Mengenal Hawala, Jasa Pengiriman Uang Bawah Tanah

Mengenal Hawala, Jasa Pengiriman Uang Bawah Tanah

BIBLIOTIKA - Kehidupan modern telah mengenal sistem perbankan, yaitu sistem yang memungkinkan kita mengirim uang ke orang lain, meski jaraknya berjauhan. Untuk mengirimkan uang pada seseorang di kota lain, misalnya, kita bisa membuka rekening bank yang kita miliki, memasukkan perintah transfer ke nomor rekening yang dituju, dan sistem perbankan akan menindaklanjuti hal itu dengan memindahkan sejumlah uang sebagaimana yang kita perintahkan, ke nomor rekening yang kita tuju.

Jika mengirim langsung mengalami kendala, kita juga bisa datang ke kantor bank, mengisi formulir transfer, menyerahkan sejumlah uang plus biaya pengiriman, dan bank akan mengirimkan uang kita ke pihak yang dituju. Semuanya akan tercatat secara otomatis.

Namun, ternyata, selain bank sebagaimana yang kita kenal, ada pula sistem pengiriman uang di luar bank, yang sifatnya bisa dibilang tradisional. Bahkan, karena dianggap ilegal di beberapa negara, sistem pengiriman itu pun dianggap sebagai sistem pengiriman uang bawah tanah. Sistem jasa pengiriman uang tersebut bernama hawala.

Hawala, atau yang juga dikenal sebagai hundi, atau di Somalia sebagai xawala atau xawilaad, adalah sistem transfer nilai informal yang populer dan tanpa adanya pemindahan dana secara fisik ataupun elektronik, namun berdasarkan kinerja dan harga diri dari jaringan pialang uang yang besar, yang dikenal sebagai "hawaladar".

Jaringan Halawadar tersebar di berbagai negara, namun sebagian besar dari mereka berdomisili di Timur Tengah, anak benua India, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika. Hawala mengikuti tradisi tradisi Islam, tapi kegunaannya tidak terbatas kepada muslim saja.

Sejarah singkat Hawala

Hawala telah ada sejak abad ke-8 dan telah dipraktekkan oleh pedagang Arab dan Muslim di sepanjang Jalur Sutra dan sekitarnya, sebagai langkah perlindungan terhadap pencurian uang yang kerap terjadi di sepanjang Jalur Sutra. Hal ini diyakini telah muncul dalam pembiayaan perdagangan jarak jauh di sekitar pusat perdagangan modal yang sedang berkembang pada periode awal abad pertengahan.

Di Asia Selatan, Hawala berkembang menjadi instrumen pasar uang yang lengkap, namun sedikit demi sedikit tergantikan oleh instrumen sistem perbankan formal pada paruh pertama abad ke-20.

Cara kerja Hawala

Berdasarkan gambaran di atas, prosedur bagaimana hawala bekerja bisa diurut sebagai berikut:

1). Pengirim uang akan memberikan sejumlah uang ke halawadar/agent/broker di kotanya (Halawadar A), setelah itu pengirim akan mendapatkan semacam kata kunci yang bisa dipakai penerima untuk mengambil uang nanti.

2). Hawaladar mengirim pesan ke halawadar lainnya (Halawadar B) di kota penerima informasi, tentang berapa jumlah uang yang diterima Hawaladar A dari pengirim, beserta fee dan kata kunci yang digunakan nanti oleh penerima.

3). Pengirim mengirimkan kata kunci dan informasi tentang berapa jumlah uang yang akan dikirm ke penerima.

4). Setelah mendapatkan informasi, penerima bisa menemui Hawaladar B dan meminta kiriman, namun terlebih dahulu menyebutkan kata kunci. Apabila benar, maka hawaladar B akan memberikan sejumlah uang sesuai dengan informasi yang sudah didapat. Setelah itu, penyelesaian utang antara broker hawala dapat mengambil berbagai bentuk, dan tidak perlu mengambil bentuk transaksi tunai langsung.

Salah satu fitur unik dari sistem ini adalah tidak adanya surat sanggup bayar yang dipertukarkan antara hawala, karena transaksi tersebut berlangsung sepenuhnya pada sistem kehormatan yang membutuhkan tingkat kepercayaan tanpa batas. Ini dimungkinan karena Halawadar biasanya terhubung oleh suku, keluarga, desa, atau kelompok etnis yang sama. Tapi kebanyakan Hawaladar adalah usaha kecil, dan Hawala mereka adalah operasi sampingan di samping bisnis utama mereka.

Apabila terjadi kecurangan antar hawaladar, atau hawaladar ke klien/pengguna jasa mereka, hawaladar biasanya dihukum dengan ekskomunikasi dan akan "kehilangan kehormatan"—setara dengan hukuman mati secara ekonomi, yang menyebabkan kesulitan ekonomi pada hawaladar tersebut.

Salah satu hasil peraturan sosial yang efektif ini adalah pedagang komoditas di Asia pada era modern mampu memindahkan ratusan juta dolar AS per perdagangan hanya berdasarkan kepercayaan dan komitmen verbal rekan-rekan mereka.

Apakah Hawala ilegal?

Ya dan tidak. Hawala adalah hal yang ilegal di banyak negara, namun di negara lain hal tersebut dianggap sebagai bagian dari ekonomi "abu-abu", bahkan legal selama teregisterasi. Hawala menjadi ilegal karena terlihat sebagai bentuk pencucian uang, dan dapat digunakan untuk memindahkan kekayaan seseorang secara anonim. Karena transaksi hawala tidak diarahkan melalui bank, mereka tidak dapat diatur oleh instansi pemerintah. Dan apabila ada permasalahan, jalur hukum tidak bisa ditempuh.

Jaringan ini digunakan secara luas di seluruh dunia untuk mengedarkan uang hitam dan menyediakan dana untuk terorisme, perdagangan narkoba, dan kegiatan ilegal lainnya, meskipun Hawala juga dipakai untuk hal legal seperti mengirim uang para migran ke sanak saudara di kampung halaman, tanpa perlu biaya yang selangit.

Mengapa orang masih menggunakan Hawala?

Terlepas dari kenyataan bahwa transaksi hawala bersifat ilegal di beberapa negara, orang menggunakan metode ini karena beberapa alasan berikut:

1). Tingkat komisi untuk mentransfer uang melalui hawala cukup rendah, selain itu efisien dan terbukti dapat diandalkan selama berabad-abad. Ini adalah Western Union tanpa perlengkapan hi-tech dan biaya transfer selangit.

2). Tidak ada persyaratan dari bukti dan pengungkapan sumber pendapatan yang ada.

3). Karena tidak ada pergerakan uang secara fisik, operator hawala memberikan nilai tukar yang lebih baik dibandingkan dengan nilai tukar resmi.

4). Proses transaksi di Hawala sangat sederhana dan tidak merepotkan, apalagi kalau kita harus membandingkan dengan dokumentasi ekstensif yang biasanya dilakukan oleh bank di setiap transaksi.

5). Ini adalah satu-satunya cara untuk mentransfer pendapatan yang tidak terhitung.

Baca juga: George Soros, Pakar Keuangan Paling Kontroversial di Dunia