Artificial Intelligence, Agama, dan Tuhan Baru

Artificial Intelligence, Agama, dan Tuhan Baru

BIBLIOTIKA - Salah satu puncak prestasi manusia dalam bidang teknologi masa kini adalah kemampuan menciptakan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence). Kecerdasan buatan adalah entitas kecerdasan di luar manusia, namun memiliki kemampuan berpikir seperti manusia. Yang menakjubkan, kecerdasan buatan bahkan tidak memiliki kelemahan sebagaimana manusia seperti lelah atau lupa.

Karena latar belakang itu, kecerdasan buatan pun diprediksi bisa lebih cerdas dibanding manusia penciptanya. Karena kemampuan manusia dalam mengingat sangat terbatas, sementara kecerdasan buatan bisa mengingat segalanya. Beberapa pihak bahkan percaya lama-kelamaan akan terjadi event “Singularity”, di mana kepintaran komputer atau kecerdasan buatan akan jauh melewati manusia, dan memicu perubahan besar-besaran di masyarakat.

Mungkin lantaran itulah, seorang mantan pegawai Google, Anthony Levandowski, mendirikan sebuah agama baru yang menjadikan AI sebagai figur Tuhan.

Keberadaan agama baru bernama “Way of the Future (Jalan Masa Depan)” itu diketahui lewat sebuah dokumen pendirian organisasi yang diajukan ke pemerintah negara bagian California, Amerika Serikat.

Levandowski didaftarkan sebagai CEO dan Presiden organisasi Way of the Future. Tujuan organisasi ini adalah “mengembangkan dan mempromosikan kesadaran tentang figur Tuhan berbasis kecerdasan buatan”.

Belum diketahui apa saja kegiatan Way of the Future sejauh ini. Yang jelas, Levandowski bukan tokoh asing di dunia Artificial Intelligence. Dia terlibat dalam pengembangan AI untuk proyek mobil swa-kemudi di Google (Waymo). Setelah hengkang dari Google, Levandowski mendirikan startup truk swa-kemudi bernama Otto yang kemudian dicaplok oleh Uber.

Levandowski adalah sosok di tengah kemelut Uber dengan Google. Dia dituduh mencuri teknologi mobil swa-kemudi semasa bekerja di Google, kemudian menerapkannya di Otto dan Uber. Levandowski kemudian diberhentikan dari Uber pada Mei 2017.

Soal AI sendiri, sikap Silicon Valley terbelah dua. Sebagian pihak, termasuk Google dan Facebook, getol mendorong pengembangan AI yang dipandang bakal menjadi penopang masa depan.

Di sisi lain, sejumlah tokoh seperti Elon Musk dan Bill Gates mewanti-wanti supaya pengembangan AI dilakukan secara hati-hati dan terkontrol, supaya tak malah membahayakan manusia dengan kecerdasan yang terlalu tinggi.

Baca juga: Tren Teknologi yang Akan Mengubah Dunia