Resensi Film Fahrenheit 451, Kisah Bagus tentang Buku dan Manusia


Ada banyak peristiwa pembakaran buku yang terjadi sejak zaman dulu sampai sekarang. Ada beragam alasan pembakaran atau pemusnahan buku, dari alasan yang sifatnya personal dan subjektif, sampai alasan yang bersifat lain. Kisah pembakaran dan pemusnahan buku pernah difilmkan dengan sangat dramatis, dalam sebuah film lawas berjudul Fahrenheit 451.

Fahrenheit 451 adalah film besutan sutradara Fran├žois Truffaut. Film itu mengisahkan orang-orang yang menghafal isi buku karena buku dilarang dicetak, apalagi dibaca. Siapa pun yang ketahuan menyimpan buku akan ditangkap. Bukunya pun akan dibakar. 

Orang-orang yang mencintai buku pun rela membaca serta mengingat isinya agar informasi dan pengetahuan yang mereka dapat dari buku tidak menguap. Buku yang telah selesai dibaca tidak lupa dibakar agar mereka lolos dari tangkapan pihak berwenang.

“Di luar kelihatan gembel, di dalam ada perpustakaan,” begitu kata salah seorang "buku manusia". Hidup sebagai minoritas dan buronan, “buku manusia" harus hidup miskin di stasiun kereta, hutan, dan bukit. Tiap orang diidentifikasi sesuai judul bacaan yang dikuasainya. 

Meski begitu, “buku manusia" masih mengimani dua hal: Pertama, suatu saat mereka akan dipanggil satu per satu untuk menceritakan apa yang telah mereka pelajari, dan kedua, di masa depan, buku akan dicetak kembali.