Cara agar Terus Dikenang Sepanjang Zaman (1)

Cara agar Terus Dikenang Sepanjang Zaman

BIBLIOTIKA - Mengapa ada orang-orang yang namanya hanya terkenal di satu zaman dan dilupakan di zaman setelahnya, dan ada pula orang-orang yang terus dikenang sepanjang zaman?

Berdasarkan sejarah dan berbagai pengetahuan yang telah kita pelajari, kita tentu mengenal nama-nama terkenal. Sebagian mereka terkenal di suatu zaman, atau juga di beberapa zaman setelahnya, namun kemudian terlupakan. Di sisi lain, ada pula orang-orang yang terkenal di suatu zaman, dan namanya terus dikenang dari generasi ke generasi, bahkan sampai berabad-abad. Apa yang membedakan mereka, hingga terjadi perbedaan semacam itu?

Di London, misalnya, ada sebuah pemakaman bernama Highgate. Di pemakaman yang terpencil itu terdapat sebuah pusara besar yang terbuat dari marmer. Pusara itu berbentuk seperti kotak panjang, dengan patung seekor anjing berukuran sebenarnya, yang digambarkan sedang duduk rebah. Batuannya dipenuhi bercak-bercak kehijauan lumut, dan sulur-sulur tumbuhan ivy merambat di dasarnya. Ukiran di batu itu berbunyi, "Didirikan untuk mengenang Thomas Sayers".

Siapakah Thomas Sayers? Di masa sekarang, mungkin hanya sedikit—bahkan bisa jadi sudah tak ada—orang yang mengenal namanya. Padahal, di masa hidupnya, Thomas Sayers sangat terkenal.

Waktu itu musim dingin tahun 1865, dan Sayers, yang memulai kariernya sebagai tukang batu bata yang buta huruf, telah sukses menjadi salah satu olahragawan paling terkenal di zaman Victoria.

Sayers adalah juara tinju tangan-kosong pertama di Inggris. Pertandingan terakhirnya, di mana ia bertarung dengan satu tangan di sebuah lapangan di Hampshire, disaksikan ribuan orang. Kereta khusus disewa untuk membawa para penonton, yang termasuk para tokoh terkenal zaman Victoria, seperti novelis Charles Dickens dan William Thackeray. Bahkan perdana menteri waktu itu, Lord Palmerston, turut hadir; Parlemen sengaja bubar lebih awal, dan Ratu Victoria meminta supaya diberitahu hasil pertandingannya.

Ketika Sayers tutup usia beberapa tahun kemudian, iring-iringan pemakamannya membentang sampai sejauh tiga kilometer dan dihadiri sekitar 100.000 orang. Kekacauan terjadi di area kuburan ketika orang-orang memanjat pohon dan menginjak-injak batu nisan, demi pemandangan yang lebih baik.

Seratus dan lima-puluh dua tahun kemudian, reputasinya telah menjadi abu. Ia masih dikenal para sejarawan dan penggila tinju - tapi bagi kita yang awam, ia bukanlah siapa-siapa.

Jalannya waktu yang perlahan tapi pasti meninggalkan banyak 'korban' serupa - orang-orang yang melesat ke puncak kepopuleran hanya untuk dilupakan kemudian. Misalnya penyair Yunani, Sappho, yang puisi erotisnya membangkitkan gairah para pendengar di zaman kuno. Sajak-sajak itu begitu memikat, seorang pejabat Athena mengatakan ia merasa bakal mati kalau mendengarnya.

Atau gladiator termasyhur, Spiculus, yang tampil di amfiteater-amfiteater Romawi kuno. Sang kaisar Nero begitu terpikat kepadanya, sampai-sampai ketika merasa upaya pembunuhan terhadapnya sudah dekat; ia meminta Spiculus yang melakukannya.

Kenapa beberapa orang hampir langsung dilupakan setelah mereka tiada, sementara lainnya bertahan, tertanam begitu dalam di budaya kita sehingga kita masih mempelajari mereka, menganalisis kejiawaan mereka; menulis tentang kehidupan, kematian, dan pencapaian mereka; dan bahkan menggambarkan mereka dalam film, beribu tahun setelah mereka meninggal dunia?

Mereka yang menginginkan ketenaran abadi harus menjalani sejumlah tantangan, termasuk kecemburuan para saingan, dan kemungkinan kepunahan peradaban dan bahasa mereka. Namun ada beberapa petunjuk tersembunyi dalam kisah hidup mereka yang berhasil, dan mereka yang menghilang di tengah jalan.

Atur citra Anda, tapi jangan berlebihan

Tempat yang pas untuk memulai pencarian petunjuk tersebut ialah masyarakat Yunani Kuno, yang bagi mereka, mencapai kemuliaan abadi adalah obsesi. "Mereka sangat, sangat berfokus pada ketenaran," kata Thomas Harrison, profesor Sejarah Kuno di Universitas St. Andrews.

"Mungkin [sekarang] kedengaran lucu, tapi dulu bukan hal yang memalukan untuk berkata bahwa Anda menginginkan ketenaran abadi dalam berbagai bentuk, jadi orang-orang membicarakannya secara lebih terang-terangan."

Di pusat semua itu adalah konsep kleos, yang terjemahan kasarnya ialah "hal yang didengar orang tentang Anda". Konsep itu dipopulerkan oleh puisi Homer - dengan sendirinya bertahan selama ribuan tahun - dan dicapai dengan mengambil risiko besar dan membuat pengorbanan hebat, terutama dalam pertempuran. Jagoan Homer, Achilles, yang tewas setelah ditembak dengan anak panah di bagian tumitnya, adalah contoh arketipenya.

"Pada suatu masa para pemimpin militer menjalani perang dengan tujuan khusus mencapai kejayaan," kata Lynette Mitchell, pakar Sejarah dan Politik Yunani Kuno di Universitas Exeter.

Sudah bisa ditebak, beberapa sosok dengan nama besar sangat terobsesi dengan ide itu. Alexander Agung memimpin kerajaan Macedonia dari 336-323 SM, mengembangkannya dari daratan utama Yunani dan pulau-pulau Mediterania yang terpencar menjadi kekuatan global yang membentang sampai barat laut India.

Seperti Julius Caesar, Alexander adalah jagonya promosi-diri, yang mesin propaganda canggihnya meliputi, antara lain, rombongan sejarawan yang menemaninya dalam operasi penaklukan. "Mereka bisa dikatakan menulis sejarah kampanye militernya saat itu juga," kata Harrison.

Alexander juga dilaporkan hanya mengizinkan seorang pematung untuk memahat potret dirinya, dan dengan hati-hati merencanakan detail kemiripan wajahnya yang muncul dalam koin uang.

Strategi ini telah berlanjut ke zaman modern, digunakan oleh presiden maupun bintang pop. Namun mereka yang berharap untuk dikenang perlu berhati-hati. "Para selebritas zaman sekarang, misalnya Bono (vokalis grup musik rock U2), mengalami penilaian-kembali sampai tingkat tertentu," kata Chris Rojek, seorang sosiolog di City, Universitas London.

"Fakta bahwa pemasaran lebih terlibat dalam penciptaan tokoh-tokoh ini berarti kritik sosial yang mengepung mereka juga jauh lebih mengakar daripada sebelumnya."

Putuskan karier Anda dengan bijak

Mereka yang cukup beruntung dilahirkan di lingkungan kekuasaan masih memiliki peluang cukup baik untuk diingat, terutama jika mereka berfokus untuk mengubah dunia dengan ide mereka. Misalnya para filsuf. Di zaman kuno, mereka tidak begitu dikenal baik oleh khalayak. Mereka hidup di dunia yang asing, dan mereka yang dianggap ateis dipandang mencurigakan dan aneh. Tapi ribuan tahun kemudian, karya mereka masih menuntun pemikiran modern dan dikenal begitu luas sampai nama-nama mereka menjadi tak terpisahkan dari bidang mereka.

"Mereka mengubah cara orang berpikir dan karena itulah mereka tetap penting," kata Lynette Mitchell. Akan tetapi, para filsuf kuno diuntungkan dengan saingan yang lebih sedikit - karena kebanyakan orang di masa itu buta huruf - dan menjadi yang pertama.

Menemukan ketenaran menjadi semakin sulit tanpa ide orisinal, tapi masih mungkin untuk menciptakan eksperimen pemikiran yang revolusioner. Pada 2013, sekelompok ilmuwan berusaha mencari tahu siapakah sarjana paling berpengaruh di dunia. Mereka menjelajahi internet demi menemukan tokoh yang paling sering disebut serta melakukan analisis yang rumit. Pemenangnya? Karl Marx.

Dan memang, seiring Da Vinci, Galileo, dan Isaac Newton mendekati satu milenium ketenaran mereka, dan Darwin dan Einstein mencatat kemahsyuran selama berabad-abad, hidup di laboratorium mungkin menjadi pilihan yang menggoda. Tapi sayangnya, di zaman sekarang, bahkan hadiah Nobel belum tentu mangkus. "Sains dahulu dipandang sebagai penemuan individual yang heroik, yang tidak sepenuhnya benar, tapi itu lebih benar daripada di masa sekarang," kata Harrison.

Sains sekarang tak hanya jauh lebih kolaboratif, tapi seperti halnya filosofi, semua konsep dasarnya - yang relatif lebih mudah dipahami kebanyakan orang - telah dijabarkan. "Salah satu kesulitan yang dihadapi para ilmuwan zaman sekarang ialah sulitnya [orang awam] untuk memahami apa maksud penemuan mereka," tuturnya.

Karena orang-orang perlu berusaha keras untuk memahami lubang hitam dan string theory, bahkan para jenius zaman modern seperti Stephen Hawking mungkin akan dilupakan - meskipun kisah hidupnya menarik.

Profesi lainnya yang bisa dihindari antara lain olahraga dan musik. "Para pahlawan olahraga meninggalkan bekas pada suatu generasi, tapi setelah mereka mulai dilupakan, bekas itu pun menghilang," kata Ruth Penfold-Mounce, sosiolog di Universitas York. "David Beckham akan menghilang [dari ingatan], saya kira."

Menjadi penulis lagu terutama berisiko, karena satu alasan besar: musik cenderung ketinggalan zaman. Di antara seluruh karya musik dari seribu tahun ke belakang, hanya sedikit yang bertahan selama lebih dari satu abad, selain musik klasik.

Sulit membayangkan keturunan kita mendengarkan The Beatles di mobil terbang dan pesawat ruang angkasa mereka, dengan perkembangan genre yang begitu cepat. Lagipula, hanya sedikit orang yang mengenal melodi Santo Godri dari Finchale, seorang petapa Inggris dan orang suci terkenal di abad pertengahan, yang menulis beberapa lagu paling tua yang bertahan di Inggris pada sekitar awal abad 12.

Baca lanjutannya: Cara agar Terus Dikenang Sepanjang Zaman (2)