Mengurangi Makan Dapat Menunda Penuaan (1)

Mengurangi Makan Dapat Menunda Penuaan

BIBLIOTIKA - Salah satu kebenaran penting terkait kesehatan adalah soal berapa banyak yang kita makan. Semakin sedikit kita makan, kesehatan tubuh akan semakin baik. Sebaliknya, semakin banyak yang kita makan, kesehatan tubuh rentan untuk memburuk atau mendapat masalah kesehatan. Hippocrates, yang dianggap Bapak Kedokteran, menuliskan kenyataan itu di salah satu lembar papirus.

Berabad-abad kemudian, upaya para pakar kesehatan dan medis dalam mencari cara untuk menjaga kesehatan dan memperlambat penuaan juga terus menerus mendapati kenyataan itu. Bahwa sedikit makanan yang dikonsumsi dapat memperbaiki kondisi kesehatan tubuh, dan hal yang sebaliknya juga berlaku.

Penelitian terbaru menyangkut hal ini dilakukan oleh Julie Mattison dari National Institute on Ageing (NIA) atau Institut Nasional Penuaan di Amerika Serikat. Ia membayangkan suatu masa ketika umur secara kronologis berlalu setiap tahun, tapi usia biologis dapat disetel ke waktu yang berbeda, sehingga tua tidak sama artinya dengan makna kata itu seperti yang kita pahami sekarang.

Hal tersebut tampaknya jauh dari jangkauan, tapi masyarakat kita sudah berusaha melangkah ke arah itu, berkat kemajuan obat-obatan dan perbaikan standar hidup sehat. Pada 2014, misalnya, Survei Interview Kesehatan Amerika Serikat mencatat bahwa 16% penduduk pada usia antara 50 hingga 64 tahun setiap harinya mengalami gangguan karena penyakit kronis. Tiga puluh tahun sebelumnya jumlah itu mencapai 23%. Artinya, selain mengalami masa hidup lebih panjang, kita juga mengalami 'masa kesehatan' -dan hal yang kedua tersebut terbukti lebih bisa ditempuh.

Mengutip dan memperbarui pidato mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, dalam Konferensi Penuaan di Gedung Putih yang pertama pada 1961, sejatinya kehidupan dapat ditambahkan ke umur, jadi bukan hanya umur yang ditambahkan ke dalam kehidupan.

Pembatasan kalori

Lantas, apa yang perlu kita lakukan untuk memperpanjang lagi umur dan menambah kualitas hidup kita? Para peniliti di seluruh dunia mencari berbagai pemikiran, tetapi bagi Mattison dan kolega-koleganya, jawabannya adalah perubahan sederhana dalam diet kita.

Mereka meyakini bahwa kemungkinan kunci dari masa tua yang lebih baik adalah mengurangi kuantitas makanan yang kita konsumsi, melalui pendekatan yang disebut 'pembatasan kalori'.

Diet ini lebih efektif dibandingkan mengurangi makanan berlemak sesekali, yaitu dengan cara mengurangi ukuran porsi makan secara bertahap dan berhati-hati untuk selamanya. Sejak awal tahun 1930-an, 30% pengurangan jumlah makanan yang dikonsumsi per hari memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih aktif dan panjang umur untuk cacing, lalat, tikus kecil, tikus besar dan monyet.

Di dunia binatang, dengan kata lain, pembatasan kalori terbukti sebagai obat mujarab bagi kerusakan hidup. Dan mungkin saja hal tersebut dapat memberikan keuntungan yang sama bagi manusia.

Pemikiran bahwa yang dimakan orang mempengaruhi kesehatannya, tidak diragukan lagi, sudah ada sebelum catatan sejarah yang masih ada sekarang. Akan tetapi, sebagaimana halnya dalam disiplin ilmiah, catatan rinci pertama berasal dari Yunani Kuno.

Hippocrates -salah seorang ahli fisika yang mengatakan penyakit-penyakit adalah alamiah dan bukan ajaib- mengamati bahwa banyak penyakit berhubungan dengan kerakusan. Orang-orang Yunani yang gemuk cenderung meninggal dunia pada usia lebih muda dibanding orang Yunani yang ramping. Hal itu jelas dan ditulis di kertas papirus.

Dari pusat ilmu pengetahuan tersebut, gagasan-gagasan ini kemudian diadopsi dan diadaptasi selama berabad-abad. Dan pada akhir Abad ke-15, Alvise Cornaro, seorang aristokrat lemah dari desa kecil di dekat Venesia, Italia, memasukkan kearifan tersebut ke benaknya dan menerapkannya pada dirinya sendiri.

Jika hidup serba berlebihan mempunyai efek negatif, apakah menahan diri dari makanan bersifat positif? Untuk menemukan jawabannya, Cornaro, yang berusia 40 tahun, hanya menyantap 350 g (12 oz) makanan setiap hari, kurang lebih sebanyak 1.000 kalori jika berdasarkan perkiraan baru-baru ini. Ia makan roti, panatela -atau semacam biskuit panjang- kuah sup, dan telur.

Untuk daging, ia memilih daging sapi muda, kambing, daging sapi, burung partridge yang biasa diburu, burung thrush, dan semua jenis unggas yang tersedia. Ia membeli ikan yang ditangkap di sungai setempat. Dengan membatasi jumlah tetapi tidak jenis makanannya, Cornaro mengklaim telah mencapai 'kesehatan sempurna' sampai kematiannya lebih dari 40 tahun kemudian.

Meskipun ia mengubah tanggal lahirnya ketika bertambah tua dan mengaku berumur 98 tahun, diyakini dia berusia 84 tahun ketika meninggal dunia. Hal itu merupakan pencapaian luar biasa pada abad ke-16, ketika usia 50 atau 60 dianggap tua. Pada 1591, cucu laki-lakinya menerbitkan buku besar yang terdiri dari tiga volume setelah kematiannya, dengan judul Discourses on the Sober Life atau Wacana Hidup Sadar yang berisi dorongan pembatasan makanan bagi khalayak umum, dan mendefinisikan ulang penuaan itu sendiri.

Dengan perbaikan kesehatan di masa-masa tua, maka kaum manula masih mempunyai kapasitas mental secara penuh dan akan mampu memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh selama berpuluh-puluh tahun untuk tujuan baik, kata Carnaro. Dengan dietnya, kecantikan menjadi usia tua, bukan muda.

Uji coba umur panjang

Cornaro merupakan laki-laki yang menarik, tetapi penemuannya tidak seharusnya diperlakukan sebagai sebuah kenyataan oleh disiplin ilmu pengetahuan apapun. Bahkan sekalipun ia jujur dengan mengatakan apa adanya dan tidak mengalami gangguan kesehatan selama hampir setengah abad -yang tampaknya tidak mungkin- ia adalah satu studi kasus yang tidak mewakili manusia secara keseluruhan.

Namun sejak penelitian dasar tahun 1953 pada tikus putih, pembatasan makanan antara 30% hingga 50% menunjukkan perpanjangan usia, menunda kematian akibat kelainan dan penyakit terkait usia. Tentu saja, yang berlaku bagi tikus atau organisme laboratorium mungkin tidak berlaku bagi manusia.

Uji coba jangka panjang, dengan mengikuti jejak manusia sejak menginjak usia dewasa sampai kematian, jarang dilakukan.

"Saya tidak berpendapat penelitian umur panjang pada manusia sebagai sesuatu yang bisa menjadi program riset yang dapat didanai," kata Mattison. "Bahkan kalau pun kita memulai manusia pada usia 40 atau 50 tahun, kita masih harus melakukan penelitian tambahan kira-kira 40 atau 50 tahun lagi."

Lagi pula, tambahnya, untuk memastikan bahwa faktor-faktor tak terkait -seperti olahraga, merokok, perawatan medis, kesehatan mental- tidak sampai mempengaruhi hasil akhir uji coba adalah hampir tidak mungkin bagi spesies kita yang kompleks dari sisi sosial dan kultural.

Oleh sebab itu, pada akhir 1980-an, dua uji coba independen jangka panjang -satu di NIA dan satu lagi di Unversitas Wisconsin- dilakukan untuk mempelajari pembatasan kalori dan penuaan pada monyet Rhesus. Tak hanya 93% DNA manusia sama dengan primata ini, cara manusia menua juga sama dengan monyet itu.

Perlahan-lahan, setelah tengah baya (sekitar 15 tahun pada monyet Rhesus), tulang belakang mulai membungkuk, kulit dan otot mulai mengendur, dan di bagian yang masih tumbuh, bulu berubah dari warna seperti jahe menjadi abu-abu. Persamaan-persamaan yang ada lebih dalam lagi. Pada primata ini, timbulnya kanker, diabetes dan penyakit jantung bertambah sering dan bertambah buruk seiring dengan pertambahan usia.

"Primata-primata itu adalah model yang luar biasa bagus untuk mempelajari penuaan," kata Rozalyn Anderson, seorang pakar ilmu penuaan di Universitas Wisconsin.

Tak alami malnutrisi

Dan primata mudah dikendalikan. Dengan diberi makanan berupa biskuit khusus, diet untuk 76 monyet di Universitas Wisconsin dan 121 yang ada di NIA disesuaikan dengan usia, bobot tubuh dan nafsu makan alamiahnya. Semua monyet mendapat asupan penuh gizi dan mineral yang diperlukan tubuh. Yang terjadi adalah 50% dari kelompok monyet yang kalorinya dibatasi, makan 30% lebih sedikit dari kelompok lainnya.

Ternyata monyet-monyet tersebut tidak mengalami malnutrisi atau kelaparan. Sebagai contoh, Sherman, monyet berumur 43 tahun dari NIA.

Menurut Julie Mattison dari National Institute on Ageing (NIA) di Amerika Serikat, sejak menjalani diet pembatasan kalori tahun 1987, pada umur 16 tahun, Sherman belum menunjukkan tanda-tanda kelaparan yang biasanya jelas terlihat pada spesies ini.

Sherman adalah monyet Rhesus tertua yang pernah tercatat, hampir 20 tahun lebih tua dibanding rata-rata masa hidup spesies itu yang hidup di kandang. Ketika monyet muda menderita penyakit dan sekarat, si monyet Sherman tampak kebal dari penuaan. Bahkan ketika umurnya mencapai 30-an tahun, Sherman mestinya dianggap sebagai monyet tua, tetapi ia tidak tampak atau beraksi seperti umurnya yang sudah tua.

Baca lanjutannya: Mengurangi Makan Dapat Menunda Penuaan (2)