Mengurangi Makan Dapat Menunda Penuaan (2)

Mengurangi Makan Dapat Menunda Penuaan

BIBLIOTIKA - Artikel ini adalah lanjutan artikel sebelumnya (Mengurangi Makan Dapat Menunda Penuaan 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Pada tataran berbeda-beda, eksperimen atas monyet-monyet di NIA juga menunjukkan hasil yang sama. "Kami menemukan frekuensi diabetes, frekuensi kanker lebih rendah pada kelompok yang konsumsi kalorinya dibatasi," kata Mattison.

Tahun 2009, uji coba di Universitas Wisconsin menerbitkan hasil serupa yang menakjubkan. Tidak hanya monyet-monyet tersebut tampak sangat muda -punya bulu lebih tebal, penipisannya kurang, dan warnanya cokelat bukan abu-abu- dibanding monyet-monyet yang diberi diet standar. Mereka juga lebih sehat pula dan bebas dari penyakit.

Penyakit penuaan

Kanker, seperti adenocarcinoma usus yang umum terjadi, berkurang lebih dari 50%. Risiko penyakit jantung juga berkurang 50%. Dan meskipun 11 monyet ad libitum, atau yang makan seperti biasanya, mengalami diabetes dan lima tanda-tanda pradiabetes, pengontrolan gula darah tampak sehat di semua monyet yang asupan kalorinya dibatasi. Bagi monyet-monyet tersebut, diabetes tidak menjadi persoalan.

Secara keseluruhan, hanya 13% monyet di kelompok yang kalorinya dibatasi mati karena sebab-sebab penuaan dalam kurun waktu 20 tahun. Di kelompok ad libitum, jumlahnya 37% mati atau hampir tiga kali lipat dibanding kelompok yang asupan kalorinya dibatasi.

Dalam penelitian perbaruan di Universitas Wisconsin pada 2014, persentase ini tetap stabil.

"Kami telah membuktikan bahwa penuaan dapat dimanipulasi pada primata," kata Anderson. "Ini seperti ditutup-tutupi karena jelas, tetapi secara konsep persoalan ini sangat penting bahwa penuaan merupakan target yang masuk akal bagi intervensi klinis dan perawatan medis."

Dengan kata lain, jika penuaan dapat ditunda, maka semua penyakit yang berkaitan dengan penuaan akan mengikutinya. "Menangani satu penyakit sekali waktu tidak akan memperpanjang masa hidup seseorang secara signifikan, karena mereka akan meninggal dunia karena sebab lain," jelasnya Anderson.

"Jika kita menyembuhkan semua jenis kanker, kita tidak akan mengimbangi kematian karena penyakit jantung, dementia, atau kelainan-kelainan yang disebabkan oleh diabetes. Sebaliknya, jika kita mengatasi penuaan, kita dapat mengimbangi semuanya sekaligus."

Mengurangi makan jelas membantu monyet, tetapi pembatasan asupan kalori jauh lebih sulit dilakukan oleh manusia dalam dunia nyata. Pertama, akses kita ke makanan reguler yang tinggi kalori pada masa sekarang ini lebih mudah dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Dengan adanya perusahaan pengantaran, kita tidak perlu lagi berjalan ke restoran. Kedua, bertambah bobot adalah hal yang biasa bagi sebagian orang.

"Terdapat komponen genetik besar bagi semua ini, dan bagi sebagian orang lebih sulit untuk menjaga badan langsing dibanding sebagian lainnya," jelas Anderson.

Idealnya, jumlah dan jenis makanan yang kita makan seharusnya disesuaikan dengan siapa kita - seperti kecenderungan genetik kita untuk bertambah bobot, bagaimana metabolisme kita dengan gula, bagaimana kita menyimpan lemak, dan aliran-aliran psikologis lain yang berada di luar cakupan instruksi ilmiah pada saat ini dan mungkin juga selamanya.

Namun kecenderungan kelebihan berat badan dapat digunakan sebagai panduan untuk pilihan hidup dan bukan sebagai keniscayaan. "Secara pribadi saya punya sejarah obesitas dalam keluarga, dan saya melakukan pembatasan kalori dan bentuknya fleksibel," ungkap Susan Roberts, pakar diet di Universitas Tufts di Boston.

"Saya mempertahankan Indeks Massa Tubuh (BMI) pada 22, dan saya telah menghitung bahwa untuk mempertahankan kondisi itu saya harus makan 80% dari jumlah yang biasa saya konsumsi jika BMI saya 30, sama seperti halnya anggota keluarga saya yang lain."

Ditekankan oleh Roberts bahwa hal itu tidak sulit: ia mengikuti program manajemen berat badan sendiri dengan menggunakan alat yang disebut iDiet untuk membantunya mengurangi porsi makan tetapi menghindari rasa lapar atau menghindari kesenangan. Jika langkah itu tidak mungkin dilakukan, tambahnya, ia tidak akan menjalankan pembatasan kalori.

Roberts tidak hanya menyaksikan langsung persoalan obesitas di keluarganya, ia juga lebih paham akan manfaat pembatasan kalori dibandingkan kebanyakan orang. Selama lebih dari 10 tahun, ia memimpin tim ilmuwan dalam percobaan Comprehensive Assessment of Long-Term Effects of Reducing Intake of Energy, yang juga dikenal dengan sebutan Calerie.

Metabolisme

Dalam program itu. selama dua tahun, sebanyak 218 laki-laki dan perempuan sehat berusia 21 hingga 50 tahun dibagi menjadi dua bagian. Di kelompok pertama, mereka dibolehkan makan seperti biasanya, sementara kelompok kedua mengurangi makan sampai 20%. Kedua kelompok menjalani pemeriksaan kesehatan setiap enam bulan.

Berbeda dengan penelitian pada monyet Rhesus, pemeriksaan selama lebih dari dua tahun tidak dapat menentukan apakah pengurangan kalori mengurangi atau menunda penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penuaan. Waktunya tidak mencukupi untuk mengukurnya.

Tetapi uji coba Calerie menguji hal terbaik selanjutnya: tanda-tanda biologis awal bagi penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

Di dalam darah orang-orang yang menjalani pembatasan kalori, rasio antara kolesterol 'baik' dan kolesterol 'jahat' meningkat, sementara molekul yang berhubungan dengan pembentukan tumor -yang disebut faktor nekrosis tumor- berkurang 25%, dan tingkat resistensi insulin -tanda jelas adanya diabetes- turun hampir 40% dibanding orang-orang yang mengonsumsi diet normal. Secara keseluruhan tekanan darah lebih rendah.

Memang, beberapa hal positif tersebut mungkin disebabkan karena berat badan berkurang. Uji coba yang dilakukan Calerie mencakup orang-orang yang gendut dan mereka yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) 25 atau kurang dari angka itu, dan mengurangi berat badan tentu saja meningkatkan kesejahteraan peserta yang lebih gemuk.

"Satu hal yang sangat jelas untuk waktu yang lama adalah kelebihan berat badan tidak baik bagi kita," tegas Roberts.

Ditambahkannya, berbagai penyakit dan kelainan yang sebelumnya diyakini berhubungan dengan penuaan, sekarang muncul di kalangan penduduk yang gendut.

Namun hasil-hasil terbaru ini menunjukkan bahwa keuntungan kesehatan yang signifikan dapat dipetik dari tubuh yang sudah sehat -yaitu orang yang tidak kekurangan berat badan maupun yang gemuk. Orang tersebut memiliki BMI antara 18,5 hingga 25.

Di balik hasil-hasil itu, bukti dari uji coba lebih lanjut diperlukan sebelum seseorang yang punya BMI sehat disarankan untuk mengurangi asupan kalori.

Sementara itu, para ilmuwan berharap bahwa monyet-monyet Rhesus dapat membantu kita memahami dengan tepat kenapa pembatasan kalori mungkin punya dampak-dampak seperti itu.

Didukung data yang dikumpulkan selama hampir 30 tahun tentang kematian dan kehidupan, dan sampel darah serta tisu, dari hampir 200 monyet, penelitian di NIA dan Universitas Wisconsin bertujuan untuk mencari titik terang tentang pembatasan kalori serta mencari tahu bagaimana hal itu menunda penuaan.

Dengan makanan dikurangi, apakah metabolisme dipaksa lebih efisien? Apakah ada tombol molekul umum pengatur penuaan yang diaktifkan (atau dimatikan) dengan kalori lebih sedikit? Atau apakah ada mekanisme yang belum diketahui yang mengganjal hidup atau matinya kita?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin masih jauh dari kenyataan.

"Jika saya kloning diri sendiri 10 kali dan kita semua bekerja keras, saya pikir kita tetap tidak dapat memecahkannya," kata Anderson.

"Biologi sangat rumit," tambahnya. Perlu dilakukan upaya untuk memahami bagaimana pembatasan kalori bekerja dan perawatan-perawatan lain dapat digunakan untuk menyasar bagian khusus biologi kita. Penuaan dapat ditangani secara langsung tanpa perlu membatasi kalori.

"Dan saya pikir hal itu merupakan tiket emas yang sebenarnya," ungkap Anderson.

Walau kekurangan penjelasan yang rapi, pembatasan kalori tetap merupakan salah satu jalan menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan dan seberapa lama kesehatan bertahan dalam hidup kita.

"Tidak ada hal apapun yang kita dapati yang membuat kita berpikir bahwa pembatasan kalori tidak baik bagi orang," kata Roberts dari penelitian Calerie.

Dan berbeda dengan perawatan berbasis obat, pembatasan kalori tidak menimbulkan berbagai efek sampingan. "Orang-orang kami (peserta) tidak merasa lebih lapar, suasana hatinya baik, fungsi seksualnya baik. Kami berusaha menemukan hal-hal buruk dan tidak menemukannya," kata Roberts.

Satu masalah yang diperkirakan terjadi adalah sedikit pengurangan pada kepadatan tulang yang biasanya berkaitan dengan penurunan berat badan, kata Roberts. Namun sebagai langkah jaga-jaga, para relawan diberi suplemen tambahan dalam jumlah kecil selama masa percobaan.

Bahkan dengan hasil temuan yang menjanjikan seperti itu, "Uji coba Calerie merupakan penelitian pertama dalam masalah ini, dan saya pikir tak seorang pun dari kita merasa yakin, 'baiklah kita akan merekomendasikan ini kepada setiap orang di dunia," ungkap Roberts.

"Tetapi hal ini benar-benar merupakan prospek yang menarik. Saya pikir menunda munculnya penyakit-penyakit kronis adalah sesuatu yang dapat didukung oleh semua orang dan membuat orang tertarik, karena tak seorang pun ingin menjalani hidup dengan salah satu penyakit tersebut."

Baca juga: Makanan dan Minuman yang Dapat Memicu Depresi