Kasus Penembakan Paling Mematikan di Amerika

Kasus Penembakan Paling Mematikan di Amerika

BIBLIOTIKA - Kasus-kasus penembakan sering terjadi di Amerika Serikat, mengingat di negara tersebut memang ada izin atau peraturan yang memungkinkan siapa pun bisa memiliki senjata api dan menggunakannya. Meski tujuan peraturan itu tentu untuk hal positif, namun kenyataannya izin kepemilikan senjata api menjadikan tingginya kasus penembakan di Amerika tergolong tinggi.

Sudah cukup lama sebagian pihak menuntut agar pemerintah Amerika Serikat menarik peraturan terkait izin kepemilikan senjata api. Tuntutan itu makin marak setelah terjadinya kasus penembakan di Las Vegas, yang terjadi pada November 2017. Kasus yang dimaksud adalah penembakan brutal yang dilakukan seorang lelaki bernama Stephen Paddock terhadap orang-orang yang menjadi penonton konser musik country di Mandalay Bay, Las Vegas.

Akibat ulah biadab Paddock yang memanfaatkan senjata (sejenis pistol) termutakhir itu, sebanyak 59 orang tewas dan 400 lebih mengalami luka-luka. Karenanya, kasus itu disebut-sebut sebagai kasus penembakan paling mematikan yang pernah terjadi di Amerika.

Perangkat senjata yang dimiliki Paddock tersebut diakui telah menarik perhatian pihak berwenang dalam beberapa tahun terakhir ini. Paddock bisa melepaskan ratusan peluru dalam beberapa menit saja, yang diarahkan ke kerumunan massa.

"Saat beberapa detik setelah rentetan tembakan terhenti, Paddock dengan cepat dapat mengubah senjata api semi otomatis menjadi senjata otomatis," kata pejabat keamanan di Las Vegas.

Senator California, Dianne Feinstein, beberapa tahun yang lalu mengatakan kepada The Associated Press bahwa dia khawatir dengan munculnya teknologi baru yang bisa mengubah senjata api semi otomatis menjadi sepenuhnya otomatis.

"Ada perangkat pengganti yang bisa mengubah senapan semi otomatis menjadi senjata yang bisa memuntahkan peluru pada kecepatan 400 sampai 800 putaran per menit," katanya.

Senjata semi otomatis membutuhkan satu pemicu tarik untuk setiap putaran yang ditekan. Berbeda dengan senjata api otomatis, satu pemicu bisa melepaskan putaran terus menerus sampai isinya kosong.

Pembelian senjata otomatis sepenuhnya telah dibatasi secara signifikan di AS sejak tahun 1930an. Pada tahun 1986, Undang-Undang Kebakaran Nasional federal diubah untuk melarang transfer atau kepemilikan senapan mesin oleh warga sipil, dengan pengecualian untuk produk yang sebelumnya diproduksi dan didaftarkan.

Penembak Las Vegas, Stephen Paddock, memiliki 23 senjata di kamar hotelnya dan efektifitasnya masih diselidiki pihak berwajib. Yang jelas, Paddock dalam melaksanakan aksinya terlihat terampil mengubah senjata semi otomatis menjadi otomatis.

Paddock menewaskan 59 orang dan melukai ratusan lainnya di festival musik country di dekat hotelnya. Polisi menyerbu kamar hotelnya di lantai 32, dan menemukan Paddock telah bunuh diri setelah melakukan penembakan paling mematikan dalam sejarah AS modern.

Sejauh ini dilaporkan telah ditemukan 23 senjata api di kamar hotel Paddock, yang beberapa di antaranya adalah senapan AR-15 dan AK-47, juga stok amunisi dalam jumlah besar. Jika melihat kemampuan senapan semi otomatis AR-15, maka kemungkinan besar senjata inilah yang dipakai oleh Paddock.

Ahli-ahli senjata pun mengemukakan teori jika Paddock menggunakan alat bernama "hellfire trigger" atau "gat crank" untuk membuat AR-15 menembakkan peluru dengan kecepatan layaknya senjata otomatis. Alat itu dipasang di pelatuk AR-15 yang membuatnya bisa dengan mudah menembak ratusan peluru dalam satu menit. Ini jauh lebih banyak dibandingkan pelatuk biasa, yang hanya bisa menembak sekitar 80 hingga 100 peluru per menit.

Agar lebih paham, senjata semi otomatis dan otomatis memiliki sistem mekanik yang berbeda saat menembak. Senjata otomatis dapat melancarkan tembakan non-stop dalam sekali menarik pelatuk, dan juga tersedia peluru di dalamnya sampai pelatuk dilepas.

Sementara senjata semi otomatis, cara kerjanya adalah satu kali tarik pelatuk maka satu peluru yang keluar, tapi tanpa perlu melakukan kokang atau recoil kembali. Kalau senjata yang harus selalu mengokang peluru di setiap tembakannya disebut senjata manual.

AR-15 juga menjadi jawaban bagaimana si penembak bisa melancarkan serangannya dari jarak yang jauh. Diketahui, senapan ini memiliki jarak efektif menembak sejauh 550 meter, sementara jaraknya dengan kerumunan penonton di festival musik Route 91 adalah 365 meter. Menurut laporan The Washington Post, telah ditemukan sebuah scope atau bidikan senjata di lokasi penembak.

Dengan kecepatan tembakan yang dilakukan Paddock, seharusnya senapan AR-15 itu akan mengalami panas yang berlebih alias overheat. Tapi, mengingat ia mempunyai senapan lain di kamar hotelnya, maka ada kemungkinan ia mengganti senjatanya saat terjadi overheat.

Selain menggunakan "hellfire trigger", ada alat lain yang bisa digunakan untuk mengubah senjata AR-15 semi otomatis menjadi otomatis. Dilansir Wired, alat itu disebut dengan "slide fire' atau "bump", yang menambahkan sistem mekanis baru ke dalam senapan. 

Alat ini ditekan ke bahu dari si pengguna, yang membuat peluru langsung maju setiap dilakukan tembakan. Pengguna akan menahan jarinya di pelatuk, dan alat itu akan menarik pelatuknya lagi dan lagi, dengan kecepatan seperti senapan mesin.

Tapi, bagi seseorang yang ingin melanggar hukum, mengubah senjata semi otomatis menjadi sepenuhnya otomatis tidaklah sulit. John Sullivan, salah seorang ahli senjata dari organisasi Defense Distributed, mengatakan pengguna bisa memakai sebuah komponen kecil pada bagian pelatuk senapan yang disebut "auto sear". Selain itu, modifikasi pada kerangka AR-15 juga bisa membuatnya memakai auto sear dari senapan mesin M16 yang tersedia online.

Menurut Sullivan, modifikasi ini bisa dilakukan dengan mudah dan sangat cepat. Tapi, ini melanggar hukum di AS.

Sungguh tragedi yang mengerikan ketika senjata bebas di tangan publik menjadikan mudahnya manusia menjadi pembunuh.

Baca juga: Cara agar Terus Dikenang Sepanjang Zaman