Memasuki Keheningan

Tidak ada komentar :
Memasuki Keheningan

BIBLIOTIKA - Candu masyarakat masa kini adalah candu kebisingan. Mereka adalah para pecandu bising, pecandu keramaian. Coba tengok kehidupan di lingkungan masyarakat kita. Ketika bangun dari tidur di pagi hari, suara mesin pump menderu-deru mengisi air di bak mandi. Itu terkadang berlangsung sampai berjam-jam tergantung berapa banyak yang mandi, berapa besar bak yang diisi, dan berapa banyak air yang dibutuhkan untuk mandi. Itu kebisingan yang merupakan ‘pemanasan’ bagi masyarakat kita di pagi hari.

Setelah semuanya mandi dan mesin pump berhenti berdenging, maka televisi pun disetel. Bagi masyarakat kita, sarapan pagi tanpa menonton televisi terasa kurang. Tidak lengkap, tidak nikmat. Maka kebisingan kedua pun dimulai.

Ketika matahari telah bersinar dengan cemerlang, sudah saatnya untuk pergi kuliah atau berangkat bekerja. Mereka berkendaraan di jalanan yang bukan hanya penuh polusi, namun juga penuh kebisingan. Dan di sanalah masyarakat kita memasuki kebisingan ketiga.

Setengah hari atau seharian orang-orang bekerja atau kuliah, dan selama bekerja atau kuliah itu, tidak sedetik pun mereka mengenal kesunyian atau keheningan. Semuanya dipicu dan dipacu oleh tugas, oleh waktu, oleh pekerjaan, oleh banyak hal, oleh berbagai macam kepentingan. Sekali lagi kebisingan kembali melanda diri pribadi dan kehidupan mereka.

Pulang kuliah atau pulang kerja, mereka kembali berkendaraan di jalan, dan kebisingan kembali melanda. Kebisingan seri kelima.

Sampai di rumah, sore hari, kembali suara mesin pump menderu-deru mengisi bak mandi, dan itu berlangsung sampai berjam-jam lagi karena kebutuhan air semakin meningkat, lebih banyak dibanding kebutuhan air di waktu pagi. Kebisingan lagi.

Lalu maghrib tiba. Seharusnya, waktu di antara maghrib dan isya’ adalah waktu yang wajib dikosongkan dari segala macam kebisingan karena di waktu itulah manusia mengalami pergeseran waktu dari siang kepada malam, suatu pergantian yang seharusnya dihayati oleh masing-masing pribadi untuk meresapi arti sebuah maghrib.

Tetapi apa yang dilakukan oleh masyarakat kita?

Mereka ketakutan jika tidak ada suara apa-apa di luar diri mereka. Maka televisi pun disetel. Dan jika televisi telah disetel pada malam hari, maka dia hanya akan mati ketika orang-orang telah pergi tidur. Itu pun kalau tidak lupa mematikan atau tidak kelupaan menyetel timer.

Kehidupan masyarakat kita sekarang adalah kehidupan yang bising. Kita telah memasuki sebuah budaya bernama budaya kebisingan. Setiap orang telah akrab bahkan intim dengan kebisingan. Akibatnya, mereka ketakutan jika kebisingan tidak ada. Mereka merasa ada yang kurang jika tak mendengar kebisingan. Mereka telah menjadi pecandu kebisingan yang akut. Dan puncaknya, mereka pun ketakutan ketika harus memasuki kesunyian, ketika harus berkenalan dengan keheningan.

Manusia hanya dapat berpikir jika tidak diganggu oleh hal-hal lain yang mengisi pikirannya. Dan pikiran baru akan kosong dan jernih ketika memasuki kesunyian. Dan karena kehidupan manusia sekarang sangat sulit dipisahkan dari kebisingan, maka mereka tak pernah mengenal kesunyian. Karena mereka tak pernah mengenal kesunyian, mereka pun tak pernah bisa berpikir. Karena mereka tak bisa berpikir, mereka pun hidup tanpa berpikir.

Mengapa tahajjud diutamakan pada waktu sepertiga malam yang terakhir? Karena di situlah letak kesunyian, puncak keheningan. Di situlah pikiran manusia benar-benar dapat berpikir secara jernih, secara bening, tanpa terganggu oleh hal-hal lain yang biasa menyesaki telinga dan mengotori pikirannya.

Di  dalam kesunyian seperti itulah, manusia baru akan menyadari hakikatnya sebagai manusia, ketika ia bisa berpikir dan menemukan dirinya sebagai manusia.

Keheningan adalah kata-kata paling puncak dari seluruh kata-kata yang pernah diciptakan manusia. Di dalam keheningan, semua potensi di alam semesta berkumpul. Semua kekuatan, kearifan, kecerdasan, kebijaksanaan, juga semua kelebihan, semuanya menyatu di dalam keheningan. Puncak apa pun yang ingin dicapai setiap manusia yang berakal, ada di dalam keheningan. Selalu ada perbedaan yang amat mencolok antara orang-orang yang menjadi pecandu kebisingan dan para pecandu keheningan.

Semua orang besar yang kita kagumi dan kita hormati di muka bumi, semuanya dilahirkan oleh keheningan. Rasulullah SAW memasuki keheningan sebelum menerima wahyu kenabiannya. Socrates memeluk keheningan sebelum mencapai puncak pengetahuannya.

Syekh Abdul Qadir Jailani memasuki keheningan sebelum menemukan kebesarannya. Imam Al-Ghozali menghayati keheningan sebelum menuliskan karya-karya besarnya. Albert Einstein menyetubuhi keheningan sebelum merangkai rumus-rumus agungnya. Bahkan Bill Gates pun memasuki keheningan sebelum menciptakan Windows yang kemudian mengubah budaya dan peradaban manusia.

Semua orang besar dilahirkan oleh keheningan.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar