Transplantasi Kepala dan Upaya Mengalahkan Kematian

Transplantasi Kepala dan Upaya Mengalahkan Kematian

BIBLIOTIKA - Ketika seorang manusia kehilangan satu tangan atau satu kaki, misalnya, dia masih dapat hidup. Tangan atau kaki yang hilang memang tidak lagi dapat digunakan, karena tidak lagu menyatu ke tubuh. Tetapi, bagaimana pun, orang tanpa tangan atau kaki masih dapat hidup. Begitu pula ketika kehilangan salah satu organ dalam tubuh, semisal satu ginjal. Manusia juga tetap dapat hidup meski kehilangan separuh ginjalnya.

Tetapi, manusia tidak bisa hidup jika kehilangan kepala. Buktinya, sampai saat ini, kita tidak pernah menemukan orang yang hidup tanpa kepala. Kenyataan itu secara tak langsung menjelaskan bahwa kehidupan manusia ditopang oleh kepala. Lebih khusus, ditopang oleh otak. Ketika otak mengalami masalah, bagian tubuh lainnya akan terdampak. Matinya tubuh, pada akhirnya, karena otak tak lagi berfungsi.

Kadang-kadang, ada orang yang mati, padahal tubunya masih sehat, namun otaknya mengalami kerusakan. Juga sebaliknya, ada orang yang mati karena tubuhnya sudah mengalami kerusakan, meski bagian kepala—lebih khusus otak—masih dalam kondisi baik. Apa yang sekiranya terjadi, jika kepala yang masih baik disambung dengan tubuh yang kondisinya juga masih baik?

Pertanyaan itu pula yang tampaknya menjadi bahan pemikiran Sergio Canavero, hingga ia terpikir untuk melakukan transplantasi kepala.

Nama Sergio Canavero dari Italia mulai tersohor ke seantero bumi, ketika dia menyatakan hendak melakukan transplantasi kepala manusia. Impiannya bisa jadi semakin dekat, setelah dia mengklaim telah menyelesaikan transplantasi kepala manusia yang sudah mati.

Klaim capaian sukses melakukan transplantasi kepala antara dua mayat ini dia ungkapkan dalam sebuah jumpa pers di Wina, Austria, pada Jumat (17/11), yang kemudian dipublikasikan melalui akun Facebook pribadinya. Namun, sejauh ini Canavero tidak memberikan bukti pendukung klaimnya itu.

Dia berkata telah melepaskan kepala dari satu mayat dan menempelkannya ke tubuh mayat lain. Bukan cuma itu, dalam operasi yang berlangsung selama 18 jam itu, dia mengklaim juga menyatukan tulang belakang, saraf, dan pembuluh darah.

Di sini dia berupaya merangsang saraf mayat untuk melihatnya agar "bekerja" seperti pada manusia hidup pada operasi berikutnya.

"Transplantasi kepala pertama yang pernah dilakukan pada mayat manusia," kata Canavero dalam video konferensi pers yang diunggah di Facebook.

Dalam beberapa hari ke depan, Canavero menjanjikan bakal merilis makalah ilmiah untuk menjelaskan prosedur operasi sampai dengan peralatan pendukung yang digunakan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa target selanjutnya adalah akan melakukan transplantasi kepala antara dua pasien yang mengalami 'kematian otak' sebelum kemudian mecoba melakukan aksi 'gilanya' pada pasien hidup yang mengalami kelumpuhan dari leher ke bawah.

"Tujuan utama saya bukanlah transplantasi kepala. Tujuan utama saya adalah transplantasi otak," kata Canavero dilansir dari Science Alert, menjelaskan target utamanya.

Seperti tokoh fiksi ciptaan Mary Shelley yang bernama Victor Frankenstein, dirinya bercita-cita untuk "mencurangi kematian" dengan cara ekstrim tersebut.

"Saya tertarik dengan memperpanjang hidup manusia. Memperpanjang hidup dan menembus tembok pembatas antara hidup dan mati," kata Canavero, dikutip dari Business Insider.

Sebelumnya, Canavero sempat dilibatkan oleh tim peneliti Harbin Medical University, China, untuk melakukan transplantasi kepala tikus yang dipasang ke tubuh seekor tikus lainnya. Usia tikus berkepala dua itu tak bertahan lama, karena cuma bisa hidup 36 jam setelah operasi dilakukan.

Di sisi lain, tim peneliti dari China berhasil menyelesaikan transplantasi kepala tikus tanpa ada kerusakan pada otak si tikus pendonor.

Mendapat kritik keras

Cita-cita Canavero dalam melakukan transplantasi kepala mendapat kritikan dari rekan-rekan satu bidangnya akibat prosedur operasinya yang dianggap berdasarkan pada hasil eksperimen lab yang di mata para ahli masih sangat kurang memuaskan.

"Seperti loncatan yang terlalu jauh," kata James FitzGerald, konsultan ahli bedah saraf di Universitas Oxford, saat membicarakan hasil eksperimen lab Canavero dan penggunaannya pada prosedur operasi, seperti dilansir dari Business Insider.

Kritik yang lebih keras datang dari John Pickard, profesor bedah saraf Universitas Cambridge, yang menganggap bahwa jurnal tempat Canavero mempublikasikan hasil eksperimennya memiliki reputasi yang meragukan.

"Menurut saya dia belum melakukan sains (hasil eksperimen Canavero)," kata Pickard, sebagaimana dikutip dari Business Insider.

Baca juga: Apa yang Terjadi ketika Orang Mengalami Kesurupan?