Terapi untuk Penderita Kanker Payudara (4)

Tidak ada komentar :
Terapi untuk Penderita Kanker Payudara

BIBLIOTIKA - Neutropenia bisa terjadi tanpa terdeteksi, tetapi umumnya bisa diketahui saat seorang pasien mengalami infeksi berat. Beberapa gejala umum neutropenia di antaranya demam, infeksi yang kerap terjadi, sariawan, diare, rasa terbakar saat buang air kecil, adanya pembengkakan dan/atau rasa sakit yang tidak lazim saat luka, serak di tenggorokan, napas yang tersengal-sengal, dan rasa dingin yang menggigil.

Penundaan dan pengurangan dosis dapat membuat proses kemoterapi kurang efektif. Konsultasikan dengan dokter jika merasakan gejala neutropenia, dan mintalah terapi yang tepat.

Bagaimana cara mendeteksi kemungkinan terkena neutropenia?

Neutropenia dapat dideteksi dini dengan pemeriksaan darah rutin berkala. Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan darah sebelum memulai kemoterapi, dan secara berkala sesudah kemoterapi, untuk memonitor kadar sel darah putih. Bila sel darah putih rendah, pemberian kemoterapi dapat ditunda atau dosis kemoterapi dikurangi.

Apa dampak bila dosis kemoterapi dikurangi, atau jadwal kemoterapi ditunda?

Penundaan kemoterapi atau pengurangan dosis kemoterapi dapat menyebabkan efektivitas kemoterapi berkurang. Karena itu, sebaiknya usahakan agar dosis kemoterapi jangan sampai perlu diturunkan atau jadwalnya ditunda.

Apakah neutropenia dapat dihindari?

Ya, neutropenia dapat dihindari dengan cara pemberian obat-obatan yang membantu merangsang produksi sel darah putih, yang dikenal dengan sebutan G-CSF (Granulocyte Colony Stimulating Factor). G-CSF diberikan satu hari setelah dosis kemoterapi terakhir setiap siklusnya, untuk mencegah turunnya kadar sel darah putih pasien.

Penyebaran sel kanker

Selain efek samping, pasien juga harus mewaspadai penyebaran lanjut yang mungkin terjadi. Salah satunya adalah penyebaran ke tulang atau MBD (Metastatic Bone Disease) yaitu penyebaran sel-sel kanker dari tumor melalui aliran darah hingga ke tulang.

Sekitar 70 persen dari kasus-kasus MBD pada wanita terjadi karena kanker payudara. MBD menyebabkan rasa sakit, tulang retak, penekanan pada tulang belakang, hypercalcemia (adanya kandungan kalsium yang tinggi dalam aliran darah) dan akibat-akibat klinis lainnya. Insiden rasa sakit pada tulang atau Metastatic Bone Pain (MBP) terjadi pada sekitar dua pertiga dari pasien MBD.

Bagaimana cara diagnosis MBD?

Bila dokter memperkirakan Anda menderita MBD, maka serangkaian pemeriksaan akan dianjurkan untuk dilaksanakan, di antaranya bone scan, CT scan, MRI scan, PET scan, dan biopsi.

Apakah MBD dapat diobati?

Ya, MBD dapat diobati. Penting untuk diingat bahwa MBD dapat dikendalikan, dan sebagian besar pasien dengan MBD hidup dalam kurun waktu yang lama setelah diagnosis MBD, dapat bekerja normal, bepergian, dan secara umum tetap dalam kondisi aktif.

Tips menjalani terapi

Berikut adalah beberapa tip menjalani terapi, yang bisa Anda perhatikan:

Jangan tunda terapi, lakukan segera karena Anda beradu cepat dengan penyakit.

Jalani pemeriksaan rutin berdasarkan anjuran dokter, agar Anda dan dokter dapat mengawasi status kanker dan perkembangan terapi secara lebih detail dan akurat.

Penuhi jadwal terapi sesuai ketentuan. Jangan berhenti di tengah jalan untuk hasil yang optimal.

Selalu berpikir positif. Sebelum terapi dimulai, pastikan Anda tahu apa yang akan Anda jalani. Jangan segan menanyakan ke dokter. Pastikan Anda selalu menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar