Panduan Mengembangbiakkan Pohon Aren

Tidak ada komentar :
  Panduan Mengembangbiakkan Pohon Aren

BIBLIOTIKA - Pohon aren atau pohon enau memiliki asal usul dari wilayah tropis Asia, lalu menyebar secara alami ke India, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan lain-lain. Di Indonesia, pohon aren tumbuh liar atau ditanam, dan bisa hidup di ketinggian 1.400 m dpl. Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai.

Meskipun getahnya amat gatal, buah aren atau buah enau yang masak disukai banyak hewan. Musang luwak diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau, dan secara tak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau.

Pohon aren atau enau dapat dikembangbiakkan secara generatif, yaitu melalui bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut:

Batang pohon harus besar, dengan pelepah daun merunduk dan rimbun. Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren, yaitu Aren Genjah yang memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10-15 liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20-30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam sebagai pohon induknya.
   
Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang (tandan bunga) jantan yang keluar (9-11 mayang) menghasilkan nira. Hal itu sangat dipengaruhi oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas dijadikan pohon induk. Kemudian, pohon induk itu tidak lagi disadap niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.

Selanjutnya, tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:

Pengumpulan buah

Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang dan sehat, yang ditandai dengan kulit buah berwarna kuning kecokelatan, tidak terserang hama dan penyakit, dengan diameter buah sekitar 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar. Buah aren dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.

Pengambilan biji dari buah

Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakan sarung tangan, karena buah aren mengandung asam oksalat yang menimbulkan gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan, sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji terpisah dari daging buah. Dengan cara ini, biji dapat diambil dengan mudah, dan kulit buah aren tidak menimbulkan gatal lagi.

Perkecambahan

Benih disemai dalam tempat persemaian, dengan media campuran pasir dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir (ampelas) di bagian punggungnya, selebar kira-kira 3 mm, kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankan kelembapan yang tinggi, sekitar 80%.

Pembibitan

Setelah tanaman aren terbentuk mencapai panjang 3-5 cm, pindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas, yang dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan itu memerlukan penyiraman dan naungan, agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar