Terlahir Buta, Miskin, Putus Sekolah, tapi Jadi Miliuner

Terlahir Buta, Miskin, Putus Sekolah, tapi Jadi Miliuner

BIBLIOTIKA - Buta atau ketidakmampuan melihat tentu sebuah kekurangan, karena bagaimana pun kita butuh mata yang sehat agar bisa melihat banyak hal, termasuk membaca buku, menonton film, menyaksikan orang lain, dan menikmati dunia di sekitar kita seutuhnya. Jangankan buta hingga benar-benar tak bisa melihat, bahkan sekadar mata minus pun kadang sudah jadi masalah.

Namun, ternyata, tidak semua orang dihambat oleh kebutaan yang dialaminya. Salah satu orang yang terlahir buta namun berhasil membangun kehidupan luar biasa adalah Srikanth Bollant. Bukan hanya buta, dia juga terlahir di keluarga miskin, dan sempat putus sekolah. Meski begitu, Srikanth Bollant berhasil mendirikan perusahaan Bollant Industries, di Kota Hyderabad, India, yang memproduksi kemasan produk ramah lingkungan, yang kini bernilai Rp 98,5 miliar.

Di balik kesuksesannya tersimpan perjuangan hidup yang membuat setiap orang menahan haru. Seperti yang disebut tadi, Srikanth terlahir buta, dan dari keluarga miskin. Saat lahir, para tetangga menyarankan orangtuanya untuk membunuhnya. Mereka berpendapat itu lebih baik, daripada ia menderita seumur hidup karena terlahir buta.

Beruntung bagi Srikanth, orangtuanya tak mengindahkan omongan tetangga. Namun perjuangan Srikanth baru dimulai ketika ia mulai tumbuh. Saat mulai masuk usia sekolah, ayahnya yang seorang petani memutuskan untuk memasukkan Srikanth ke sekolah di desanya.

Namun sayang, karena keterbatasannya, ia dikucilkan di lingkungan sekolah. "Tidak ada yang mengakui keberadaanku. Aku diberi tempat di bangku paling belakang. Aku tidak bisa berpartisipasi di kelas. Saat itu aku mulai berpikir, mungkin aku anak termiskin di dunia. Namun bukan karena kekurangan uang, tapi karena kesepian," kenang Srikanth seperti dikutip dari Yourstory.

Di sekolah, ia hanya bertahan dua tahun, hingga akhirnya ayahnya memutuskan untuk memindahkan Srikanth ke sekolah berkebutuhan khusus. Di situlah ia mulai berkembang dan banyak belajar. Tak hanya unggul di berbagai mata pelajaran, Srikanth juga sangat unggul di permainan catur dan kriket.

Namun masalah kembali datang ketika ia mulai beranjak SMA. Beberapa sekolah sains menolaknya. Dewan sekolah mengatakan ia hanya bisa mempelajari pelajaran seni. "Apakah karena aku terlahir buta? Tidak, persepsi oranglah yang membuatku terlihat buta," ujar Srikanth.

Setelah ditolak berkali-kali, ia memutuskan untuk memperjuangkan haknya. "Aku menggugat pemerintah, dan berjuang selama enam bulan. Hingga pada akhirnya, pemerintah mengatakan aku bisa mengambil pelajaran sains, tetapi dengan risiko ditanggung sendiri," sambungnya.

Saat itulah Srikanth melakukan apa pun yang ia bisa, untuk membuktikan bahwa mereka salah. Ia mulai mencari buku-buku teks yang kemudian dikonversi ke dalam bentuk audio. Belajar siang dan malam untuk menyelesaikan kursus, dan berhasil memperoleh nilai hingga 98 persen dalam ujian nasional.

Kegigihannya saat masa sekolah berbuah manis. Srikanth lulus dan memperoleh beasiswa ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Ia menjadi mahasiswa buta internasional pertama yang diterima di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebuah universitas teknologi paling bergengsi di dunia.

Selepas lulus dari MIT, berbagai perusahaan besar Amerika Serikat mulai meminangnya. Tapi Srikanth memutuskan untuk kembali ke India, dan melepaskan kesempatan emas itu. Ia mulai membangun bisnisnya sendiri.

Hari ini, Srikanth telah memiliki empat pabrik produksi, masing-masing di Kota Hubli, Kota Nizamabad, dan dua lagi di Kota Hyderabad. Seorang 'angle investor' bernama Ravi Mantha, yang bertemu Srikanth sekitar dua tahun lalu, sangat terkesan dengan ketajaman bisnis dan visi Srikanth.

Ia kemudian memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan yang dibangun oleh Srikanth. Tak hanya berhenti di situ, kini Bollant Industries milik Srikanth telah mempekerjakan 150 orang karyawan, yang semuanya merupakan para disabilitas atau penyandang cacat. Luar biasa!

Baca juga: Fakta-fakta Agatha Christie, Sang Ratu Kisah Kriminal