bila hal tersebut dapat menyebabkan permasalahan kesehatan pada anak. Sebab, menurut penelitian pada tikus, pencampuran mitokondria dapat menimbulkan masalah neurologis hingga penyakit metabolik.

Hasil ini tentu tidak bisa disamakan dengan transfer mitokondria pada manusia. Seorang ilmuwan sel punca dari New York Stem Cell Foundation, Dietrich Egli, mengatakan, apa pun yang kita pelajari dari manusia akan menjadi sesuatu yang benar-benar baru.

Sayangnya, kita mungkin tidak akan pernah tahu efek jangka panjang teknik ini pada bayi yang lahir pada bulan September tahun lalu di klinik Zhang. Sebab, orangtua dari bayi tersebut menolak pengujian mitokondria lebih lanjut, bila tidak didasari oleh kebutuhan medis.